Rabu, 24 Juli 2024
27 C
Surabaya
More
    Jawa TimurSurabayaJatim Tertinggi Nakes Meninggal Karena Covid-19, Pola Penanganan Harus Dirubah

    Jatim Tertinggi Nakes Meninggal Karena Covid-19, Pola Penanganan Harus Dirubah

    SURABAYA (WartaTransparansi.com) – Agar sistem pelayanan yang dilakukan Rumah Sakit (RS) maupun tempat layanan kesehatan lainnya sudah saatnya ada pembenahan. Hal ini sejalan dengan makin tinginya angka kematian tenaga kesehatan (nakes) di Jawa Timur.

    “Dalam menangani pasien agar tidak terpapar virus corona atau Covid-19, sistem pelayanan perlu pembenahan,” kata dr Joni Wahyuhadi, Kepala Rumun Satgas Covid-19 Pemprov Jatim  kepada wartawan di gedung negara Grahadi Surabaya.

    Berdasarkan data yang diumumkan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pusat per tanggal 31 Agustus 2020, menyebutkan angka kasus dokter yang meninggal tertinggi di Jatim dengan total 27 kasus.

    Dari data tersebut, kasus terbanyak terjadi di luar rumah sakit atau dalam penanganan pasien Covid-19 di Ruang Isolasi Khusus (RIK) di RS Rujukan.

    Baca juga :  Kisruh di PWI Pusat, Puluhan Wartawan Jatim Tuntut KLB

    “Di RSUD Dr. Soetomo saja jumlah kematian berkorelasi dengan banyaknya kasus di Soetomo. Oleh karena itu harus diturunkan kasusnya. Satu satunya cara yang paling efektif harus taat protokol kesehatan,” kata dr.Joni.

    Angka kasus di luar penanganan di RIK atau UGD Covid-19 banyak karena menjadi kewenangan masing-masing dokter. Sehingga, banyak pula dokter yang tidak menggunakan APD lengkap karena menganggap pasien yang datang tidak membawa Covid-19.

    Padahal, angka kasus orang tanpa gejala (OTG) sangat tinggi. “Artinya dimanapun harus menegakkan protokol kesehatan, karena banyak dokter praktek yang ignore,” ujarnya.

    Di sisi lain, Joni mengaku, tak sedikit pula dokter yang meninggal karena penyakit penyerta. “Tempat praktek harus jadi fokus karena 28 persen dan akan disupervisi oleh IDI agar nakes tempat praktek mendapat proteksi. Kemudian dokter komorbit harus tahu diri, proteksi harus ketat, dan rutin cek,” imbuhnya.

    Baca juga :  SWL Akan Dibangun Dipesisir Timur Surabaya

    Khusus di RS, Joni meminta kepada para dokter untuk membuat ruang-ruang khusus penanganan Covid-19. Ia mencontohkan di RSUD Dr Soetomo ada UGD untuk umum, kemudian UGD khusus Covid-19, dan ruang penapisan.

    “Dengan ini, maka tidak akan ada penularan dan memunculkan klaster rumah sakit,” tandas pria yang juga Dirut RSUD Dr Soetomo ini.

    Rinciannya:

    1. Praktik pribadi 7 kasus setara 26 persen
    2. Puskesmas 6 dokter setara 22,2 persen,
    3. Dokter spesialis lima kasus setara 18,5 persen,
    4. Dokter UGD 4kasus setara 14,8 persen,
    5. Tidak praktik tiga kasus setara 11,1 persen,
    6. Dua (2) kasus PPDS setara 7,4 persen. (fir/min)

    COPYRIGHT © 2020 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan