Minggu, 19 September 2021
25 C
Surabaya
More
    OpiniTajukPandemi Covid-19 Marah dan Parah, Umat Bacakan Doa Shalawat Burdah
    Oleh : Djoko Tetuko, Pemimpin Redaksi Wartatransparansi

    Pandemi Covid-19 Marah dan Parah, Umat Bacakan Doa Shalawat Burdah

     

    Masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) semakin marah bahkan tambah parah, kini umat mulai melawan dengan bebagai ikhtiar peninggalan para ulama zaman dulu.

    Sebagaimana diberitakan WartaTransparsni.com, Selasa (27/7/2021), warga Kompleks Perumahan Stasiun Bangil, di lingkungan RT 03 RW 03 Kelurahan Pogar Kecamatan Bangil, ratusan warga menggelar doa membaca shalawat burdah.

    Ki Senggak, Ketua RT 03 Kelurahan Pogar mengatakan bahwa kegiatan itu merupakan salah satu upaya melepaskan atau memutus kata rantai Covid-19, yang sudah berlangsung selama 1 tahun lebih.

    Ki Senggak yang juga berprofesi sebagai dalang juga melakukan ikhtiar dengan menyemprot probiotik seluruh wilayah kampung juga memasang spanduk masuk kampung wajib pakai masker.

    Pada masa pandemi Covid-19 sudah mencapai puncak tertinggi, bahkan sulit membedakan antara wabah murni dengan wabah karena adab. Kini masyarakat semakin sadar untuk mengetuk pintu langit, memohon kepada Sang Maha Kuasa seluruh jagad raya ini. Allah Subhanahu wa ta’ala

    Salah satu doa paling berkhasiat ialah membaca doa shalawat burdah. Dalam berbagai model dengan kegiatan dengan bebagai model sajian makanan sebagai syarat selamatan.

    Dari 160 bait syair shalawat burdah diantaranya;

    “Ya Tuhanku, limpahkanlah selalu shalawat dan salam atas kekasihMu yang terbaik di antara seluruh makhluk”

    Muhammad pemimpin alam dunia dan akhirat manusia dan jin serta dua golongan, bangsa Arab maupun non ajami (non Arab)”.

    “Dialah kekasih yang diharapkan syafaatnya untuk menghadapi setiap peristiwa dahsyat yang menimpa umat manusia”.

    Bacaan shalawat burdah paling populer, artinya;

    Ya Tuhanku dengan berkah al-Mustofa (Nabi Pilihan), sampaikanlah semua keinginan kami dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lampau, ya Tuhan Yang Maha Luas kemurahan-Nya”.

    Mengapa bacaan shalawat burdah dipercaya juga diyakini sebagai doa pada masa pandemi, sekaligus obat berkhasiat.

    Baca juga :  Berharap Pejabat Eselon II Jatim Membangun “Collective Intelligence”

    Dikisahkan bahwa penulis karya shalawat burdah
    Al-Bushiri menderita sakit lumpuh dan tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Lalu dibuatnya syair-syair yang berisi pujian kepada Nabi, dengan maksud memohon syafa’atnya.

    Setelah 160 bait syair selesai, di dalam tidurnya, Al Bushiri mimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. Nabi mengusap wajah Al-Bushiri, kemudian Rasulullah melepaskan jubahnya dan mengenakannya ke tubuh Al-Bushiri.

    Tidak ada keajaiban kecuali milik Allah. Subhanallah pada saat Al-Bushiri bangun dari mimpinya, seketika itu juga sembuh dari lumpuhnya.

    Al-Bushiri adalah seorang yang menjalani kehidupan sebagaimana layaknya para sufi, yang tercermin dalam kezuhudannya, ketekunannya beribadah, serta ketidaksukaannya pada kemewahan dan kemegahan duniawi. Di kalangan para sufi, dia termasuk dalam jajaran sufi besar. Sayyid Mahmud Faidh Al-Manufi menulis di dalam bukunya, Jawharat al-Awliya’, bahwa Al-Bushiri tetap konsisten dalam hidupnya sebagai seorang sufi sampai akhir hayatnya.

    Qashidah Burdah (baca, shalawat burdah) adalah salah satu karya paling populer dalam khazanah sastra Islam. Isinya sajak sajak pujian kepada Nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, dan semangat perjuangan. Hingga kini Burdah masih sering dibacakan di berbagai pesantren salaf dan pada peringatan Maulid Nabi. Banyak pula yang menghafalnya. Karya itu telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti Persia, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Pastum, Indonesia/Melayu, Inggris, Prancis, Jerman, Italia.

    Pengarang qashidah Burdah, Al-Bushiri hidup pada masa (610-695H/1213-1296 M). Nama lengkapnya Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid Al-Bushiri.
    Selain menulis Burdah, Al-Bushiri juga menulis beberapa qashidah lain. Di antaranya Al-Qashidah Al-Mudhariyah dan Al-Qashidah Al-Hamziyah.

    Al-Bushiri adalah keturunan Berber yang lahir di Dallas, Maroko, dan dibesarkan di Bushir, Mesir. Dia murid sufi besar Imam Asy-Syadzili dan penerusnya yang bernama Abul Abbas Al-Mursi, tokoh Tarekat Syadziliyah. Di bidang fiqih, Al-Bushiri menganut Madzhab Syafi‘i, madzhab fiqih mayoritas di Mesir.

    Baca juga :  Hebat Bermartabat Kota Pahlawan Zona Kuning dan Level1

    Pada masa kecilnya, dia dididik oleh ayahnya sendiri dalam mempelajari Al-Quran, di samping berbagai ilmu pengetahuan lainnya. Kemudian belajar kepada ulama-ulama di zamannya. Untuk memperdalam ilmu agama dan kesusastraan Arab, dia pindah ke Kairo. Di sana menjadi seorang sastrawan dan penyair yang andal. Kemahirannya di bidang syair melebihi para penyair pada zamannya. Karya-karya kaligrafinya juga terkenal indah.

    Di dalam qashidah Burdah diuraikan beberapa segi kehidupan Nabi Muhammad SAW, pujian terhadap dia, cinta kasih, doa-doa, pujian terhadap Al-Quran, Isra Mi’raj, jihad, tawasul, dan sebagainya. Dengan memaparkan kehidupan Nabi secara puitis, Al-Bushiri tidak saja telah menanamkan kecintaan umat Islam kepada nabinya, tetapi juga mengajarkan sastra, sejarah Islam, dan nilai-nilai moral, kepada kaum muslimin.

    Oleh karena itu, tidak mengherankan jika qashidah Burdah senantiasa dibacakan di pesantren-pesantren salaf.

    Al-Burdah, menurut etimologi, banyak mengandung arti, antara lain baju (jubah) kebesaran khalifah yang menjadi salah satu atribut khalifah. Dengan atribut burdah ini, seorang khalifah bisa dibedakan dengan pejabat negara lainnya, teman-teman, dan masyarakat pada umumnya. Burdah juga merupakan nama qashidah yang digubah oleh Ka‘ab bin Zuhair bin Abi Salma yang dipersembahkan kepada Rasulullah SAW.

    Al-Bushiri setelah wafat dimakamkan di Iskandaria, Mesir, sampai sekarang masih diziarahi orang. Makam itu berdampingan dengan makam gurunya, Abul Abbas Al-Mursi.

    Memuji Nabi Muhammad bukanlah menganggap dia sebagai Tuhan.. Menyanjung Rasulullah adalah mengakui Muhammad SAW sebagai manusia pilihan. “Kami tidak mengutus engkau (hai Muhammad) kecuali (sebagai) rahmat bagi alam semesta (wa ma arsalnaka illa rahmatan lil’alamin).”

    Baca juga :  Waspadalah! Covid-19 Varian Baru Mengincar

    Dalam sebuah hadits disebutkan, “Didiklah anak-anakmu dalam tiga tahap. Mencintai Nabi, keluarganya, dan membaca Al-Quran.”

    Perwujudan mencintai kekasih, apalagi dia itu adalah kekasih Tuhan, Al-Quran mengajarkan dan menganjurkan kepada umat Islam, sebagaimana tertera dalam Kitabullah, “Sungguh Allah dan para malaikat bershalawat atas Nabi. Hai orang beriman, bershalawatlah atasnya dan berilah salam kepadanya dengan sehormat-hormatnya salam.” (QS 33: 56).

    Shalawat, jika datangnya dari Allah kepada nabi-Nya, bermakna rahmat dan keridhaan. Jika dari para malaikat, berarti permohonan ampun. Dan bila dari umatnya, bermakna sanjungan dan pengharapan, agar rahmat dan keridhaan Tuhan.

    Dalam surat yang lain Allah memuji hamba-Nya yang satu ini dengan, “Sungguh engkau (hai Nabi) benar-benar dalam budi dan perangai yang tinggi.” Allah tak pernah memanggil namanya langsung, seperti “hai Muhammad”, melainkan “hai Nabi”, “hai Rasul”, “hai pria yang berselimut”. Di samping itu bukankah Baginda sendiri yang menganjurkan kita untuk menghaturkan sanjungan (madah) terhadap diri dia? Seorang nabi yang telah digambarkan oleh Al-Quran sebagai “pencurah rahmat bagi seluruh alam semesta”. Seperti diharapkan dia dalam banyak hadits agar kaumnya banyak menyebut namanya.

    “Sebutlah selalu namaku, sungguh shalawatmu itu sampai kepadaku,” sabdanya. Bahkan dianjurkan agar umat Islam banyak-banyak menyebut namanya di malam Jum’at. Seperti dalam riwayat lain, sungguh menyebut nama Muhammad SAW akan dijawab (dengan pahala) berlipat-lipat. Subhanallah…

    InsyaAllah ikhtiar warga Pogar Bangil adalah ikhtiar dari jutaan umat dari kampung ke kampung di bumi pertiwi untuk bertobat dan memohon doa dibebaskan dari Covid-19 dengan membaca shalawat burdah.

    Membaca shalawat burdah adalah memuji dan memanggil Nabi Muhammad SAW, sebagai penyambung doa sekaligus memohonkan kepada Allah SWT. InsyaAllah seluruh ikhtiar membawa barokah dan wabah segera sirna.



    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber :

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan