Kamis, 13 Juni 2024
31 C
Surabaya
More
    OpiniTajukVaksin Nusantara Tamu di Rumah Sendiri

    Oleh : Djoko Tetuko, Pemimpin Redaksi Wartatransparansi

    Vaksin Nusantara Tamu di Rumah Sendiri

     

    Perkembangan vaksinasi dengan berbagai program percepatan dengan menggunakan vaksin Covid-19 impor seperti Sinovac, Astrazeneca, Moderna, ternyata mengabaikan vaksin Nusantara produk anak bangsa Indonesia sendiri.

    Ketika program vaksinisasi terus menerus secara bergelombang dengan percepatan dan mengumpulan ribuan warga target vaksin Covid-19 setiap hari. Bahkan semakin marak, vaksin Nusantara hanya sebagai penonton, hanya menjadi tamu di rumah sendiri.

    Vaksin Nusantara yang notabene hasil penelitian dan pengujian mantan Menteri Kesehatan dokter Terawan Agus Putranto, dengan harga murah dan terjangkau mengalami kendala dukungan dari Pemerintah dan BPOM untuk menjadi bagian dari vaksinasi gotong royong atau vaksinasi model apa saja di negeri ini.

    Sebagaimana siaran pers Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, Rabu (1/9/2021) meminta Kepala BPOM untuk berjiwa besar dengan mendukung Vaksin Nusantara yang merupakan karya anak bangsa.

    Baca juga :  Menjaga Marwah Bulan Besar (Dzulhijjah)

    Inilah sikap tegas Ketua DPD RI untuk segera memberikan izin vaksin Nusantara, tetapi persilatan di arena politik jauh lebih bervariasi. Sehingga mau tidak mau, jika mengganggu maka lebih baik jadi tamu walaupun di rumah sendiri.

    Kementerian Kesehatan mengatakan, vaksin Nusantara dapat diakses oleh masyarakat dalam bentuk pelayanan berbasis penelitian secara terbatas. Hal ini disampaikan Kemenkes menanggapi ramainya pemberitaan terkait vaksin Nusantara.

    Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi M.Epid pada Sabtu (28/8/2021) menyampaikan penelitian tersebut berdasarkan nota kesepahaman atau MoU antara Kementerian Kesehatan bersama dengan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), dan TNI Angkatan Darat pada April lalu. Dimana ada proyek Penelitian Berbasis Pelayanan Menggunakan Sel Dendritik untuk Meningkatkan Imunitas Terhadap Virus SARS-CoV-2.

    Baca juga :  Menjaga Marwah Bulan Besar (Dzulhijjah)

    Selain itu, dr. Nadia juga menegaskan bahwa vaksin Nusantara tidak dapat dikomersialkan lantaran autologus atau bersifat individual.

    Dimana sel dendritik bersifat autologus artinya dari materi yang digunakan dari diri kita sendiri dan untuk diri kita sendiri, sehingga tidak bisa digunakan untuk orang lain. Jadi, produknya hanya bisa dipergunakan untuk diri pasien sendiri.

    Tetapi pertanyaan besar? Apakah tidak mungkin vaksin Nusantara ditingkatkan menjadi vaksin C
    berbasis umum seperti produk impor yang sudah beredar dengan isu harganya mahal. Inilah pertanyaan dan pernyataan sederhana yang membutuhkan keterbukaan informasi publik dari pihak Pemerintah, terutama BPOM.

    Bahkan,
    Ketua DPD RI, LaNyalla
    meminta Kepala BPOM untuk berjiwa besar dengan mendukung Vaksin Nusantara dengan memberi rekomendasi untuk dapat digunakan secara massal.

    Baca juga :  Menjaga Marwah Bulan Besar (Dzulhijjah)

    Mengingat informasi dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dalam pertemuan dengan Komisi IX DPR RI, pada prinsipnya telah memberi dukungan.

    Apalagi, Terawan juga sudah menyampaikan ke Komisi IX DPR, bahwa tidak butuh dana APBN untuk melanjutkan uji ke fase berikutnya, jadi hanya tinggal goodwill pemerintah saja, khususnya BPOM.

    Bahkan dengan tegas LaNyalla meminta Kepala BPOM tidak perlu mencari-cari argumentasi yang intinya melarang dan menghambat upaya anak bangsa untuk memberi kontribusi kepada negaranya. Apalagi Menkes sudah menyatakan mendukung saat hearing di DPR.

    Pertanyaan dan pernyataan besar? Apakah politik kekuasaan atau kekuasaan berpolitik cukup dengan lip service. “Gajah di pelupuk mata tidak nampak, semut di seberang lautan nampak”. Kekuasaan adalah kekuatan “Hitam Putih”. Sementara demokrasi dan keadilan sosial adalah “Full Colour”. Beraneka warna, luwes dalam memayungi kehidupan orang banyak dengan prinsip asas manfaat.

    COPYRIGHT © 2021 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan