Selasa, 30 November 2021
25.6 C
Surabaya
More
    OpiniTajukKontemplasi KPK OTT Bupati Probolinggo, Akhlak Terbalik Balik
    Oleh : Djoko Tetuko, Pemimpin Redaksi Wartatransparansi

    Kontemplasi KPK OTT Bupati Probolinggo, Akhlak Terbalik Balik

     

    Nabi Muhammad bersabda innamaa bu’itstu li utammima makarimal akhlaq. (Tidak sekali-kali saya diutus oleh Allah (kecuali) hanya satu untuk menyempurnakan akhlak, untuk membangun akhlakul karimah, akhlak mulia.

    Walaupun Allah SWT berfirman dalam Alquran Surat Adz-Dzariyat ayat 56 “Wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun,“.( “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku,”)

    Proses mengabdi dalam beribadah atau beribadah untuk mengabdi sangat banyak, di antara mengerjakan sholat, berbuat baik, zakat, sadaqoh, amal infaq, puasa, menunaikan ibadah haji (bila mampu), dan rentetan perbuatan manusia yang baik diyakini sebagai pengabdian dan peribadatan.

    Hanya saja jika semua tidak dilandasi atau diberi pondasi Akhlakul Karimah, maka seperti buih di tengah lautan terombang ambing tanpa mampu berbuat apa-apa sedikit pun, walaupun sekedar riak riak kecil atau menjadi ombak berontak menapak menjejak juga merobek robek lautan nan begitu luas terbentang.

    Hanya mampu mengikuti dan mengikuti seperti alam di bawah sadar mengikuti nafsu dan nafsu. Apalagi kekuasaan membentang jalang.

    Sebagai sebuah kontemplasi atas terjeratnya Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari dan Hasan Aminuddin, beserta 20 tersangka dalam operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Minggu dan Senin (29 dan 30/8/2021) dengan barang bukti Rp362,5 juta dan modus operandi suap menyuap seperti budaya kenduri (selamatan), begitu kelihatan meninggalkan akhlak mulia, mengedepankan ambisi-ambisi tanpa mampu berhenti walau sudah tahu berjalan di luar kendali.

    Memainkan pelaksana tugas Kepala Desa, mensyaratkan “uang suap” rasanya aneh bin ajaib, tokoh sekaliber Hasan Aminuddin tersandung seperti pesawat menabrak mendung (awan hitam).

    Sebuah kontemplasi sekakigus peringatan bagi semua manusia bahwa siapa saja bisa tersandung mendung ketika hati sudah tertutup ubun-ubun, jiwa sudah rabun, dan mata sudah sulit diajak menata makna.

    Pengabdian dalam ibadah sudah terlanjur jungkir balik, seperti sirkus menari nari terbalik di atas tali karena daya kekuatan hipnotis. Nyata tetapi hati rasanya menangis dan menangis, tetapi terpaksa senyum meringis. Itulah sejatinya akhlak terbalik balik menukik.

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber :

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan