Minggu, 19 September 2021
25 C
Surabaya
More
    OpiniTajukGrand Desain Olahraga Nasional Konsep atau Pelaksanaan

    Grand Desain Olahraga Nasional Konsep atau Pelaksanaan

    Oleh Djoko Tetuko – Pemimpin Redaksi WartaTransparansi

    Ketika Pekan Olahraga Nasional (PON) hasil rapat paripurna nasional (Raparnas) KONI tahun 1998 memutuskan bahwa penyelenggara event 4 tahun itu, di Jawa Timur, maka provinsi paling ujung timur pulau Jawa ini, mempersiapkan berbagai kelengkapan teknis maupun nonteknis.

    Salah satu upaya memberikan kontribusi untuk bangsa dan negara, menggelar berbagai seminar nasional dan Focus Group Discassion (FGD) dengan salah satu motor penggerak Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI Jatim.

    Jika pada Sabtu (9/1/2021) kementerian pemuda dan olahraga (Kemenpora) menggelar FGD Finalisasi Grand Design Keolahragaan Nasional, di Hotel JW Marriot, Surabaya, maka memerlukan sebuah pertanyaan besar apakah sekedar membuat konsep atau buku biru atau akan dilaksanakan dengan berbagai terobosan secara profesional.

    Sekedar mengingatkan bahwa ketika itu, menjelang PON XV -2000, Gubernur Pemerintah Provinsi Jawa Timur Basofi Soedirman memberi kesempatan para pelaku olahraga membuat terobosan untuk meraih prestasi Internasional.

    Baca juga :  Waspadalah! Covid-19 Varian Baru Mengincar

    Salah satu keputusan dari berbagai seminar nasional dan FGD, yaitu mendirikan Sekolah Khusus Olahraga (Sekolah Negeri Olahraga/Smanor, sekarang) dengan harapan menjadi salah satu grand design pembinaan prestasi olahraga di sekolah. Mengingat waktu itu Sekolah Khusus Olahraga Ragunan Jakarta sudah mengalami kemunduran prestasi, karena beban sekolah umum masih diberikan kepada siswa khusus (atlet).

    Pertimbangan lain ketika itu, IKIP Negeri Surabaya di Ketintang (Universitas Negeri Surabaya/Unesa, sekarang) merupakan satu-satunya perguruan tinggi dengan kelebihan mempunyai perlatan khusus untuk sport science, hasil bekerjasama dengan pemerintah Australia.

    Ada Lima Pilar kesimpulan FGD pada tahun 1999-2000 menjelang PON XV-2000. Pertama, dalam hal meningkatkan prestasi atlet melalui sport science memanfaatkan peralatan canggih ketika itu, sehingga seluruh atlet di Smanor terdeksi secara ilmu pengetahuan struktur tubuh dan prediksi kemampuan maksimal mencapai prestasi.

    Baca juga :  Tiga Fokus PMI Jatim Perkuat Kehidupan Normal Baru

    Kedua, dalam hal pendidikan yang ketika itu sudah disimpulkan menjadi salah satu penyebab kemunduran prestasi olahraga, dilakukan program khusus dengan mempermudah sistem belajar mengajar atlet (siswa khusus Smanor) lebih fokus pada prestasi olahraga.

    Ketiga, masalah sistem kepatuhan akan dilakukan percepatan dengan mendatangkan pelatih asing (jika diperlukan) karena waktu itu perkembangan prestasi China/Tiongkok di dunia sudah mampu menyaingi negara adi daya Amerika Serikat, Uni Soviet/Rusia dan pecahannya, serta negara biru benua Eropa.

    Selain itu, mampu Tiongkok sudah mampu menandingi bahkan menyalip Jepang dan Korea Selatan di kawasan Asia, serta kemajuan olahraga Thailand dan Vietnam yang mencontoh program Tiongkok mengalami kemajuan pesat.

    Baca juga :  Berharap Pejabat Eselon II Jatim Membangun “Collective Intelligence”

    Keempat, bahwa penghargaan terhadap prestasi olahraga akan dilakukan secara masif dengan memperhatikan keluarga atlet sampai memberikan fasilitas khusus bagi atlet berprestasi.

    Kelima, program khusus pembinaan prestasi atlet melalui sekolah menjadi tanggung jawab pemerintah pusat resmi melalui anggaran APBN. Sementara daerah mendukung dengan menyesuaikan kebijakan dan kekuatan anggaran masing-masing.

    Oleh karena itu, jika Kemenpora mau melakukan finalisasi grand desain keolahragaan nasional, maka jangan sekedar membuat konsep atau buku biru saja. Tetapi lebih strategis jika implementasinya atau pelaksanaannya dijaga benar-benar profesional dan bermartabat.

    Tanpa perlakuan khusus kepada atlet sebagai “anak emas” di antara jutaan anak bangsa ini, tanpa model khusus pendidilan khusus kepada atlet, tanpa program khusus dalam memberikan penghargaan, maka semua akan sia-sia belaka. Menggapai prestasi hebat, memang membutuhkan terobosan sangat terhormat dan bermuatan harkat juga martabat. (*)

    Reporter :
    Penulis : Djoko Tetuko
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan