Kamis, 2 Desember 2021
25 C
Surabaya
More
    OpiniTajukKetika Cabai “Pedas” bagi Petani
    Oleh : Djoko Tetuko, Pemimpin Redaksi Wartatransparansi

    Ketika Cabai “Pedas” bagi Petani

     

    Tiba-tiba saja petani cabai di Kediri membagikan hasil panen cabai setelah mendapatkan kenyataan sangat pahit bahwa harga cabai hanya Rp5 ribu per kilogram. Inilah ketika petani cabai “pedas” bagi petani.

    Harga cabai ini sangat tidak seimbang bahkan sangat menghina petani, harga cabai turun anjlok sangat mencolok dibanding dengan harga cabai ketika menembus di atas Rp100 ribu bahkan di atas harga daging sapi. Tetapi petani cabai tetap saja menerima harga pembelian tidak lebih dari Rp50 ribu.

    Melihat kondisi hasil pertanian seperti bak permainan sulap “bim salabim” … harga melangit … “bim salabim” harga anjlok, petani cabai membayar sewa tanah saja tidak mampu, apalagi untuk membayar tenaga petani, karena modal saja tidak kembali.

    Sistem Ekonomi Pancasila masih dapat diharapkan menjadi satu sistem bisnis yang tepat bagi para pelaku bisnis di Indonesia saat ini, terbukti dari lahirnya para pendiri perusahaan start up yang hadir merebut pasar konsumen di Indonesia.

    Paling tidak, Sistem Ekonomi Pancasila ialah sesuai dengan sistem ekonomi gotong royong bahwa antara petani, pelaku bisnis dan masyarakat sebagai konsumen sama-sama menerima kepastian hukum dengan ketentuan menetapkan harga eceran dengan stabil.

    Stabilitas harga itu membutuhkan kehadiran negara (Pemerintah) bahwa sembilan bahan pokok dan bahan kebutuhan sewaktu-waktu, ditetapkan dengan harga terendah dan harga tertinggi dengan mempertimbangkan kesejahteraan petani, kemampuan konsumen, dan pelaku usaha atau pedagang masih mampu mendapat keuntungan. Inilah sistem ekonomi Pancasila dengan mengedepankan gotong royong untuk bersama-sama memikirkan kepentingan bersama daripada menguntungkan segelintir orang saja.

    Di Jawa Tengah, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memerintahkan agar Aparatur Sipil Negara (ASN) memborong cabai petani dan langsung ditindaklanjuti dengan memborong
    sebanyak 1,1 ton cabai, kemudian menjual dengan harga pantas, yaitu “Satu paket” berisi satu kilogram cabai keriting dan satu kilogram cabai rawit merah dijual seharga Rp20 ribu.

    Asisten ekonomi dan pembangunan (Asekbang) Setda Provinsi Jateng, Peni Rahayu mengatakan, usai mendapat perintah dari Ganjar, pihaknya langsung bergerak. Hari itu juga, pihaknya langsung melakukan pembelian cabai. Bahkan
    Kamis (26/8/2031) langsung membeli 810 kilogram cabai dan menyatakan terus membeli. Sebagaimana siaran pers. Sabtu (28/8/2021).

    Hari ini saja, lanjut Peni, pembelian cabai dari petani kembali dilakukan. Sebanyak 300 kilogram cabai kembali dibeli. Sehingga total sampai hari ini, sudah ada sekitar 1.1 ton cabai yang telah dibeli dari petani.

    Selain ASN di lingkungan Provinsi Jateng, Peni juga mengatakan aksi borong cabai dari petani juga akan dilakukan oleh ASN di daerah. Menurutnya, Penjabat (Pj) Sekda Jateng sudah mengeluarkan surat imbauan kepada bupati/wali kota terkait hal itu.

    Gerakan ASN memborong cabai di Jawa Tengah, memang mampu mengamankan “sikap frustrasi” petani cabai, juga menjembatani agar petani tidak sampai mengalami kerugian akibat permainan harga.

    Tetapi jauh lebih dari berdayaguna bahkan sangat bermartabat sebagai kebijakan Pemerintah agar segera menetapkan harga sembilan bahan pokok dan kebutuhan pokok sehari-hari, termasuk cabai dengan kisaran harga pantas, dengan menentukan harga eceran terendah dan tertinggi, sehingga petani, pedagang, dan publik (masyarakat) sama-sama memperoleh manfaat.

    Bermanfaat bagi petani, pengusaha/pedagang dan publik ialah bahwa ketika semua pihak merasa sejahtera dan tidak memberatkan dalam pandangan secara umum. Juga saling tolong menolong dalam berbagai permasalahan. Sshingga tidak tiba-tiba pedas bagi publik, juga tidak tiba-tiba pedas bagi petani.

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber :

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan