Rabu, 22 September 2021
33 C
Surabaya
More
    Jawa TimurPasuruanOrtu Was was Anaknya Masuk Sekolah

    Ortu Was was Anaknya Masuk Sekolah

    PASURUAN (Wartatransparansi.com) –  Setelah sebelumnya dikabarkan oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Prov Jatim di Pasuruan Indah Yudiani,terkait pembelajaran tatap muka secara langsung siswa sekolah tingkat SMA-SMK pada Senin (4/1/2021).

    Setidaknya banyak orangtua murid yang pro dan kontra atas kebijakan tersebut. Sebut saja Aini (43) asal Kecamatan Kejayan salah satu wali murid SMAN 1 Kejayan, saat di wawancarai mengatakan,” sebenarnya sebagai orangtua, kami masih merasa was-was atas kebijakan tersebut. Apalagi masih belum disosialisasikan bagaimana mekanisme pembelajaran tatap muka di masa pandemi covid-19 pada kami para orangtua siswa,”ucapnya.

    Sementara itu Saiful (49) orang tua salah satu siswa SMKN 1 Purwosaei asal Kecamatan Sukorejo.Pihaknya mendukung kembali dibukanya sekolah dengan tatap muka secara langsung.

    Baca juga :  Kejari Kab.Pasuruan, Tak Ambil Pusing Warna Partainya

    “Sudah hampir satu tahun ini, anak saya hanya belajar melalui online. Padahal anaknya tersebut mengambil jurusan mesin (otomotif). Mana bisa siswa/ murid belajar membongkar mesin secara online, jika tidak langsung praktek di depan mata. Terkait adanya kluster baru yang dikawatirkan, semua elemen kemasyarakatan harus turut menjaga,protokol kesehatan wajib diterapkan secara penuh dan tegas saat dimulainya pembelajaan tatap muka langsung. Jika perlu setiap satu pekan sekali, siswa diberi vitamin sebagai upaya pencegahan,” tandas Saiful.

    Lain halnya keterangan yang dilontarkan oleh salah satu pemerhati pendidikan asal Kecamatan Sukorejo yang juga seorang Dosen Ilmu Hukum salah satu univesitas swasta di Surabaya, Iskandar Laka.

    Baca juga :  Kejari Kab.Pasuruan, Tak Ambil Pusing Warna Partainya

    ” Sistem pembelajaran tatap muka bagi siswa pada seluruh tingkatan, saat ini masih dalam proses pengkajian secara mendalam dan diperhitungkan sangat hati-hati. Pada dasarnya tidak mengakibatkan kemudhoratan bagi semua pihak, utama bagi para tunas bangsa.

    Memang pembelajaran dimasa pandemi seperti saat ini sangat dilematis bagi semua pihak mulai dari orangtua, guru, pemerintah pusat dan daerah serta pada siswa itu sendiri. Sistem pembelajaran daring secara kualitas dan kuantitas masih sangat diragukan sekali. Sementara jika memaksakan untuk sekolah seperti sediakala, resikonya sangat besar sekali.

    Dari uraian tersebut, saya pribadi sangat mahfum atas rasa kawatir yang diucapkan oleh salah satu orangtua siswa asal Kecamatan Kejayan itu. Saya rasa pihak Dispendik Prov Jatim, ada baiknya mengkaji secara sistematis dari berbagai aspek yang ada dan tidak mengambil kebijakan dengan berdasar pada kualitas pendidikan semata,namun mengabaikan aspek domino yang akan ditimbulkan.

    Baca juga :  Kejari Kab.Pasuruan, Tak Ambil Pusing Warna Partainya

    Sistem pendidikan antara siswa SMA dan SMK sangat berbeda, siswa SMK wajib mempraktekan semua ilmu yang didapatkan melalui teori yang didapat sebelumnya,” ucap Bang Is sapaan akrabnya.(hen)

    Reporter : Henry Sulfianto
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan