Sabtu, 22 Juni 2024
28 C
Surabaya
More
    OpiniRamadhan di Perbatasan

    Ramadhan di Perbatasan

    Oleh : Djoko Tetuko (Pemimpin Redaksi Transparansi)

    Rembulan sudah menipis, melingkar manis menghiasi langit kadang menangis histeris tanpa mampu menjaga egois.

    Ramadan sudah di perbatasan tanpa mampu mencegah bermalam lebih lama, walau kiriman ayat-ayat suci Al-Qur’an berjuta-juta terus mengalir semilir dan paket hemat dzikir, tasbih, tahmid terus berkumandang memandang

    Bintang-bintang gemerlap memancar sinar cahaya abadi memutih, menjadi saksi malaikat turun dari singgasana menebar pahala semalam setara 1000 bulan, meratapi bulan suci sebentar lagi pergi

    Ramadhan sudah di perbatasan, tanpa mampu meminta barang sedetik pun menunda kepulangan, walau dari masjid dan rumah-rumah jutaan muslimin dan muslimat menebar do’a memancar sinar menunggu keajaiban

    Baca juga :  Meraih Nilai Hikmah Idul Adha dalam Bingkai NKRI

    Rembulan pun seperti padam tanpa lampu penerangan jalan, menjaga mega terus berputar-putar menari kebingungan kehilangan

    Ramadhan sudah sampai di perbatasan, tanpa mampu menunda barang sejenak untuk menambah nikmat memperkuat ajimat kuat

    Bintang-bintang berlarian memberi corak, muncul dan tenggelam di antara makhluk langitan, satu dua bersinar terang seperti lampu petromak dan jutaan lainnya bersinar kayak lampu templok, diam dalam demo tanpa melambaikan tangan tanpa menyapa

    Ramadhan sudah sampai di perbatasan, bintang-bintang kehilangan teman dzikir di malam hari kala sunyi dan sepi, kala dingin menusuk tulang pipi

    Bulan enggan mengubah waktu walau sudah di ujung perbatasan, tetapi wajah dan aura segera berganti nama dari Ramadhan ke Syawal

    Baca juga :  Meraih Nilai Hikmah Idul Adha dalam Bingkai NKRI

    Ramadhan sudah sampai di perbatasan, dengan meninggalkan jejak tapak menapak nampak para ahli ibadah, ahli dzikir, ahli baca Al-Qur’an, ahli infak dan sedekah, ahli zakat, ahli menyenangkan orang miskin apalagi orang kaya. Dan…, sayang sejuta sayang semua itu menghilang walau tetap menunggu datang ulang.

    Bintang-bintang meringis sinis tanpa mampu menangis, meneteskan air mata, hanya berpesan singkat tanpa gambar apa-apa “jangan lama-lama meninggalkan kita semua” … langit jadi sepi pemohon rahmat, ampunan dan mohon dijauhkan dari api neraka. Do’a- do’a itu seperti gelombang bergoyang

    Ramadhan memang sudah dekat di perbatasan sana …, meneteskan air mata ketika mendengarkan tangis jutaan manusia, menyaksikan tangis alam semesta, juga melihat langit dan planet sekitar menjerit-jerit kehilangan malam hari nan sunyi dimana malam itu lebih baik dari 1000 bulan.

    Baca juga :  Meraih Nilai Hikmah Idul Adha dalam Bingkai NKRI

    Ramadhan memang sudah di perbatasan, tinggal sebentar lagi melangkah meninggalkan semua pecinta di seluruh alam semesta.
    Ramadhan kembali ke putaran rembulan dengan dikelilingi bintang-bintang, sembunyi 11 bulan ke depan. Dan sebentar lagi mengubah nama dunia, mengubah perilaku manusia, mengubah gerakan massal alam semesta, mengubah marwah ibadah, mengubah jutaan barokah kembali ke pangkuan semula. (jt)

    Penulis : Djoko Tetuko

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2020 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan