Sabtu, 15 Mei 2021
29 C
Surabaya
More
    Renungan PagiPuasa Tidak Pernah Binasa

    Puasa Tidak Pernah Binasa

    Kajian Romadhon, Diasuh Universitas Darul'Ulum (UNDAR) Jombang (6)

    Oleh : Gus Dr Mudjib Mustain, SH, MSi

    Alhamdulillah ala kulli hal, Alhamdulillah ala tattimussolihat. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kebaikan pada hambanya dengan menjadikan puasa sebagai benteng bagi para kekasih-Nya. Bahkan Allah membukakan pintu surga Ar Rayyan bagi yang penuh keihlasan, suka cita menjalani puasa ramadhan lahir batin.

    Puasa Sungguh Memesonakan
    Puasa adalah menahan diri dari apa yang dirindui nafsu. Puasa menjadi kewajiban bagi manusia yang telah sukarela memeluk Islam. Puasa merupakan ibadah yang sederhana namun memiliki dampak memukau dan puasa selalu datang tiap Ramadan selama sebulan. Hanya sebulan bila kita lakukan dengan niat, ihlas, ridlo lillahi ta‘ala.

    Dapat kita jadikan bekal di akhirat yang kita pasti ke sana dan di sanalah kita akan selamanya. Akhirat itu nyata sekarang berjalan maju menuju dunia dan dunia ini hanya sementara yang sedang berjalan mundur menuju kebinasaan. Di dunia ini yang tidak binasa, salah satunya adalah puasa. Selain syahadat, solat, zakat dan haji.

    Diriwayakan dari Nabi SAW : Apabila hari kiamat telah tiba, maka datanglah suatu kaum yang mempunyai sayap-sayap seperti burung. Dengan sayap-sayap itu mereka terbang melintasi tembok-tembok surga. Maka berkatalah penjaga surga kepada mereka;
    “Siapakah kalian?”
    Mereka menjawab: “Kami dari umat Muhammad”
    “Apakah kalian telah mengalami hisab? Tanya penjaga surga
    “Tidak”, jawab mereka. “Apakah kalian telah mengalami Shirath?” tanyanya lagi. Jawab mereka “Tidak”.
    Kemudian penjaga surga bertanya : “ Dengan apakah kalian memperoleh derajat-derajat ini?”
    Mereka menjawab: “ Kami telah menyembah Allah Ta’ala secara rahasia di dunia, lalu Allah memasukkan kami ke surga secara rahasia di akhirat. (Zubdatun Wa’izhin, Sitanggal, Ansori U. 1990:36). Baginda Rasululloh bersabda :
    Ash-Shaumu Nishfush-Sabhri
    Artinya: Puasa itu setengah sabar (Ghozali, Imam. 1980:4).

    Di Indonesia kita melakukan puasa sekitar 12 jam dari 24 jam waktu yang ada. Maka, apabila kita telah melakukan puasa 12 jam setidaknya kita sudah latihan setengah sabar selama 12 jam di siang hari. Jika karena kewajiban kita berpuasa di siang hari dan kita sanggup bersabar menahan larangan selain syariat makan minum apapun untuk memenuhi lambung melalui tenggorokan, bersenggama, sengaja muntah, keluar mani, haid/nifas, gila dan murtad.

    Bagaimana dengan keadaan kita setelah berbuka di malam hari? Bagi sebagian orang mungkin sudah selesai berbuka ya sudah, karena memang ada tingkatan orang dalam berpuasa.
    Pertama puasa biasa, bagi muslim biasa atau pemula mungkin sudah sukses ketika bisa menahan tidak makan dan minum 12 jam. Namun agak berbeda jika yang berpuasa adalah manusia muslim level Unggul atau Super khusus.

    Kedua puasa unggul. Pada kategori puasa kedua adalah puasa unggul. Puasa pada level unggul ini bukan hanya puasa menahan makan dan minum. Melainkan sudah pada level dapat menahan godaan tidak syahwat terhadap harta, perhiasan atau berucap tidak senonoh (Shihab, M. Quraisi. 2008:106).

    Baca juga :  Alhamdulillah Meski Hanya Idul Fitri Mini

    Pada level unggul ini kita harus sanggup memicingkan mata dan mencegah memandang sesuatu yang bersifat duniawi yang ada dalam genggaman orang lain.

    Kedua, menjaga lidah tidak berkata buruk. Ketiga. Mencegah pendengaran dari mendengarkan perkara makruh. Keempat. Mencegah anggota tubuh dari segala dosa, terutama perut mencegah dari kemasukan harta syubhat, apalagi harta haram saat berbuka. Kelima, tidak membanyakkan makan meski halal saat berbuka. Keenam. Lahir batin berguncang setelah berbuka di antara takut kuatir dan berharap amalnya diterima apa ditolak (Ghozali, Imam. 1980:18).

    Tidak jarang kenikmatan dunia menempel dipikiran melaui pandangan. Entah makanan, minuman, harta, tahta bahkan cinta yang menjadikan hati dan pikiran berguncang, gundah tidak nyaman.

    Jika kita mengalami godaan kenikmatan dunia seperti ini cara menghindari sebenarnya mudah. Pertama, jadikan renungan mendalam jika duniawi berhubungan dan berguna untuk akhirat ya dijalani saja, dan yang perlu di jaga adalah jangan liar melepas berahi pada duniawi secara berlebihan. Dengan tidak memandang buas pada duniawi maka sebenarnya kita tidak melepas syahwat atau nafsu. Tahan pandangan agar syahwat nafsu tidak lepas kendali menuju sasaran yang tidak baik dan benar.

    Bisa juga bukan karena pandangan dunia yang bertalian dengan mata. Tapi perkataaan yang berhubungan dengan telinga. Misal kita mendengar perkataan kasar tidak senonoh menyakitkan yang ditujukan pada kita. Namun, kita yakin perkataan yang ditujukan pada kita salah tujuan, ya sebaiknya diamkan saja. Gunakan lisan untuk diam akan tetapi dalam diam itu jangan hanya diam isilah hati dan lisan bacaan istigfar, tasbih atau takbir sembari memohon perlindungan dan pertolongan pada Allah agar orang yang berbicara kasar juga diampuni.

    Bisa juga yang datang mengganggu puasa unggul bukan hanya pandangan atau perkataan tapi fitnah. Fitnah memang menyakitkan dan cenderung kejam. Kita tidak mungkin minta sama Allah agar diberi fitnah, karena maqom kita ya masih biasa saja. Tapi tanpa minta kadang Allah memberi cobaan berupa fitnah. Kalau ada fitnah datang tapi kita siap maka tidak ada masalah. Tapi di saat awal datangnya fitnah meski siap kadang bisa bergemuruh dalam batin kita. Amarah mengguncang apa yang mesti dilakukan.

    Sebagai orang beriman maka sebaiknya dan sebenarnya kita harus tetap tenang. Jika tetap belum tenang berwudlulah dulu. Setelah itu tenang dan diam.
    Diam adalah senjata terbaik. Sebaiknya lisan dapat dicegah dari mengeluarkan kata yang tidak manfaat.

    Jangan mendengarkan, jangan terlalu ingin tahu berita yang tersebar. Memang kelihatan seolah kita lemah karena diam. Tapi sebenarnya kita kuat dan cerdas bisa mengendali, memanage nafsu menjadi tenang.

    Baca juga :  Ramadan, Investasi Menggiurkan Yang Sering Terabaikan

    Diam ketika mendapat fitnah itu dirindui surga. Diam, tenang, tidak kagetan setidaknya kita gunakan untuk selalu berpikir bahwa sebenarnya kejelekan yang dibalas dengan kejelekan tidak mendapat pahala apa-apa. Ucapan kotor menyakitkan kita balas berkata kotor sama saja kita juga menjadi kotor. Mungkin saja memuaskan tapi kepuasan yang tidak mendapat bonus apa-apa. Fitnah di balas menfitnah sama dengan menjerumuskan diri orang ke neraka tapi kita memeluknya erat agar sama-sama dosa dan bisa bersama di neraka. Seolah perilaku mereka buruk tapi jangan tinggallkan aku menjadi baik, aku ingin bersama mereka menjadi buruk. Maka sebaiknya hati-hati ketika mendapat cobaan bisa jadi merupakan pancingan agar kita lupa menjadi pemarah, putus asa, iblis menang. Tanpa sadar kita kalah bahwa kita telah melupakan sesungguhnya Allah adalah: innallaha ma’a as-sobhirin, hasbunaallah wa ni’mal al-waakil ni’mal maula wa ni’ma a-natsir.

    Ketiga puasa super, puasa super ini merupakan puasa dengan level super, level khususul-khusus. Puasa pada level ini tentu sangat berat karena ini sudah sampai pada urusan hati dan iman agar tidak berkeinginan hina (Ghozali, Imam. 1980:13).
    Puasa unggul ini bukan hanya menahan lapar dan haus, bukan hanya puasa menahan pandangan, penglihatan dan pendengaran tapi puasa yang sudah sampai pada menahan kehendak kerenteg ati yang tidak baik, menahan suudzon yang akan muncul dalam hati.

    Sanggup menerima dengan ridlo, ihlas lapang dada apapun takdir yang diberikan Allah. Diri selalu mohon kekuatan pada Allah dan sekuat kemampuan selalu menjaga, selalu menegur hati agar setiap hari selalu bertambah kebaikan, bertambah kebenaran, bertambah keimanan dengan membersihkan dari kotoran iri, dengki, hasud, riya’, takabbur, sum’ah, tidak mudah putus asa, kurang bersyukur, munculnya prasangka buruk pada orang lain. Apalagi berprasangka buruk pada Allah, tidak banyak mengeluh. Tenang lahir batin. Empuk njobo njero. Karena semua ibadah kebaikan harus selalu mempunyai dua sisi.
    Sebuah cerita ketika kanjeng Syeh abdul Qodir Jailani memasuk kota Bagdad karena akan pulang ke kampung Jilan. Di bulan puasa, di tengah jalan, di pagi hari dari kejauhan tampak ada orang membawa minuman dan jelas hamr.

    Tiba-tiba Kanjeng Syeh Abdul Qodir Jailani krenteg dalam hati.
    “Orang itu! Pagi- pagi sudah minum arak di jalan!”
    “Ini bulan puasa”, tambahnya.
    Tiba-tiba orang itu memanggil
    “Hey Abdul Qodir!”
    “Sini !”
    Lantas orang itu berkata:
    Tuhanmu!
    Hebat bukan!
    Abdul Qodir menggangguk!
    Berapa lama Dia membuatmu jadi aku
    Dan
    Membuatku jadi Kamu!!??
    Langsung Syeh Abdul Qodir bersimpuh karena memiliki suudzon pada mahluk yang sebenarnya sama dengan dia, ciptaan Allah. Siapa yang tahu saat memanggil itu si pemabuk sudah tobat dan dalam hitungan sepersekian detik sudah di terima Allah.

    Baca juga :  Alhamdulillah Meski Hanya Idul Fitri Mini

    Puasa pada level super ini sebenarnya dimulai dari latihan puasa biasa yang kita lakukan dari menahan makan dan minum. Kemudian latihan puasa menahan syahwat 12 jam di siang hari. Pertama tidak mengumbar liar pandangan. Kedua, tidak perlu mendengar berita yang membangkitkan keinginan yang tidak sesuai dengan kemampuan.

    Tahapan kemudian latihan menggembirakan hati agar tidak mudah hanyut pada hotir syaiton krenteg ati ganas membakar hati yang semestinya hati adem tenang. Dan berkelanjutan latihan 12 jam di malam hari. Setelah berusaha latihan 24 jam selama 30 hari di bulan Ramadan.

    Selepas Ramadan seyogyanya bisa dijalankan berketerusan sampai puasa berikutnya, istiqomah sampai umur berikutnya dan langgeng sampai dipanggil Izro’il ‘pulang’..

    Mencapai level super ini lumayan butuh lama waktu, perjalanan panjang, berat bahkan melelahkan. Tetapi di dunia yang hanya sementara ini sangat diperlukan persiapan bekal yang banyak untuk kehidupan di akhirat nanti yang pasti dan langgeng. Seorang pemanah harus tiap hari latihan fisik, pikiran dan tenaga agar mahir memanah. Pada saat penentuan juara bidikan busurnya harus mengenai bidang sasaran.

    Kadang yang latihan tekun saja tidak pas bidikannya saat lomba. Apalagi yang tidak latihan.
    Seperti kata pujangga bersenandung:
    “Tarju Najata
    Wa Lam Tasluk Masalikaha
    Inna Safinata Lan Tajria
    Ala Ardu Qahila”
    “Anda berambisi untuk mencapai sukses
    Tetapi enggan berjuang
    Tiada perahu berjalan
    Di tanah gersang” ( Haderanie. TT:196)

    Agar bisa sampai pada level super ini dibutuhkan sabar sabar dan sabar. Sekali lagi, jangan ga sabar ya! Karena dalam perjalanan menjalani puasa unggul ini tidak semua apa yang kita ingin akan berjalan sesuai dengan harapan. Kembali pasrah tawakal pada Allah tapi tetap dengan ihtiar yang maksimal.

    Dengan sabar yang dilatih siang hari lalu menjadi praktik di malam hari maka sabar yang setengah di siang hari akan sempurna di malam hari sehingga kesabaran yang luar biasa akan menaikkan level menjadi Beriman. Sesuai dengan sabda Nabi SAW
    Ash-Sabhru Nisful Iman
    Artinya: Sabar itu setengah Iman (Ghozali, Imam. 1980:4).

    Khotimah
    Puasa melatih lahir batin agar iman kuat. Iman merupakan keyakinan kepada Allah yang tidak mungkin bertentangan dengan ilmu. Sabar merupakan salah satu tangga agar dapat mencapai iman yang baik dan benar. Puasa biasa, puasa unggul, puasa super, di tambah dengan kesabaran yang ihlas akan mencapai keutuhan iman. Ketika iman sudah kokoh fokus pada Allah maka hidup jadi seimbang, hidup menjadi purna lahir batin. Semakin tinggi iman seseorang semakin tenang menghadapi persoalan dunia.

    Dan dengan bekal iman dunia akhirat pada Allah apalagi yang bisa membuat kita susah dan takut. Coba bayangkan, hanya dengan bekal puasa manusia dengan mudah masuk surga ar-rayyan dengan cara rahasia. Dan… Ternyata puasa kita saat ini tidak pernah binasa. Wallahu a’alam. (*)

    *) Penulis adalah Dosen Fakultas Sospol Universitas Darul Ulum Jombang
    *) Email : [email protected]

    Reporter :
    Penulis : Gus Dr Mudjib Mustain, SH, MSi
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    1 Comment

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan

    IDUL FITRI

    MORALITAS IN RHAMADLAN