Gubernur Minta UINSA Surabaya Mencari Metode Dakwah yang Efektif Menghadapi Era Post Truth Dan Disrupsi

Gubernur Minta UINSA Surabaya Mencari Metode Dakwah yang Efektif Menghadapi Era Post Truth Dan Disrupsi
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa

Maka, menghadapi kedua era ini, perguruan tinggi dikatakan Khofifah harus bekerja keras untuk menemukan format yang efektif dalam dakwah. Agar dakwah Islam tetap berjalan di atas rel kebenaran, kejujuran dan kesejukan. Salah satunya menekankan kepada  masyarakat agar tidak menyebarkan berita bohong atau hoaks.

“Itulah sebetulnya yang sangat kita butuhkan dari peran Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Surabaya. Terus melakukan penelitian, mencari teori baru, rumus baru bagi dakwah yang efektif di era post truth dan disrupsi seperti saat ini,” ungkap wanita yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU ini.

Ia optimistis dengan pengelolaan media sosial yang baik oleh juru dakwah, maka pengguna media sosial juga akan dapat menyerap informasi yang  disebarkan dan ditanamkan. Hal ini juga menjadi inovasi format untuk mengefektifkan dakwah bil IT atau dakwah melalui sarana teknologi informasi.

“Mungkin awalnya mereka yang follow  juru dakwah  ini adalah follower biasa. Namun jika akun juru dakwah ini dikelola dengan baik dan terus menerus mengajak kebaikan, maka akan bisa mengajak followernya untuk bisa mengikuti kegiatan strategis – positif dan  produktif  dari para juru dakwah tersebut,” imbuhnya.

Dalam konferensi ini juga hadir pembicara utama yang memiliki reputasi internasional dari dalam dan luar negeri antara lan Syaikh. Dr. Muhammad Husayni Farg Sayyid Ahmad (Universitas al-Azhar, Mesir), Prof. Nadirsyah Hosen, MA. Ph. D (Monash University, Austalia), Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si (Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya), Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag (Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi). Lalu, Prof. M. Reevany Bustami, MA., P.hD (University Sains Malaysia), Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni, S. IP., M.Si (Director of Center for Southeast Asian Social Studies, Gadjah Mada University). (min)