Selasa, 30 November 2021
25.6 C
Surabaya
More
    OpiniTajukTol Trans Madura, Mampukah Menjaga Marwah Budaya Surga
    Oleh : Djoko Tetuko, Pemimpin Redaksi Wartatransparansi

    Tol Trans Madura, Mampukah Menjaga Marwah Budaya Surga

     

    Rencana percepatan pembangunan jalan tol Trans Madura, memang sangat strategis dalam memeta konsep pembangunan Jawa-Madura, setelah Jemabatan Surabaya Madura (Suramadu).

    Sekedar mengingatkan bahwa tradisi sekaligus budaya religi warga Madura, dari potret rumah keluarga dengan mushola di depan. Bahkan kadang makam salah satu keluarga terpengaruh, menunjukkan bahwa budaya religi itu begitu kuat. Bahkan tidak berlebihan menyebut sebagai Marwah (martabat) warga Madura dengan Budaya Surga.

    Bahkan, dalam bahasa pergaulan di pasaran agama warga Madura adalah NU (Nahdaltul Ulama) karena begitu kuat dan mendarahdaging sebagian besar paham soal organisasi yang didirikan para ulama dengan Rois Akbar pertama dan terakhir Hadrotus Syeck KH Hasyim Asy’ari, yaitu NU dengan berbagai kegiatan sepertu sudah hidup di surga.

    Focus Group Discassion (FGD) pada pertengahan September mendatang, bukan sekedar menampilkan narasumber dari 4 kepala daerah (Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan), tetapi jauh lebih berhak dan kompeten ialah perwakilan ulama Madura menyuarakan suara umat. Syaratnya dengan sungguh-sungguh.

    Mengapa? Jembatan Suramadu, selain mengubah perkembangan sektor ekonomi dan transfortasi, justru di luar dugaan mengikis budaya religi Madura (dari budaya santri berbaur menjadi budaya modern). Bahkan (maaf) tidak mampu mengendalikan modernisasi sebagai penguatan budaya surga.

    Dari sudut pandang kekayaan dan potensi pulau Madura, memang pembangunan tol Trans Madura sangat strategis, tetapi membentengi kemungkinan tranformasi budaya asing dan budaya modern, membutuhkan pemikiran tersendiri. Inilah pekerjaan rumah super berat dalam menjaga Marwah warga Madura dengan budaya surga.

    Inilah tanggung jawab terbesar ketika menginginkan percepatan pembangunan jalan tol Trans Madura. Menjaga tradisi dan budaya religi karena sudah mendapat stempel warga Madura adalah santri abadi. Menenun pengabdian seakan-akan sudah hidup dalam surga.

    Diketahui, Dewan Pembangunan Madura (DPM) Jawa Timur merancang diskusi besar membedah pembangunan Madura. Diskusi fokus pada perlunya pembangunan tol trans Madura.

    Ketua Dewan Pembangunan Madura (DPM) H. Achmad Zaini, menjelaskan, dua hari lalu, Selasa (3/8/2021) pengurus DPM menemui Kepala Bappeda Provinsi Jatim Mohammad Yasin. Tokoh tokoh Madura yang hadir antara lain Rektor Universitas Trunojoyo, DR Mohammad Syarif, KH Syafik Rofi’i mantan wabup Bangkalan dan dhurriyah Syaichona Kholil, intelektual Madura DR KH RPA Mujahid Anshori Sekretaris DPM Harun Al Rasyid dan perwakilan pemuda Rahman SH dan H AS Rizal SH.

    Pertemuan ini sebagai langkah penting ini karena sudah menyangkut masalah teknis. Sebelumnya, sudah dua kali pertemuan dengan Sekdaprov Jatim DR Heru Tjahjono setelah DPM diterima Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa pada 1 Juni 2021.

    Pertemuan yang diawali Haji Zaini dengan memberikan ucapan selamat atas nama tokoh Madura kepada Mohammad Yasin yang diberi amanah sebagai Kepala Bappeda Provinsi Jatim yang baru .

    Lebih jauh Haji Zaini melaporkan kepada pejabat baru tersebut bahwa pertemuan ini atas arahan dari Sekdaprov mengingat perlunya pembahasan pembangunan tol Trans Madura karena sudah menyangkut hal teknis dan strategis.

    Haji Zaini juga menjelaskan bahwa perjuangan ini juga sudah dilaporkan dan mendapatkan dukungan dari tokoh Madura se dunia dalam pertemuan yang dimotori oleh Mahfud MD, Menkopolhukam baru baru ini.

    Membangun Madura bukan sebuah kendala, karena Jembatan Suramadu sudah mengubah semuanya. Tetapi membangun jiwa dan raga warga Madura, dengan harapan kekuatan budaya religi semakin tangguh, bukan sekedar FGD. Tentu lebih dari itu. Karena menjaga Marwah budaya surga memang tidak mudah.

    Mengapa? Orang Madura se dunia pasti memilih masuk surga daripada sekedar keliling dunia, memilih berangkat haji daripada dan dzikir dan membaca shalawat bersama Nabi Muhammad Saw daripada sekedar pergi ke angkasa walau menjelajah planet lain, memilih menjaga Madura tetap surga dunia akhirat daripada sekedar memperkaya dengan asesoris termasuk jalan tol Trans Madura.

    Madura memang beda. Membangun untuk menjaga iman, imun dan aman membawa mereka menuju perjalanan surga dunia dan akhirat, adalah pilihan utama. Karenanya, percepatan pembangunan jalan tol Trans Madura, wajib hukumnya menjaga Marwah (martabat) Madura tetap sebagai wilayah dengan budaya religi paling bergengsi. Memperkuat dan tetap menjaga Madura bagian dari surga.

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber :

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan