Senin, 21 Juni 2021
32 C
Surabaya
More
    Renungan PagiModal Ketemu GustiAllah

    Modal Ketemu GustiAllah

    Kajian Ramadhan, Diasuh Universitas Darul'Ulum (UNDAR) Jombang (13)

    Gus Mudjib Mustain. Dr. SH. M.Si

    Sejak sebelum manusia lahir, Allah SWT telah menggariskan takdir yang akan menentukan hidup seseorang di dunia. Tidak ada satu hal pun yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi kecuali telah tercatat dalam lauhul mahfudz.

    Ketika manusia sudah berada di dunia maka tidak akan pernah bisa berpikir lagi, karena tidak akan pernah menemukan jawaban bagaimana sebenarnya dia terpilih dilahirkan dan berada di bumi ini?

    Sebelum dilahirkan dia juga tidak bisa memilih lahir dari ibu siapa, bapak siapa?
    Ini adalah bagian dari kekuasaan Allah SWT. Oleh sebab itu, memercayai takdir merupakan salah satu rukun iman dalam Islam.

    Takdir
    Takdir merupakan hukum sebab akibat yang berlaku secara pasti sesuai dengan ketentuan Allah SWT, yang baik maupun yang buruk. Keberadaan takdir bukan berarti menghilangkan ihtiar manusia untuk dapat mengusahakan sesuatu yang baik bagi dirinya.

    Ihtiar merupakan kebebasan atau kemerdekaan manusia dalam memilih serta menentukan perbuatannya. Salah satu ayat yang mencerminkan kemampuan ihtiar manusia.

    Artinya:
    “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya” (Al Baqarah:286).

    Dalam bahasa Arab, takdir disebut qadara atau yuqaddiru atau taqdir. Arti harfiahnya adalah ukuran, ketentuan, kemampuan, dan kepastian. Sedangkan ikhtiar dalam bahasa Arab adalah ikhtara atau yakhtaru atau ikhtiyar yang berarti memilih.

    Kata ini seakar dengan kata khayr yang berarti baik. Ikhtiar dapat pula diartikan memilih yang lebih baik di antara yang ada. Apakah takdir seseorang bisa berubah selalu bahagia, baik-baik saja? Ringkasnya,takdir dalam Islam ada dua macam, yaitu takdir mubram dan takdir muallaq.

    Takdir Mubram
    Takdir mubram adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari karena sudah pasti. Takdir mubram merupakan ketentuan mutlak dari Allah SWT yang pasti terjadi dan manusia tidak diberi peran untuk mewujudkannya. Misalnya, kelahiran, kematian manusia, jodoh dan hari kiamat. Soal takdir mubram tentang kematian seseorang mislanya, tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan, di mana dan bagaimana manusia akan mati?

    Artinya:
    Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, “Ini dari sisi Allah,” dan jika mereka ditimpa suatu keburukan, mereka mengatakan, “Ini dari engkau (Muhammad).”

    Katakanlah, “Semuanya (datang) dari sisi Allah.” Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (sedikit pun)?” (QS. An Nisa;78).
    Tentang hari kiamat:

    Artinya:
    Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”(QS. Al A’raf:187)
    Takdir mubram tidak dapat dihindari tapi dengan doa dipercaya dapat meminimalisir dampak musibah atau bala. Allah mendatangkan kelembutan-Nya untuk mereka yang berdoa.

    Misalnya, ketika Allah menentukan qadha mubram kecelakaan berupa tertimpa batu besar, ketika seseorang berdoa kepada Allah, maka kelembutan Allah datang kepadanya. Batu besar yang jatuh menimpanya menjadi remuk berkeping-keping sehingga dirasakan olehnya sebagai butiran pasir saja yang jatuh menimpanya.

    Takdir Muallaq
    Takdir muallaq secara harfiah diterjemahkan sebagai sesuatu yang digantungkan. Jadi takdir muallaq merupakan ketentuan Allah SWT yang mengikutsertakan peran manusia melalui usaha atau ikhtiarnya.

    Manusia berusaha sementara hasil akhirnya akan ditentukan oleh Allah SWT. Hal ini sesuai firman Allah yang berbunyi:
    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah diri mereka sendiri” (Ar-Ra’du :11, al-Anfal;1)

    Misal seseorang ingin memiliki kesehatan yang baik, maka ia harus berupaya menjaga makanan dan minuman yang halal. Menjauhi makanan makruh, yaitu makanan dan minuman halal yang tidak berlebihan, berolahraga. Jika ingin hidup bahagia harus bekerja keras, tekun agar mendapat kekayaaan.

    Karena kaya manusia bisa Bahagia. Tapi, perlu diingat, sebagai orang beriman. Menjaga kesehatan, berolahraga, bekerja agar kaya itu bagian wajib ihtiar kita sebagai manusia dan hasil akhir pasrah Allah. Hasil akhir dari ihtiar kadang sesuai harapan kadang tidak. Dan hasil akhir itulah takdir.

    Membicarakan takdir memang terlalu lancip. Tapi, Tidak ada salahnya tetap tawakal pada Allah agar hasil setidaknya seusai harapan dan doa. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi meski persiapan, usaha dan ihtiar sudah maksimal.

    Ketika kita berniat pergi jauh mempersiapkan bekal merupakan kewajiban. Kita bisa membayangkan nanti perjalanan seperti apa, bekal kita apa saja. Namun apa yang tertjadi bisa saja tidak sesuai estimasi.

    Sebuah cerita tentang orang-orang dari kota Asya’ri, yaitu Abu Musa, Abu Malik, dan Abu Amir. Mereka pergi bersama-sama kepada Rasulullah. Persiapan bekal dianggap memadai, di tengah perjalanan, mereka kehabisan bekal. Maka mereka mengirimkan seseorang kepada Rasululllah untuk meminta bekal. Ketika sampai di dekat rumah Rasulullah, utusan itu mendengar beliau bersabda dari firman Allah:

    Artinya:
    Dan, tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rejekinya… (QS. Huud:6)
    Dalam hati, utusan itu berkata: “Orang-orang itu (yang memerintah) sama sekali tidak percaya kepada Allah”. Akhirnya, utusan itu langsung kembali. Tidak masuk menemui Rasulullah.

    Setelah bertemu Kembali dengan mereka, utusan tersebut berkata: “Bergembiralah kalian, telah datang kepada kalian suatu pertolongan”.

    Mereka menyangka bahwa yang diutus tersebut telah memberitahu Rasulullah. Selang beberapa waktu, dua orang datang membawa mangkuk yang penuh dengan roti dan daging. Mereka ditawari, dan makan sesuka hati.

    Selanjutnya, Sebagian berkata kepada yang lain, “kembalikan makanan yang tersisa kepada Nabi”. Lalu, mereka melanjutkan perjalanan menuju Rasulullah. Sesampainya di rumah Rasulullah, mereka berkata:”

    Wahai Rasulullah, kami belum pernah melihat dan memakan makanan enak sebaik yang Engkau kirim kepada kami”.

    “Aku tidak mengirim makanan bagi kalian”. Jawab Rasulullah. Mereka agak kaget. Kemudian, mereka menceritakan bahwa mereka telah mengutus seseorang untuk meminta makanan kepada Rasulullah.
    Mendengar hal itu, Rasulullah bertanya kepada utusan tentang yang ia lakukan. Lalu, beliau berkata:”Itu adalah rezeki Allah untuk kalian. Sehingga, kalian makan dengan kenyang” (Qalyubi, Syeh Syihabuddin:192).

    Cerita ini sebenarnya mengqiyaskan bahwa rejeki itu datang dari Allah. Tapi tetap ada ihitar dari utusan agar bergerak. Setelah ihtiar bergerak baru tawakal.

    Tawakal
    Tawakal berarti menyerahkan diri kepada Allah, tidak bergantung kepada makhluk atau benda lain. Dengan kata lain, manusia hanya dapat berusaha, sedangkan yang menentukan berhasil atau tidaknya sesuatu adalah Allah.

    Karena itu, manusia harus berserah diri dan memohon pertolongan kepada-Nya.
    Tawakal kepada Allah tidak berarti penyerahan diri secara pasif. Tawakal harus disertai dengan usaha. Hal ini sangat tampak pada sikap Rasulullah ketika memarahi seseorang karena hanya mengandalkan tawakal kepada Allah tanpa mau berusaha.

    Menurut cerita seorang sahabat Nabi, Anas bin Malik, pada suatu hari ada seorang laki-laki berhenti di depan masjid untuk mendatangi Rasulullah. Unta tunggangannya di lepas begitu saja tanpa ditambat. Rasulullah bertanya, ”Mengapa unta itu tidak diikat?”

    “Saya lepaskan unta itu karena saya percaya pada perlindungan Allah SWT.” Jawab lelaki itu.
    Maka, Rasulullah menegur secara bijaksana, ”Ikatlah unta itu, sesudah itu barulah kamu bertawakal.” Lelaki itu pun lalu menambatkan unta itu di sebuah pohon kurma. Suatu penjelasan yang gamblang mengenai tawakal telah diberikan Rasulullah lewat peristiwa itu.

    Bahwa sesudah manusia berusaha, lalu menyerahkan hasilnya pada ketentuan Allah, itulah tawakal menurut ajaran Islam.

    Kalau, misalnya seperti dalam kasus di atas, unta itu sudah diikat, dan ternyata tetap hilang juga, itulah yang dinamakan takdir. Terhadap keputusan takdir, tidak satu pun dapat kita lakukan, kecuali menerimanya dengan tulus ikhlas, sembari berharap, semoga di balik takdir itu ada manfaat yang lebih besar buat. Kita Allah SWT berfirman:

    Artinya:
    ”Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan untuknya jalan keluar (dari kesulitan), dan akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, Maka Allah akan mencukupkan keperluannya.”(QS.al-Talak :2-3).
    Dalam kehidupan sehari-hari, hal-hal kecil juga menjadi perhatian Rasulullah. Sebagai misal, dalam mendirikan rumah, agar dilengkapi dengan jendela dan pintu, tidak membiarkan ruangan rumah bebas terbuka. Semua itu, meski mungkin tampak remeh, memberi isyarat tentang makna tawakal.

    Membiarkan rumah sampai larut malam tanpa dikunci, sementara seisi rumah tertidur lelap, adalah tanda kebodohan dan kenekatan, bukan tawakal.

    Kepada keluarganya yang lalai menjaga rumah, Nabi bersabda, ”Kuncilah pintu rumahmu.”
    Dalam memimpin berbagai pertempuran, Nabi tidak pernah telanjang dada atau membiarkan tubuhnya tanpa terlindung. Nabi memegang perisai dan memakai baju besi. Bila suasana keamanan sedang gawat, Nabi bertanya, ”Siapa yang akan mengawalku malam ini?”.

    Sehubungan dengan hadis di atas. Maka, barang siapa yang menentang ikhtiar, berarti menentang Sunnah. Dan, barangsiapa menentang Sunnah berarti mencela iman.

    Sudahilah diri yang gampang mencela, apalagi mencela iman, kurangilah banyak bertanya yang tidak perlu. Hentikanlah, mengeluh dan membicarakan orang lain. Meski mulut kita kadang berpasangan dengan omongan kotor. Meski hati kadang jodoh dengan keluhan, meski mata kadang suka memandang kelebihan dan kejelekan orang lain. Bisa jadi itu memang pasangan. Tapi itu bukan pasangan yang ideal dan serasi.

    Yang patut di ihtiari adalah menjadi tidak tamak, tidak rakus pada dunia, kita harus sekuat tenaga berdoa lalu tawakal pada Gustilah. Agar ihtiar baik dikabulkan baik. Pasangan orang beriman adalah orang beriman.

    Artinya
    “Dan, segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah”(Adz Dariyat:49)

    Khotimah
    Segala hal di dunia ini diciptakan Allah jelas berpasang-pasangan. Ada sedih ada bahagia, ada ihtiar ada tawakal. Ada sahur ada buka, ada puasa ada lebaran, dan lebaran pasangan pahala. Kita harus selalu ihtiar, dan ihtiar akan berpasangan dengan tawakal, tawakal akan berpasangan dengan takdir. Takdir dari Allah bisa jadi berpasangan dengan diri kita. Dan, diri kita harus rela menerima. Dan, takdir berpasangan dengan ihlas.

    Ihlas insyaallah berpasangan dengan pahala, dan pahala akan berpasangan dengan surga.
    Namun, di dunia ini ada orang yang tidak ihlas menerima takdir dari Allah. Suntuk sampai berprasangka buruk pada Gustialah, marah sampai tidak perlu bergustialah. Lalu, putus asa, putus asa pasangan iblis, iblis pasangan menentang Gustialah, penentang Gustialah pasangannya adalah neraka.

    Tipe orang seperti ini tergolong serakah karena memakan imannya sendiri. Dan tidak pernah merasa akan mati. Dan, kalaupun mati dia tetap ingin berada di surga dan di sayang Gustialah!

    Memang, Dunia ini cukup buat modal ke surga. Bahkan, bertemu Gustialah. Tapi dunia ini masih kurang buat segelintir orang serakah. Wallohu’alam. (*)

    *) Penulis adalah Dosen Pascasarjana Universitas Darul Ulum Jombang

    Reporter :
    Penulis : Gus Dr Mudjib Mustain, SH, MSi
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan

    Untukmu Para Istri…

    Wahai Para Istri…

    Rahasia Kebahagiaan

    Amanah