Senin, 21 Juni 2021
27 C
Surabaya
More
    Renungan PagiNilai-Nilai Kebijaksanaan Jawa dalam Berpuasa

    Nilai-Nilai Kebijaksanaan Jawa dalam Berpuasa

    Kajian Ramadhan, Diasuh Univ. Darul Ulum Jombang (21)

    Oleh : Dr. Bakhrudin All Habsy, MPd

    Manusia memiliki dua predikat utama sebagai abdulloh (hamba Allah) dan sebagai khalifatullah (wakil Allah) di muka bumi.

    Sebagai abdulloh menunjukkan kelemahan dan  keterbatasan sehingga berpotensi mempunyai problematika kehidupan. Sebagai khalifatullah menunjukkan kebesaran manusia dalam menjalani kehidupan di muka bumi.

    Kedua predikat yang melekat menunjukkan bahwa siapapun manusia adalah seorang makhluk bukan Tuhan yang mempunyai sikap berkuasa, menuduh, menilai, mengancam, mengatur, memaksa atau menguasai orang lain.

    Pemahaman makna Agama adalah akhlak, perilaku, sikap yang mengajarkan pada kebijaksanaan, kesantunan, belas kasih dan cinta kasih pada sesama. Ukuran keidealan manusia sesungguhnya bukan hanya dari kesalehan personalnya, melainkan juga kesalehan sosialnya.

    Karakteristik manusia ideal adalah manusia yang bijaksana dalam merespon perilaku secara tepat dan sesuai, baik dari sisi kuantitas, kualitas, relasi, situasi maupun kondisinya. Kebijaksanaan juga sering dinyatakan sebagai tahapan lebih lanjut dari kebenaran dan kebaikan.

    Namun pada masa kini kebenaran dan kebaikan kehilangan nilainya ketika jalan mewujudkannya melupakan nilai-nilai kebijaksanaan.

    Salah satu bentuk kebijaksanaan adalah memberikan bantuan pada sesama yang membutuhkan, namun kalau diri sendiri juga sedang perlu dibantu, maka memaksa membantu orang lain itu tidak bijaksana. Nraktir teman itu mulia, tetapi nraktir sate kambing 10 porsi untuk teman yang tensi-nya sedang naik, itu tidak bijaksana.

    Nilai-nilai Mutiara bijak Jawa memberikan pemahaman tentang maknabener dan penerBener  dapat diartikan sebagai hal yang seharusnya dipegangi dan bernilai tepat serta ideal.

    Sedangkan pener adalah kesesuaian kebenaran ketika bertemu dengan situasi sosial-budaya-psikologi-ekonomi tertentu. Pener  dalam paradigma manusia Jawa dapat dikatakan mewakili ranah kebijaksanaan.

    Puasa sebagai kewajiban agama dengan  sangat banyak manfaat-maslahat kemanusiaan adalah bener; namun bagi orang tertentu dengan penyakit tertentu yang membahayakan nyawanya kalau berpuasa, tidak puasa itu “pener”, dan memaksa diri berpuasa berarti “ora pener” (tidak benar).

    Dalam contoh ini bukan berarti “kebenaran” puasa itu berubah menjadi salah, namun situasi tertentu membuat kebenaran puasa menjadi tidak relevan kalau dijalankan. Diantara kualifikasi ideal manusia yang indah untuk dikatakan namun tidak sederhana untuk dilaksanakan adalah menjadi “bijaksana”. Bagi peminat kajian filsafat, pasti telah familiar dengan kata “bijaksana”.

    Hadirnya dimensi kebijaksanaan dalam kehidupan manusia hakikatnya merupakan sebentuk “rem” agar seseorang tidak kemrungsung, sekadar mengejar dan memperjuangkan kebenaran atau kebaikan yang diyakini, namun juga mempertimbangkan segala situasi, kondisi dan kemungkinan, sebelum kebenaran itu dihidupkan sesuai yang diinginkan.

    Sayang kepada anak itu fitrah, namun menuruti apa saja permintaan anak adalah ketidakbijaksanaan yang justru akan membuat kebenaran kasih-sayang itu berbuah kerusakan pada diri anak.

    Rajin shalat berjamaah ke masjid adalah kebenaran-kebaikan, namun memaksa untuk shalat  ke masjid di masa wabah penyakit menular yang  merajalela adalah ketidakbijaksanaan yang mungkin saja akan membuat kebenaran-kebaikan shalat berjamaah itu justru berbuah sakit dan kemalangan. Lenyapnya kebijaksanaan dapat membuahkan runtuhnya nilai kebenaran dan kebaikan itu sendiri.

    Secara fitri manusia memang memiliki kecenderungan untuk hidup dalam kebenaran dan kebaikan. Itulah mengapa secara alami seseorang akan membela diri atau cepat-cepat ingin mengubah diri saat sadar bahwa dirinya sedang menjalani sesuatu yang salah atau tidak baik.

    Kecenderungan kepada kebenaran dan kebaikan ini ketika bergabung dengan watak-watak negatif manusia seperti ingin selalu unggul, tamak dan tidak hati-hati, seringkali justru melahirkan perilaku-perilaku tidak bijaksana, dan membawa kepada kesulitan-kesulitan hidup.

    Ketika manusia menemukan sesuatu sebagai kebenaran, biasanya ia akan begitu wow dengan capaiannya itu, kemudian berupaya menghidupkannya dengan bersemangat untuk mewarnai hidupnya, bahkan tak jarang kemudian menganggap bahwa kebenaran itulah solusi terhadap segala macam persoalan hidup yang dihadapinya.

    Ia melupakan batas, prasyarat, dan kondisi yang sesuai bagi kebenaran yang dimilikinya itu. Ia lupa segala kebenaran-kebaikan yang bersentuhan dengan dunia manusia yang begitu kompleks dan dinamis selalu harus siap diberi label “syarat dan ketentuan berlaku”. Akan selalu ada pengecualian-pengecualian dan situasi-situasi tertentu di mana kebenaran atau kebaikan tersebut tidak bisa serta-merta dijalankan. Di titik inilah kebenaran-kebaikan memerlukan hadirnya kebijaksanaan.

    Allah Sang Maha Bijaksana telah dengan sangat indah mencontohkan bagaimana bersikap bijaksana. Shalat itu wajib berdiri, namun bagi yang tidak kuasa berdiri, diperbolehkan duduk, berbaring, bahkan dengan isyarat saja.

    Puasa itu wajib di bulan Ramadan, namun bagi orang-orang dengan kondisi tertentu, seperti sakit, hamil atau menyusui, sehingga bisa tidak puasa dan diganti hari lain atau diganti dengan fidyah. Zakat dan Haji hanya diperuntukkan bagi  mereka yang mampu.

    Bahkan dalam ushul Fiqih ada kaidah al-dharuratu tubihu al-mahdhurat “dalam situasi darurat, yang semula dilarang bisa diperbolehkan”. Artinya, semua ini hakikatnya adalah prinsip-prinsip kebijaksanaan. Salah satu untaian mutiara bijak Jawa yang menarik untuk dikaitkan dengan kebijaksanaan ini adalah “ngono yo ngono, ning ojo ngono”.

    Makna harafiah dari untaian mutiara bijak Jawa ini adalah “Begitu ya begitu, tetapi jangan begitu”.

    Ngono yo ngono, ning ojo ngono mengandung makna yang unik, namun luas dan mendalam. Di dalamnya ada pelajaran tentang batas,  ketidakberlebihan, penerimaan terhadap standar dan khususnya juga kebijaksanaan.

    Untaian mutiara bijak Jawa tersebut menyuruh kita untuk tidak “mentang-mentang”. Meskipun sedang menghidupkan atau menjalankan kebenaran dan kebaikan, jangan soksokan. Sebab, selalu ada batas dan ukuran untuk segala sesuatu

    Bahwa membaca buku itu baik, bukan berarti baik kalau sepanjang waktu kita habiskan untuk membaca buku saja. Membantu orang itu baik, tetapi nilai kebaikannya dapat dipertanyakan kalau bantuan itu dilakukan dengan mengorbankan diri sendiri sehingga akhirnya yang membantu berbalik menjadi yang perlu dibantu.

    Sayang kepada seseorang itu baik, tetapi jangan dengan alasan menyayangi seseorang kemudian kita membenci atau tidak peduli kepada yang lainnya. Kebenaran dan kebaikan dapat kehilangan nilai benar dan baiknya ketika dijalankan secara tidak bijaksana, di luar porsi dan proporsinya.

    Dalam konteks puasa,untaian Mutiara bijak Ngono yo ngono, ning ojo ngono ini dapat berbentuk banyak hal, misalnya jangan mentang mentang puasa, kemudian merasa paling shaleh dan mulia, merendahkan yang lain yang tidak menjalankan  puasa.

    Jangan mentang-mentang puasa,  dengan menahan diri di siang hari, kemudian merasa berhak mengumbar hasrat makan minum tak terkendali di malam hari. Jangan mentang-mentang puasa kemudian merasa layak untuk bermalasan dari shubuh hingga magrib tiba.

    Jangan mentang-mentang merasa puasa kemudian  minta harus diistimewakan dengan segala fasilitas yang memanjakan, apapun bentuknya, baik di  itu kantor maupun di rumah. Wallahu a’lam  bish shawabi. (*)

    *) Penulis adalah dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Univ. Darul’Ulum, Jombang

    *) [email protected]

    Reporter :
    Penulis : Dr. Bakhrudin All Habsy, MPd
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    1 KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan

    Untukmu Para Istri…

    Wahai Para Istri…

    Rahasia Kebahagiaan

    Amanah