Minggu, 19 September 2021
25 C
Surabaya
More
    Renungan PagiRenungan Akhir Tahun 2020: Virus Corona, Menjadi Tahun Waspada (2)

    Renungan Akhir Tahun 2020: Virus Corona, Menjadi Tahun Waspada (2)

    Oleh HS. Makin Rahmat

    MEWABAHNYA virus corona atau Covid-19 di muka bumi selama periode tahun 2020 merupakan sinyal dini bagi manusia penghuni bumi. Secara khusus dan kasat mata, saya melihat adanya bukti nyata kasih sayang Allah Yang Maha Kuasa kepada hambaNya. Kalau ada anggapan, bahwa Allah murka, biarlah itu hak seseorang untuk menilai.

    Turunnya, Jundullah (tentara Allah) mengubah wujud sebagai wabah atau virus, terlepas dari adanya perselisihan penyebab virus mematikan diawali di Negara Cina, tidak lepas dari kehendak Illahi. Kalau sudah; “Kun Fayakun.” (Jadi, maka jadilah). Tidak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi.

    Saya sendiri memutuskan bersikap kehati-hatian dan tetap waspada. Artinya, tetap mengikuti protokol kesehatan (Prokes) Covid-19 sesuai anjuran dari Satgas dengan tetap memakai masker, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak (menghindari kerumunan) dalam konteks hablum minannas (hubungan sesama manusia).

    Sebaliknya, ikhtiar batin tetap saya lakukan dengan komunitas jamaah dan lingkungan kami beribadah. Salah satunya, tempat ibadah (masjid) tetap menggunakan Prokes Covid-19, satu pintu masuk (one gate), disemprot disfektan. Hingga saat ini, tiap shalat lima waktu, khususnya Subuh dan Maghrib plus melakukan qunut nazilah. Untuk shof selama shalat fardu, dibagian utama tetap rapat dan lurus.

    Sekali lagi, inilah ikhtiar untuk tetap menjaga keseimbangan. Hablum minannas wa hablum minallah (hubungan dengan manusia dan hubungan dengan Allah). Kita tidak boleh meremehkan tapi jangan sampai berlebihan dalam bersikap. Makanya, saya lebih condong kita menyebut: “Tahun 2020 sebagai tahun Waspada.”

    Dari pandangan medis, pendemi Corona Virus Diseases 2019 (Covid-19) telah menjadi wabah yang menggelobal. Covid-19 menjadi momok menankutkan. Tidak terkecuali umat muslim terkena dampak dan ikut terlarut dalam gelombang tha’un (wabah penyakit menular).

    Sikap kita, tentulah harus tetap mengacu pada norma-norma yang ada. Rasulullah SAW bersabda: “Tha’un adalah suatu peringatan dari Allah untuk menguji hamba-hambaNya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan, apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan lupa kamu lari daripadanya. (HR Bukhari-Muslim dari Usamah bin Zaid).

    Dari Haidts tersebut semakin menambah keyakinkan saya, bahwa kalau terjadi sesuatu yang membahayakan, sebetulnya dimulai dari dirinya sendiri. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah yang sakit dicampuradukkan dengan yang sehat (HR Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah). Jadi, sikap kehati-hatian, juga dimulai dari ikhtiar.

    Bahasa lain: “Engkaulah yang menciptakan nerakamu sendiri” Keadilan Allah SWT adalah dengan mewujudkan apa-apa yang engkau perbuat dari amaliahmu sendiri, umpama sebuah “Cermin” yang setia memantulkan cahaya apapun yang engkau pancarkan.

    Kitabmu kan sama saja dengan Qur’anmu, yang tertulis itu mushaf Qur’an, yang tertulis itu adalah wujud tertulisnya, wujud tidak tertulisnya adalah dirimu sendiri.

    Sekarang, saya baru menyadari dalam perenungan catatan akhir tahun 2020 ini, bukan semata diri kita semata, ada rangkaian hidup dan saling menghidupi. Seorang yang jahat tentu bukan semata dirinya sendiri, ada sifat muncul karena orang lain, sehingga sifat sombong, dengki, iri hati, dan kejelekan lain menjadi remot penentu prilakunya.

    Sebaliknya, jika kita berbuat baik, tentu bukan semata pribadi kita yang berbuat baik. Ada simbiosis yang saling mengkait. Contohnya, orang yang pandai menulis dan dibaca oleh ribuan pembaca sehingga menjadi inspirasi tentulah menjadi ilmu bermanfaat, karena memancarkan cahaya kebaikan.

    Kembali ke wabah covid-19. Saat ini, ada seleksi alam yang diperlukan oleh suatu Negara untuk menjaga dari merebaknya virus Corona. Tentu keputusan Saudi Arabia melakukan lock down hingga membatasi jamaah haji 1441 Hijiriyah (2020) melalui pertimbangan matang. Bahkan, hingga saat ini melakukan Lock Down yang kedua, setelah ada indikasi mewabahnya corona jilid II dengan varian baru telah indikasi berasal dari Inggris.

    Pertanyaan sederhana untuk kita? Jika Allah melalui tentaranya (Covid-19) berakibat adanya dampak kematian, hingga dilakukan pemeriksaan rutin, apakah kita dalam proses fase kehidupan dengan keyakinan kita, bahwa Allah itu hak (ada), Malaikat itu ada, Hari Akhir ada, Neraka-Suraga ada, maka selain hak preogratif Allah dengan ridloNya, apakah kita bakal melenggang kankung, jika shalat kita hanya mengandalkan semangat, bukan niat, ilmu dan ikhlas. Hanya memburu bumi, bukan akhirat. Sekali lagi, syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji kita merupakan bagian dari catatan, bukan penentu.

    Laporan rutin tentang penularan dari Covid-19, termasuk di Indonesia merupakan bagian dari ikhtiar dengan tetap menomorsatukan Allah (Sang Khaliq). Bila, rujukan penyelesaian hanya focus pada penyelesaian medis, tentu sulit dicari penutup dalam penanganan. Mengapa muncul varian baru? Apakah cukup dengan Lockdown atau membatasi gerak dari perputaran penduduk suatu Negara.

    Begitu pula, sosok-sosok yang mengisi panggung kehidupan di alam fana ini, kita adalah bagian dari manusia yang berbuat baik atau sebaliknya. Maka, segera baca catatan hidup kita sebelum yang Maha Menghisap, menutup catatan kitab kita.

    Jadi, kalau tahun 2020 kita diminta waspada, semata-mata Allah memang masih menyayangi kita. Allah Dzat Yang Maha Pengasih tak pernah pilih kasih, Allah Dzat Yang Maha Penyayang, maka sayangnya tak terbilang. Itulah pilihan hidup yang memang harus kita pilih. Burulah, Rahmat dan Ridlo Allah. Semoga bermafaat. Tentang watak kita mengikuti siapa? Ikuti cacatan renungan akhir tahun 2020 berikutnya. (Oleh: HS. Makin Rahmat, Ketua SMSI Jawa Timur)

    Reporter :
    Penulis : HS. Makin Rahmat
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan

    Untukmu Para Istri…

    Wahai Para Istri…

    Rahasia Kebahagiaan

    Amanah