Djoko Tetuko Abdullatif

Oleh : Djoko Tetuko – Pemimoin Redaksi WartaTransparansi.com

Bukan Wali Kota Surabaya Tri Rusmaharini, jika ada sesuatu ketimpangan atau kekurangan, apalagi menyebabkan menjadi masalah dan persoalan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Kemudian berpangku tangan diam.

Aksi demo seluruh penjuru nusantara hampir di setiap provinsi dan kabupaten/kota, menolak UU Cipta Kerja atau undang undang Omnibus Law, terbukti melihatkan anak-anal pelajar SMP dan SMA dengan kekuatan memanfaatkan media sosial.

Tidak hanya itu, para demonstran belum cukup umur ini, terlibat pula melakukan pengrusakan fasilitas umum dan aktifitas kurang tepat karena berbau radikal atau kekerasan.

Data di Kepolisian hampir seluruh aksi demo disusupi anak-anak pelajar SMP dan SMA, dengan disediakan alat transportasi. Bahkan mereka mengelabui orang tua dengan berbagai alasan

Berbagai ketimpangan sosial itu, Senin (19/10/2020) Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini langsung menyampaikan protes keras atas pelibatan anak-anak dalam melakukan aksi demontrasi anarkis, seusai memberikan pengarahan kepada para pelajar yang ikut demonstrasi beberapa waktu lalu. Sebab, anak-anak itu masih belum mengerti apapun.

Protes Wali Kota perempuan pertama Kota Surabaya itu, mengingat mereka ini belum mengerti apapun. Dan undang-undang perlindungan anak, memberikan perlindungan supaya anak tidak dieksploitasi dalam kegiatan yang dilarang, termasuk aksi demonstrasi.

Sebagaimana ketentuan pada UU 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
Bahwa;

Perlindungan Anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi Anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi

Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri atas suami istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya, atau keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai dengan derajat ketiga.

Orang Tua adalah ayah dan/atau ibu kandung, atau ayah dan/atau ibu tiri, atau ayah dan/atau ibu angkat.

Wali adalah orang atau badan yang dalam kenyataannya menjalankan kekuasaan asuh sebagai Orang Tua terhadap Anak

Perlindungan Khusus adalah suatu bentuk perlindungan yang diterima oleh Anak dalam situasi dan kondisi tertentu untuk mendapatkan jaminan rasa aman terhadap ancaman yang membahayakan diri dan jiwa dalam tumbuh kembangnya.

Dan lebih tegas pada pasal 15 disebutkan;
Setiap Anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari:
1). penyalahgunaan dalam kegiatan politik;
2). pelibatan dalam sengketa bersenjata;
3). pelibatan dalam kerusuhan sosial;
4). pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur Kekerasan;
5). pelibatan dalam peperangan; dan
kejahatan seksual.

Kemudian Luqman al-Hakim berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal agar kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tidak ada satu pun orang fakir itu kecuali mereka mengalami tiga perkara, yaitu tipis keimanan terhadap agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu), dan hilang kepribadiannya.

Anak-anak kita memang masih labil dan mudah terbawa arus, apalagi arus deras berbagai tipu daya dunia. Oleh karena itu, melindungi anak merupakan kewajiban bersama. Minimal membekali anak dengan iman, pendidikan dan akhlaq yang mulia.

Semoga protes Wali Kota Risma sebagai seorang ibu, menjadi sebuah pelajaran berharga bagi siapa saja. Bagi dalang demo mengeksploitasi anak, dalang kerusuhan melibatkan anak, dan dalang menjerumuskan anak.

Yang telanjur mengkhianati orang tua segera bersujud minta maaf, yang telanjur mengkhianati bangsa dan negara segera memohon ampunan, yang menjadi dalang semua kesalahan berjamaah segera bertaubat. (@)