Ketiga, bisa juga Puan tidak meminta atau enggan menerima masukan dari tenaga ahlinya; baik yang lama maupun yang baru.
Setelah ketiga kemungkinan di atas dapat dipastikan, niscaya dengan mudah dapat diperoleh jalan keluar dari masalah yang dihadapi.
Masalah yang tak kalah penting bagi Puan Maharani adalah bagaimana posisinya pada pemilihan Presiden (Pilpres) mendatang. Apakah ia akan didorong PDIP sebagai calon presiden (capres) atau calon wakil presiden (cawapres)?
Jika iya, sebagaimana kabar yang beredar, maka ia harus meningkatkan kinerjanya di mata publik.
Kemudian kinerja itu harus disebarluaskan, agar publik mengetahui dan memberi penilaian positif. Sebab, bisa saja seseorang sudah memiliki kinerja baik, namun tidak terpublikasikan, hingga ia tidak memperoleh penilaian apapun.
Dari survei ke survei, elektabilitas Puan sebagai capres tidak pernah tinggi. Posisinya berada di urutan kesepuluh ke atas. Artinya, ia mesti mesti bekerja sangat keras untuk menunjukkan kinerjanya, plus menjalankan strategi public relations (ini adalah bahasa halus dari kampanye terselubung) yang jitu.
Dalam komunikasi politik, setiap hari adalah kampanye (terang-terangan atau terselubung). Tokoh politik setiap hari mesti memproduksi berita positif, seperti orang menabung uang. “Tabungannya” tiap hari harus bertambah, hingga mencukupi ketika akan digunakan.
Kalau ia tidak “menabung”, malah “mengutang” (dengan memproduksi berita negatif), maka “modalnya” tidak akan pernah cukup. Dengan kata, lain si tokoh politik itu sangat sulit menduduki posisi tertinggi.
Soal inilah yang mesti dipikirkan benar oleh Puan Maharani dan pihak-pihak yang ingin mendorongnya ke kursi Presiden atau Wakil Presiden.***





