Surabaya, Wartatransparansi.com – Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur Ali Mufthi menerima audiensi KOPRI (Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri) PKC Jatim dan PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dan menegaskan pentingnya peran mahasiswa dalam menjawab dinamika kebangsaan dengan berlandaskan nilai-nilai Pancasila serta memperkuat kapasitas diri sebagai calon pemimpin masa depan.
Ali menyoroti peran strategis mahasiswa di tengah dinamika sosial dan politik nasional. Dalam pertemuan bersama KOPRI PMII. ia mengingatkan bahwa berbagai gelombang kritik dan protes, termasuk yang terjadi pada 25 Agustus 2025, merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang harus disikapi secara konstruktif.
“Gelombang turbulensi kebangsaan itu harus dijawab oleh teman-teman mahasiswa. Masa depan bangsa tidak boleh dibiarkan tanpa arah,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa agar persoalan serupa tidak terus berulang, mahasiswa perlu menjadikan Pancasila sebagai pedoman utama dalam berpikir dan bertindak. Menurutnya, nilai-nilai demokrasi, keadilan sosial, persatuan, dan ketuhanan harus menjadi fondasi dalam kehidupan berbangsa
“Demokrasi itu ada perwakilan, ada keadilan sosial, ada persatuan, dan ada nilai ketuhanan. Itu yang harus kita jaga bersama,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung pentingnya kepekaan sosial. Ia menilai bahwa kesenjangan ekonomi harus menjadi perhatian generasi muda, tanpa mempersoalkan keberhasilan pihak lain.
“Silakan yang sudah sejahtera, tetapi yang belum harus kita dorong untuk ikut sejahtera. Itu tugas kalian,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar mahasiswa tidak sekadar menjadi aktivis, tetapi juga mempersiapkan diri sesuai bidang keilmuan masing-masing. Baik sebagai politisi, ekonom, maupun akademisi, semuanya harus mampu memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.
“Kalau jadi politisi, jadilah politisi yang baik. Kalau ekonom, pahami persoalan bangsa. Kalau akademisi, berikan kontribusi nyata,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya memperkuat literasi dan wawasan. Menurutnya, kemampuan berpikir kritis harus dibarengi dengan kebiasaan membaca dan memiliki rujukan keilmuan yang jelas.
“Untuk punya pengetahuan, kita harus membaca dan punya referensi yang bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.
Dalam konteks global, ia mengajak mahasiswa untuk belajar dari berbagai negara, namun tetap selektif dalam menentukan rujukan. Ia mencontohkan bagaimana suatu negara mampu membangun kekuatan pertahanan sekaligus memenuhi kebutuhan dasar rakyat.
“Silakan belajar dari mana saja, tetapi tetap harus disesuaikan dengan nilai dan kebutuhan bangsa kita,” ujarnya.
Menutup arahannya, ia mengingatkan bahwa manusia diciptakan untuk saling memberi dan menyayangi, bukan saling bermusuhan. Nilai tersebut, menurutnya, harus menjadi dasar dalam membangun karakter generasi muda.
“Kita diciptakan untuk saling memberi, menyayangi, dan menjaga, bukan saling memusuhi,” pungkasnya.
Pertemuan ini diharapkan menjadi momentum bagi mahasiswa, khususnya KOPRI PMII, untuk memperkuat karakter, keterampilan, serta komitmen kebangsaan dalam menghadapi tantangan masa depan.
Dari perwakilan KOPRI PKC Jatim hadir diantaranya Kholisatul Hasanah (Ketua), Isna, Friska, Mila dan Erliana. (*)





