Selasa, 3 Agustus 2021
29 C
Surabaya
More
    OpiniTajukKerinduan Masyarakat dengan Harmoko

    Kerinduan Masyarakat dengan Harmoko

    Oleh : Djoko Tetuko, Pemimpin Redaksi Wartatransparansi

     

    Tokoh pers nasional dengan kepiawian di dunia jurnalistik hingga dunia politik, begitu santun dalam mengantar berbagai program kebangsaan, baik sebagai wakil pemerintah maupun merangkul kalangan wartawan, kini telah pergi selamanya.

    H. Harmoko berpulang ke rahmatullah atau wafat setelah mendapat perawatan di RSPAD Gatot Subroto,
    Minggu (4/7/2021) jenazah almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Senin (5/7/2021).

    Harmoko mantan Menteri Penerangan RI di era Orde Baru, mantan Ketua MPR di era Orde Baru, hingga mengantar peralihan ke era Reformasi, mantan Ketua Umum Golkar, dan mantan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), mantan wartawan juga kartunis sangat cerdas dan cemerlang hingga mencapai prestasi tertinggi di dunia jurnalistik.

    Harmoko menjadi buah bibir dan selalu menjadi kerinduan masyarakat se nusantara, ketika harga bahan kebutuhan pokok tiba-tiba naik turun, seperti “naik turun” kereta api kelas ekonomi, kereta listrik atau Trans Jakarta, sebentar berhenti sebentar naik sebentar turun.

    Ketika harga lombok/cabe naik di atas harga daging sapi, bahkan tiga kali lipat harga daging ayam, bahkan berlipat-lipat harga dari ikan tawar di pasaran seperti Lele dan ikan populer lain dengan harga sangat terjangkau. Maka menerawangan masyarakat jauh ke belakang, ingat jaminan hukum Harmoko kepada rakyat dalam memberikan kepastian harga bahan kebutuhan pokok.

    Baca juga :  Semangat Kibarkan Merah Putih, Semangat Kalahkan Covid-19

    Kerinduan masyarakat dengan Harmoko, itu karena ingatan masyarakat setelah berita nusantra di TVRI pukul 19:00 tahun 70-80 an, maka Harmoko menjadi wakil pemerintah hadir menjadi penenteram hati masyarakat, menyampaikan informasi dari pemerintah tentang harga kebutuhan pokok, beras, bawang merah, bawang putih, lombok/cabe, sayur mayur, dan berbagai kebutuhan pokok masyarakat, harga dan perkembangan tentang pangan mendapat jaminan hukum.

    Sekilas tentang Harmoko sebagaimana dilansir dari Wikipedia pada permulaan tahun 1960-an, setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas, Harmoko muda bekerja sebagai wartawan dan juga kartunis di Harian Merdeka dan Majalah Merdeka.

    Pada tahun 1964, Harmoko bekerja juga sebagai wartawan di Harian Angkatan Bersenjata, dan kemudian Harian API pada 1965. Pada saat yang sama, ia menjabat pula sebagai pemimpin redaksi majalah berbahasa Jawa, Merdiko (1965).

    Baca juga :  Merah Putih Berkibar, Indonesia Raya Bergetar, di Olimpiade Tokyo

    Pada tahun berikutnya (1966-1968), Harmoko menjabat sebagai pemimpin dan penanggung jawab Harian Mimbar Kita. Pada tahun 1970, bersama beberapa temannya, menerbitkan harian Pos Kota.

    Sebagai menteri Penerangan, Harmoko mencetuskan gerakan Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pirsawan) yang dimaksudkan sebagai alat untuk menyebarkan informasi dari pemerintah. Harmoko pun dinilai berhasil mempengaruhi hasil pemilihan umum (Pemilu) melalui apa yang disebut sebagai “Safari Ramadhan”. Sebagai Ketua Umum DPP Golkar, Harmoko dikenal pula sebagai pencetus istilah “Temu Kader”. Terakhir, menjabat sebagai Ketua DPR/MPR periode 1997-1999 yang mengangkat Soeharto selaku presiden untuk masa jabatannya yang ke-7. Namun kemudian Harmoko pula memintanya turun ketika gerakan rakyat dan mahasiswa yang menuntut reformasi.

    Sebuah kenangan ketika HPN dan Porwanas di Surabaya, Harmoko begitu piawai sebagai tokoh pers dengan meyakinkan pemerintah dan masyarakat, bahwa pers menjadi kebutuhan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Meresmikan THR Surabaya Mall, juga melakukan safari jurnalistik dan sentuhan profesional dunia kewartawan lainnya.

    Baca juga :  Ketua Golkar Jatim “Menggugat”

    Sikap media ini menyatakan kerinduan masyarakat terhadap Harmoko, karena sosok tokoh pers dari Patianrowo, Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur, begitu sejuk di hati masyarakat.

    Media ini memang tidak menulis “Selamat Jalan Harmoko” karena kekayaan ide dan kenakalan dalam karyan jurnalistik Harmoko masih selalu menyapa dalam berbagai kehidupan berbangsa dan bernegara. Paling tidak dalam bahasa Surabaya (plesetan, gurauan) nama Harmoko masih menyegarkan masyarakat apalagi menghadapi tekanan pada masa pandemi Covid-19.

    Harmoko (dalam plesetan) dilafalkan “Hari-Hari Omong Kosong”. Tetapi itulah kehidupan selanjutnya berbangsa, bernegara, dan beragama ternyata banyak diwarnai “Hari-hari Omong Kosong”. Renungkanlah!

    Bahkan, pada era digital setiap detak jantung dan setiap detik informasi diwarnai “Hari-hari Omong Kosong”. Dengan pergelaran berita dan informasi hoaxs.

    Harmoko sendiri masih menjadi kerinduan amat mendalam masyarakat dengan pengumuman harga bahan kebutuhan pokok pada era Orde Baru. Juga ketenangan dalam menyikapi berbagai permasalahan kebangsaan. Itulah Harmoko selamanya dalam kenangan wartawan.

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber :

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Editor's Choice

    Jangan Lewatkan