SURABAYA – Adaptasi metode dakwah sangat dibutuhkan di era post truth dan era disrupsi seperti saat ini. Di tengah dinamika masyarakat di dua era ini, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta kepada Universitas Islam Negeri Surabaya (UINSA) Surabaya khususnya Fakultas Dakwah untuk berinovasi dalam hal metode dakwah.
Format dakwah Islam yang efektif dan mengena ke masyarakat sesuai perkembangan zaman dan kemajaun teknologi menjadi kunci agar penyampaikan nilai-nilai Islam tetap dapat tersampaikan.
Sebagaimana diketahui di era post truth atau era pasca kebenaran, hoaks menjadi lebih dominan dan mudah dipercaya oleh masyarakat. Hal ini menjadi momok yang dapat berpotensi memecah belah persatuan dan persaudaraan bangsa.
Begitu juga era disrupsi. Memasuki era ini masyarakat banyak yang menggeser aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata ke dunia maya. Hal ini memicu tercerabutnya nilai-nilai kearifan lokal dari akarnya.
Di katakan perempuan yang juga mantan Menteri Sosial RI dan Menteri Pemberdayaan Perempuan ini, saat ini yang butuh dilakukan adalah penguatan dakwah dengan teknologi informasi dengan konten yang sejuk dan mencerahkan.
Media sosial yang sudah bergeser menjadi media mainstream bisa menjadi sarana efektif sebagai penyampai pesan keagamaan, kehidupan kemanusiaan dan berbagai literasi lainnya. Baik literasi baca, tulis, numerasi, sains, finansial, digital maupun literasi budaya dan kewarganegaran.
“Juru dakwah diharapkan bisa menjadi influencer untuk mengajak masyarakat agar berperilaku baik , lebih produktif, lebih santun dan sebagainya. Jika hari ini media meanstream adalah sosial media, maka penggunaan media sosial harus dilakukan lebih intensif dan kualitatif demi efektifitas sebuah dakwah,” ujar Khofifah saat menjadi nara sumber pada International Conference on Da’wa & Communication (ICON-DAC) 2019 di Ruang Amphiteater Lt. 2 Gedung Twin Towers UINSA, Selasa (24/9).





