Djoko Tetuko Abdul Latief

Oleh : Djoko Tetuko (Pemimpin Redaksi Transparansi)

Rembulan sudah menipis, melingkar manis menghiasi langit kadang menangis histeris tanpa mampu menjaga egois.

Ramadan sudah di perbatasan tanpa mampu mencegah bermalam lebih lama, walau kiriman ayat-ayat suci Al-Qur’an berjuta-juta terus mengalir semilir dan paket hemat dzikir, tasbih, tahmid terus berkumandang memandang

Bintang-bintang gemerlap memancar sinar cahaya abadi memutih, menjadi saksi malaikat turun dari singgasana menebar pahala semalam setara 1000 bulan, meratapi bulan suci sebentar lagi pergi

Ramadhan sudah di perbatasan, tanpa mampu meminta barang sedetik pun menunda kepulangan, walau dari masjid dan rumah-rumah jutaan muslimin dan muslimat menebar do’a memancar sinar menunggu keajaiban

Rembulan pun seperti padam tanpa lampu penerangan jalan, menjaga mega terus berputar-putar menari kebingungan kehilangan

Ramadhan sudah sampai di perbatasan, tanpa mampu menunda barang sejenak untuk menambah nikmat memperkuat ajimat kuat

Bintang-bintang berlarian memberi corak, muncul dan tenggelam di antara makhluk langitan, satu dua bersinar terang seperti lampu petromak dan jutaan lainnya bersinar kayak lampu templok, diam dalam demo tanpa melambaikan tangan tanpa menyapa

Ramadhan sudah sampai di perbatasan, bintang-bintang kehilangan teman dzikir di malam hari kala sunyi dan sepi, kala dingin menusuk tulang pipi

Bulan enggan mengubah waktu walau sudah di ujung perbatasan, tetapi wajah dan aura segera berganti nama dari Ramadhan ke Syawal

Ramadhan sudah sampai di perbatasan, dengan meninggalkan jejak tapak menapak nampak para ahli ibadah, ahli dzikir, ahli baca Al-Qur’an, ahli infak dan sedekah, ahli zakat, ahli menyenangkan orang miskin apalagi orang kaya. Dan…, sayang sejuta sayang semua itu menghilang walau tetap menunggu datang ulang.

Bintang-bintang meringis sinis tanpa mampu menangis, meneteskan air mata, hanya berpesan singkat tanpa gambar apa-apa “jangan lama-lama meninggalkan kita semua” … langit jadi sepi pemohon rahmat, ampunan dan mohon dijauhkan dari api neraka. Do’a- do’a itu seperti gelombang bergoyang

Ramadhan memang sudah dekat di perbatasan sana …, meneteskan air mata ketika mendengarkan tangis jutaan manusia, menyaksikan tangis alam semesta, juga melihat langit dan planet sekitar menjerit-jerit kehilangan malam hari nan sunyi dimana malam itu lebih baik dari 1000 bulan.

Ramadhan memang sudah di perbatasan, tinggal sebentar lagi melangkah meninggalkan semua pecinta di seluruh alam semesta.
Ramadhan kembali ke putaran rembulan dengan dikelilingi bintang-bintang, sembunyi 11 bulan ke depan. Dan sebentar lagi mengubah nama dunia, mengubah perilaku manusia, mengubah gerakan massal alam semesta, mengubah marwah ibadah, mengubah jutaan barokah kembali ke pangkuan semula. (jt)