Opini  

Ada Cinta Hajar di Balik Ibadah Kurban (1)

Ada Cinta Hajar di Balik Ibadah Kurban (1)
Anwar Hudijono

Ibrahim mencintai Allah.
Maka rela menyerahkan Hajar dan anaknya kepada Allah.
Bukan kejam dan tak berperikemanusiaan.
Hajar mencintai Allah.
Maka rela ditinggal bersama anaknya oleh Ibrahim.
Bukan terpaksa dan tak berdaya.
Hajar mencintai Allah
Maka rela memasrahkan bayi Ismail kepada Allah
Allah mencintai mereka
Maka menjadikan mereka termasuk golongan shalihin

Cinta Hajar kepada Allah diabadikan dalam bangunan berbentuk cekungan di samping Ka’bah. Disebut Hajar Ismail. Cekungan itu melambangkan relung samudera hati yang paling dalam tanpa tepi.

Bangunan itu tidak menyatu dengan Ka’bah karena kemanunggalan cinta itu bukan arti fisik. Allah mustahil menyatu secara fisik dengan manusia karena Allah bukan mahluk dan Allah berbeda dengan mahluk untuk semua hal (muhalalfatu lil hawadis). Wahdatul wujud itu manunggalnya cinta.

Di antara Hajar Ismail dengan Ka’bah itu ada ruangan . Di situlah gelombang ekektronagnetik yang menyatukan. Yang tidak kelihatan itu sebenarnya ada. Cahaya Allah menyinari hari orang-orang yang beriman. Cahaya itu mesti tidak kelihatan tapi wujud.

Bacalah Quran Surah Kahfi pada hari Jumat, maka Allah akan bentangkan cahaya dari ujung kakimu sampai ke Ka’bah kemudian naik ke langit. Cahaya itu hanya bagi mereka yang meyakini.

Siapa yang mencintai Allah secara kaffah? Hajar
Apa saksi kecintaannya? Rela berkorban segalanya, termasuk nyawa sendiri.
Siapa yang dibalas cintanya oleh Allah? Hajar
Hajar siapa? Hajarnya Ismail. Ibundanya Ismail.
(Bukan Hajar anak Firaun atau Hajar budak kulit hitam yang jadi bahan polemik kalangan ahli sejarah. Polemik itu tidak relevan. Tapi memang manusia suka berbantah-bantah, dan suka sensasi. Allah tidak menentukan derajat manusia dari keturunan, ras, status sosial, suku, kebangsaan dsb. Tapi berdasar takwanya).

“Sungguh yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (Quran: Al Hujurat 13).

Dan Allah sudah menentukan Hajar adalah manusia mulia. Dr Ali Shariati mengatakan, hanya Hajar yang jazadnya boleh dimakamkan di samping Ka’bah.

Demi cintanya kepada Allah, maka Ibrahim – Hajar – Ismail sepakat menyerahkan nyawa Ismalil sebagai syahid (saksi) kepada Allah.
Kapan? 10 Dzulhijah
Di mana? Mina

“Rabbi habli minas-shalihin (Ya Tuhan anugrahkan kepadaku (anak) yang termasuk orang yang saleh). (Quran: As-shaffat 100).

Rabbi a’lam (Tuhan lebih dan paling mengetahui)

Catatan penting: Jangan langsung like and share tulisan ini. Telitilah. Ini jaman disinformasi. Tidak jelas mana hoax mana info benar. Mana asli mana palsu. Monggo ngaji Quran surah Al Hujurat ayat 6. Peringatan Allah sangat jelas. (*)

Anwar Hudijono, penulis tinggal di Sidoarjo. Dari berbagai sumber.