Sabtu, 15 Mei 2021
29 C
Surabaya
More
    Renungan PagiKajian Romadhon: Keistimewaan Bulan Ramadhan

    Kajian Romadhon: Keistimewaan Bulan Ramadhan

    Diasuh Universitas Darul'Ulum (UNDAR) Jombang (2)

    Oleh : Dr. H. Sahal Afhami, MHum 

    Bulan Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam hitungan tahun Hijriyah, bulan penuh Rahmat, Maghfirah, dan Selamat dari api neraka.

    Bulan Ramadhan yaitu bulan ibadah, bulan kebahagiaan, bulan  sebaik-baik makhluk Allah, bulan dilipatgandakannya pahala dan Kebagusan, bulan diterimanya semua amal kebaikan, bulan ketaatan dan taubat, dan bulan diijiabahinya semua doa dan permohonan.

    Bulan Ramadhan adalah bulan yang khusus dan istimewa bagi umat Muhammad, umat islam karena didalamnya terdapat beberapa hal, antara lain:
    1. Puasa;
    2. Nuzulul Qur’an
    3. Lailatul qodar
    4. Zakat.

    I. IBADAH PUASA

    Bulan Ramadhan yang disebut juga sebagai bulan puasa adalah bulan dimana umat Muhammad atau umat Islam menjalankan kewajiban Islaminya berupa ibadah puasa sebulan penuh.

    Ibadah puasa ini merupakan satu-satunya ibadah yang berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya karena ibadah puasa tidak membutuhkan formalitas dan sarana sebagai mana ibadah lainnya, misalnya solat,  haji, dan zakat.

    Solat membutuhkan formalitas berupa gerakan-gerakan tertentu seperti takbiratul ihram, ruku’, sujud dan lain sebagainya.

    Haji membutuhkan formalitas berupa gerakan-gerakan tertentu seperti thowaf, sa’i, wuquf di Arafah dan melempar jumroh di Mina, dan juga membutuhkan sarana berupa transportasi, penginapan dan lain sebagainya  yang dibeli dengan uang atau biaya untuk menunaikan ibadah  haji.

    Zakat tdk membutuhkan formalitas tapi  membutuhkan sarana berupa uang atau barang yang dizakatkan.

    Ibadah puasa merupakan ibadah yg khusus dan istimewa di banding dengan ibadah lainnya karena ibadah puasa merupakan:

    1. Ibadah Sirri
    Sebagai ibadah Sirri (rahasia) karena ibadah puasa merupakan sesuatu yang ada di dalam hati seseorang yg tidak ditemukan riya’  didalamnya sebagai mana ibadah yang lain. Orang lain tidak akan pernah tahu seseorang itu berpusa atau tidak, orang yang tidak berpuasa yang  penampilannya lemas lunglai dan mengaku dirinya berpuasa pun orang akan percaya bahwa orang itu sedang berpuasa.

    Baca juga :  Alhamdulillah Meski Hanya Idul Fitri Mini

    Begitu sebaliknya. Orang yang sedang berpuasa tetapi penampilannya segar bugar maka orang lain bisa saja menyangka orang itu tidak berpuasa.

    Ibadah puasa ini benar- benar  tidak satupun orang tahu bahwa orang itu berpuasa atau tidak karena ibadah ini tanpa formalitas dan sarana, dan hanya ada didalam hatinya berupa niat karena Allah yang tidak diketahui orang lain, dan hanya Allah dan orang itu sendiri yang mengetahuinya, tidak satupun orang lain  dapat mengetahuinya.

    Ibadah solat orang mengetahuinya bahwa orang itu solat. Ibadah haji orang lain juga tahu bahwa orang itu berangkat haji dan nanti pulang di panggil haji atau hajah. Ibadah Zakat juga demikian dapat dengan mudah diketahui orang lain.

    Walaupun ibadah-ibadah ini niatnya juga sama ada didalam hati seseorang sebagainmana ibadah puasa, namun ibadah-ibadah ini dapat dengan mudah diketahui orang lain wujud ibadahnya karena membutuhkan formalitas dan sarana.

    Hal Ini berbeda dengan Ibadah puasa yang  benar-benar hanya Allah dan orang itu saja yang mengetahuinya. Walaupun demikian,   setelah dia tahu bahwa dirinya berpuasa pada akhirnya malah tidak tahu apakah dia berpuasa atau tidak,  karena ibadah puasa ini   disamping harus dapat  menjaga agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang menjadikan  batalnya puasa seperti makan, minum, dan  melakukan hubungan suami-isteri dengan isteri yang sah disiang hari, juga harus menjaga agar puasanya tidak hanya dapat lapar dan dahaga karena melakukan perbuatan-perbuatan yang merusak pahala puasa seperti berbohong, bergunjing, adu-domba, melakukan sumpah palsu, dan melihat dengan syahwat terhadap lawan jenisnya.

    Baca juga :  Ramadan, Investasi Menggiurkan Yang Sering Terabaikan

    2. Ibadah AntaraTuhan dan Hamba

    Ibadah puasa merupakan ibadah yang tidak dapat diraba  oleh panca indera orang lain sebagai wujud ibadah karena hanya Allah dan orang itu sendiri yang mengetahuinya, orang lain tidak mengetahuinya, dan pada gilirannya orang itu sendiri juga tidak  mengetahuinya dirinya telah melakukan ibadah puasa apa tidak karena hanya Allah Yang Maha Mengetahuinya, dan Allah sendirilah yang  membalas pahala ibadah puasa hambaNya.

    Allah berfirman dalam hadits qudsyi, yang artinya  “  semua amal anak Adam untuk anak Adam itu sendiri kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

    Semua wujud ibadah selain puasa kemanfaatannya untuk orang yang beribadah itu sendiri yaitu untuk menebus surga Allah. Beribadah untuk dapat masuk surge Nya. Besar kecilnya surga, dekat dan jauhnya surga, serta lengkap dan tidaknya isi surga ditentukan oleh ibadah-ibadah selain puasa. Sedangkan puasa Alloh sendiri yang akan membalasnya dengan balasan selain surga.

    Balasan Allah kepada hamba Nya yang melakukan ibadah puasa ini semata-mata  merupakan  Keagungan dan Kemuliaan Ketuhanan (‘alaa karomir rubuubiyyah), bukan karena hak yang harus diterima seseorang hamba sebagai pahala telah melakukan ibadah puasa  (laa ‘alaa  istihqooqil ‘ubuudiyyah), oleh karena itulah Abul Hasan mengatakan makna Firman Allah di atas ” dan Aku sendiri yang akan membalasnya” , yaitu  Allah menyatakan  semua ketaatan atau semua perbuatan ibadah pahalanya berupa surga, sedangkan puasanya balasannya menemuiKu, Aku dapat melihatnya dan dia dapat melihatKu, dia dapat berbicara denganKu dan Aku dapat berbicara dengannya, tanpa utusan dan penerjemah.

    Baca juga :  Ramadan, Investasi Menggiurkan Yang Sering Terabaikan

    Betapa dahsyat ibadah puasa ini karena berbeda dengan ibadah-ibadah yang lain. Dengan melakukan ibadah puasa seseorang mempunyai harapan dapat ketemu dengan Allah, dilihat dan melihat Allah, berbicara langsung dengan Allah  tanpa utusan dan penerjemah.

    Nabi Musa yang mempunyai  gelar Kalimullah (orang yang dapat berbicara dengan Allah) ketika berbicara dengan Allah masih dihalangi hijab atau tabir sebanyak 70.000 (tujuh puluh ribu) tabir, dan jarak antara tabir yang satu dengan tabir yang lain  sejauh 500 (lima ratus) tahun perjalanan.

    Nabi yang mempunyai gelar Kalimullah saja untuk dapat berbicara dengan Allah jaraknya sejauh itu, sedangkan umat Muhammad, umat Islam untuk.bisa ketemu, melihat, dan berbicara dengan Allah tanpa utusan dan penerjemah, dan bisa dibayangkan jika jarak itu hanya sejauh 2  (dua) busur atau lebih dekat lagi, betapa mulianya dan terhormatnya umat Muhammad, Umat Islam yang rapuh dan dho’if  seperti kita ini dihadapan Allah. Itulah keistimewaan ibadah puasa di bulan puasa.

    Para Ulama’ bersepakat  bahwa ibadah puasa yang dapat balasan langsung dari Allah adalah puasa  orang-orang yang selamat dari  kemaksiatan baik ucapan maupun perbuatan.

    Semoga kita sebagai umat Muhammad, umat Islam yang sedang melakukan ibadah puasa ini benar-benar terjaga dan diselamatkan dari perbuatan kemaksiatan yang dapat merusak pahala dan bahkan membatalkan ibadah puasa. Aamiin Ya Robbal Aalamiin. (*)

    Dr. H. Sahal Afhami, MHum  (Dosen Fakultas Hukum Universitas Darul Ulum Jombang)

    e-mail: [email protected]

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan

    IDUL FITRI

    MORALITAS IN RHAMADLAN