Djoko Tetuko Abdullatif

Oleh : DjokobTetuko – Pemimpin Redaksi WartaTransparansi.com

Sekedar sebuah renungan bahwa
Hari Santri Nasional
buah dari Resolusi Jihad. Resolusi ini dikeluarkan dalam pertemuan wakil-wakil cabang NU di seluruh Jawa dan Madura di Surabaya pada 21-22 Oktober 1945.

Para ulama ini menyatakan perjuangan kemerdekaan sebagai jihad atau perang suci.
Isi dari Resolusi Jihad tersebut yakni berperang menolak dan melawan penjajah itu fardhu ain bagi setiap orang Islam di Indonesia. Selain itu disebut pula muslimin yang berada dalam radius 94 km dari posisi kedudukan musuh, wajib ikut berperang.

Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 pada 15 Oktober 2015
Menetapkan dan Memutuskan sebagai Hari Santri Nasional

Resolusi Jihad sebagai dasar menetapkan Hari Santri Nasional, ialah
pernyataan tertulis atau fatwa tertulis
berisi tuntutan tentang jihad, berjuang di jalan Allah SWT, karena mempertahankan kemerdekaan. Menjaga kedaulatan Negara Republik Indonesia.

Dimana saat itu NICA (Netherlands Indies Civil Administration) membonceng tentara Sekutu (Inggris) ketika hendak kembali menduduki Indonesia dalam Agresi Militer Belanda II pasca kekalahan Jepang oleh Sekutu.

Hal ini menunjukkan bahwa Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945, bukanlah akhir perjuangan. Justru perjuangan makin tidak mudah ketika bangsa Indonesia harus menegakkan kemerdekaan karena upaya kolonialisme masih tetap ada. Ulama pesantren sudah menyiapkan jauh-jauh hari kalau-kalau terjadi perang senjata saat Jepang menyerah kepada Sekutu.

Setelah pertempuran 10 November 1945 berlalu, Resolusi Jihad NU terus digelorakan. Dalam Muktamar ke-16 Nahdlatul Ulama pada 26-29 Maret 1946 di Purwokerto, Jawa Tengah seperti disebut dalam buku Jihad Membela Nusantara: Nahdlatul Ulama Menghadapi Islam Radikal dan Neo-Liberalisme

Berdasarkan Muktamar ke-16, bahwa garis perjuangan NU menghadapi Islam Radikal dan Noe-Liberalisme. Itu artinya bahwa sejak 1946, organisai masyarakat Islam terbesar di tanah sudah menyatakan jihad melawan Radikal dan Noe-Liberalisme.

Memperingati Hari Santri Nasional, maka menjadi kewajiban para santri selalu menggelorakan semangat jihad sepanjang massa dengan penekanan melawan Radikal dan Noe-Liberalisme.

Hari Santri Nasional, jauh lebih bermakna untuk melakukan muhasabah (introspeksi) bahwa santri diberi penghargaan menerima supremasi Hari Besar Nasional, wajib melakukan resolusi dalam memerangi berbagai kemungkaran, melakukan jihad memerangi kemiskinan karena Neo-liberalisme , dan memerangi perilaku radikal karena sengaja membuat kerusuhan serta keonaran.

Hari Santri Nasional lebih bijak selalu resolusi diri dengan introspeksi berbagai ketimpangan sosial, mengubah menjadi memanfaatkan dengan penuh barokah.

Allah SWT memberikan petunjuk bahwa; “Tidak sepatutnya bagi orang orang mukmin itu pergi semuanya ke medan perang, mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka untuk memperdalam agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mereka itu menjaga dirinya”. (Surat Taubah : 122).

Penanfasiran sekaligus penjelasan dari firman tersebut ialah Allah memerintahkan kepada hambaNya untuk tidak semata berperang melawan orang kafir, tetapi juga memperdalam ilmu pengetahuan menurut islam agar menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain sebagaimana santri yang selalu mendalami ilmu agama dalam kesehariannya dan
tentu akan menjadi seorang yang berguna dengan menyebarkan ilmunya kepada orang lain.

Selain itu, menjadi seorang santri ialah memiliki hari penuh untuk belajar agama dan mendekat diri kepada Allah, hal tersebut akan membuatnya memiliki derajat yang lebih tinggi, sehingga selalu mendapat petunjuk karena selalu bersemangat mencari ilmu dan mencari hidayah dariNya.

Sebagaimana firman Allah SWT, “Barang siapa menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk niscaya dia melapangkan dadanya untuk memperdalam islam”. (QS Al An’am : 125).

 

“Niscaya Allah akan meninggikan orang yang beriman dan orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS Al Mujadilah : 11). Jelas dari firman tersebut bahwa menjadi seorang santri yang rajin menuntut ilmu karena Allah mendapat derajat yang lebih tinggi di mata Allah jika ilmu tersebut dicari dan dipergunakan dengan niat semata karena Allah dimana manfaat ilmu dalam pandangan islam ialah menjadi dasar pada semua aspek kehidupan

Ada 7 golongan yang mendapat naungan Allah di hari akhir… remaja yang senantiasa beribadah kepada Allah SWT, seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan masjid…”. (HR Muslim).

Kehidupan santri identik dengan senantiasa taat dengan Allah dan orang-orang yang senantiasa dekat dengan masjid, maupun di pondok pesantren.

Santri ialah setiap orang ketika menyatakan diri mencari ilmu mulai dari dilahirkan sampai ke liang lahat. Karena itu, memperingati Hari Santri jauh lebih bermakna dan hati terpatri suci kepada ILAHI, jika moment resolusi jihad selalu menjadi cermin introspeksi. (@)