Takziyah Antar Pemimpin Muslim di Bulan Ramadhan: Pesan Qur’ani tentang Solidaritas dan Perdamaian

Ramadhan 1447H/2026M hari ke 21

Takziyah Antar Pemimpin Muslim di Bulan Ramadhan: Pesan Qur’ani tentang Solidaritas dan Perdamaian
Cholid Ma’arif, S.Hum., M.Ag

Oleh: Cholid Ma’arif, S.Hum., M.Ag (Dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, FAI UNDAR Jombang)

UCAPAN takziyah merupakan tradisi penting dalam kehidupan umat Islam. Ia tidak hanya sekadar ungkapan belasungkawa, tetapi juga simbol empati, doa, dan solidaritas kemanusiaan. Dalam konteks hubungan antarnegara, takziyah yang disampaikan oleh seorang kepala negara Muslim kepada pemimpin Muslim lainnya memiliki makna yang lebih luas.

Ia mencerminkan persaudaraan, etika diplomasi, sekaligus pesan moral yang melintasi batas geografis. Ketika tradisi ini terjadi di bulan Ramadhan, maknanya menjadi semakin mendalam, karena Ramadhan adalah bulan persaudaraan, kesabaran, dan doa.

Al-Qur’an menegaskan pentingnya ukhuwah di antara orang beriman. Dalam QS. Al-Hujurat (49:10) disebutkan bahwa orang-orang beriman adalah bersaudara dan diperintahkan untuk mendamaikan sesama mereka.

Dalam tafsir Ibn Kathir dijelaskan bahwa ayat ini tidak hanya berlaku pada hubungan antarindividu, tetapi juga dalam kehidupan sosial yang lebih luas, termasuk antar komunitas dan bangsa. Dengan demikian, sikap saling menguatkan melalui ucapan takziyah dapat dipahami sebagai bagian dari praktik menjaga ukhuwah tersebut.

Tradisi takziyah juga berkaitan erat dengan nilai kesabaran dan kesadaran akan takdir Allah. QS. Al-Baqarah (2:156) menggambarkan sikap orang beriman ketika menghadapi musibah dengan mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un.” Menurut al-Tabari, ungkapan ini merupakan pengakuan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.

Dalam konteks hubungan antarnegara, ucapan takziyah dari seorang pemimpin tidak hanya menyampaikan simpati, tetapi juga doa agar keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan. Apalagi di bulan Ramadhan, bulan yang dikenal sebagai waktu terbaik untuk berdoa dan memperkuat ikatan spiritual.

Dalam perspektif diplomasi, ucapan takziyah juga mengandung pesan politik yang halus namun penting. Ketika Presiden Prabowo Subianto menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang meninggal pada bulan Ramadhan, sikap tersebut dipahami oleh sejumlah tokoh Islam Indonesia sebagai bentuk empati dan solidaritas kemanusiaan.

Langkah ini juga menunjukkan bahwa hubungan antarnegara Muslim tidak semata-mata didasarkan pada kepentingan politik, tetapi juga pada nilai moral dan kemanusiaan.

Al-Qur’an sendiri memberikan dasar etika bagi hubungan yang damai dan penuh kebaikan. Dalam QS. Al-Mumtahanah (60:8) ditegaskan bahwa Allah tidak melarang umat Islam berbuat baik dan berlaku adil kepada pihak lain selama tidak memerangi mereka. Tafsir Ibn Kathir menjelaskan bahwa ayat ini menjadi landasan bagi hubungan sosial yang damai.

Dalam kerangka itu, ucapan takziyah antar pemimpin dapat dilihat sebagai bagian dari etika kemanusiaan yang menumbuhkan empati, membuka ruang dialog, dan memperkuat hubungan yang lebih harmonis.

Sebagai penutup, tradisi takziyah antar kepala negara Muslim dapat dipahami sebagai praktik nilai Qur’ani dalam diplomasi modern. Ia bukan sekadar ungkapan duka, tetapi juga doa, solidaritas, dan pesan perdamaian. Tafsir klasik menunjukkan bahwa Al-Qur’an menekankan pentingnya persaudaraan, kesabaran, dan kebaikan sosial.

Dalam konteks kontemporer, nilai-nilai tersebut dapat menjadi fondasi untuk memperkuat hubungan antarbangsa dan mengirimkan pesan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi empati dan perdamaian.

Ketika tradisi itu hadir di bulan Ramadhan, maknanya semakin kuat sebagai simbol ukhuwah, doa, dan harapan bagi terciptanya kedamaian yang lebih luas. (*)