Jumat, 14 Juni 2024
29 C
Surabaya
More
    Politik PemerintahanHukumLima Bulan Buron, Mantan Sekjen MA Ditangkap KPK

    Lima Bulan Buron, Mantan Sekjen MA Ditangkap KPK

    JAKARTA (WartaTransparansi.com)  – Ind Police Watch (IPW) telah memberikan sinyal menjelang atau sesudah Lebaran, Nurhadi, mantan Sekjen Mahkamah Agung (MA) bakal tertangkap, akhirnya betul adanya.

    Nurhadi, yang diduga korupsi milyaran rupiah itu ditangkap bersama menantunya Rezky Herbiyono oleh Komisi Pemberamtasan Korupsi (KPK), setelah lima bulan lamanya menjadi buron KPK.

    Kasus yang didakwakan pada Nurhadi yakni dugaan suap dan gratifikasi terkait pengurusan perkara di MA. Keduanya ditangkap di kawasan Jakarta.

    “Apresiasi dan penghargaan kepada rekan-rekan penyidik dan unit terkait lainnya yang terus bekerja,” kata Wakil Ketua KPK, Nawawi Pomolango dalam pesan singkatnya yang diterima wartawan, di Jakarta (1/6/2020) malam.

    Dia menyebut, dengan penangkapan ini menunjukkan bahwa KPK serius memberantas korupsi. KPK juga berjanji akan membeber kronologi penangkapan Nurhadi dan menantunya itu pada Selasa siang ini.

    Seperti diketahui, pada perkara ini, KPK telah menetapkan tiga orang tersangka. Ketiga tersangka itu yakni, mantan Sekretaris MA, Nurhadi, menantu Nurhadi, Rezky Herbiono dan Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT), Hiendra Soenjoto.

    Ketiganya sempat dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) alias buron karena tiga kali mangkir alias tidak memenuhi panggilan pemeriksaan KPK. Ketiganya juga telah dicegah untuk bepergian ke luar negeri. Saat ini, tinggal Hiendra Soenjoto yang belum ditemukan.

    Pada periode Juli 2015-Januari 2016 atau ketika perkara gugatan perdata antara Hiendra dan Azhar Umar sedang disidangkan di PN Jakarta Pusat dan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, diduga terdapat pemberian uang dari tersangka Hiendra kepada Nurhadi melalui tersangka Rezky sejumlah total Rp 33,1 miliar.

    Sebelumnya Nuhardi sempat terlacak lima kali saat melakukan shalat duha. Namun buronan KPK itu berhasil meloloskan diri saat hendak ditangkap pada Minggu (3/5/2020) lalu. Dia selalu berpindah pindah mesjid saat melakukan shalat duha, kata Neta S Pane, Ketua Presidum IPW.

    Bagaimana dengan Harun Masiku? Sumber IPW mengatakan,  itu sama sekali tidak terlacak. Harun seperti ditelan bumi. Harun terakhir terlacak saat Menkumham mengatakan yang bersangkutan berada di luar negeri, padahal KPK mendapat informasi Harun berada di Jakarta. Tapi sejak itu Harun hilang bagai ditelan bumi.

    IPW mendukung cara kerja KPK saat ini dimana lembaga anti rasuha bekerja secara senyap dan begitu tersangka tertangkap langsung dipajang dan kasusnya diproses secara transparan. Tidak seperti KPK sebelumnya, yang sibuk jumpa pers mentersangkakan orang tapi kasusnya tidak berjalan dan yang bersangkutan ditersangkakan bertahun tahun tanpa ada kejelasan.

    Cara kerja KPK lama yang mengkriminalisasi, menzalimi, dan membunuh karakter tersebut harus ditinggalkan KPK baru. Sebab cara cara biadab itu melanggar HAM.

    Jika sesorang sudah jadi tersangka korupsi seharusnya segera ditahan dan kasusnya diselesaikan di pengadilan agar ada kepastian hukum. KPK baru jangan mau mendengarkan orang orang syirik dan kelompok sakit hati yang kepentingannya tergusur oleh pimpinan KPK baru. (sam/min)

    Reporter : Samsul Ma'arief

    Editor : Amin Istighfarin

    Sumber : WartaTransparnsi.com

    COPYRIGHT © 2020 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan