KISAH hidup H. Ali Mufthi memang berbeda dengan banyak orang sukses lainnya. Ia tumbuh dalam kondisi serba pas-pasan, namun semangatnya untuk belajar dan berjuang tidak pernah surut.
Sejak kecil ia memilih menempuh pendidikan di Madrasah/pesantren. Saat itu, menjadi anggota DPR mungkin tak pernah terbayangkan. Namun kini, Ali Mufthi justru dikenal sebagai salah satu penggerak ekonomi kerakyatan, khususnya di Ponorogo.
Selasa (10/3/2026) menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan pengabdiannya. Pagi itu ia meresmikan fasilitas sanitasi bagi Lembaga Pendidikan Keagamaan (LPK) di Pondok Pesantren Darur Rohmah, Desa Gandu, Kecamatan Mlarak, Ponorogo.
Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, H. Ali Mufthi, hadir langsung untuk meresmikan fasilitas sanitasi yang telah selesai dibangun.
Peresmian dilakukan secara sederhana namun penuh makna. Sebuah pita dipotong sebagai tanda dimulainya pemanfaatan fasilitas tersebut. Setelah itu, rombongan meninjau bangunan sanitasi yang baru selesai dibangun.
Bagi pihak pesantren, fasilitas ini bukan sekadar bangunan fisik. Kehadirannya menjadi simbol perhatian negara terhadap dunia pendidikan Islam.
Tak hanya meresmikan fasilitas sanitasi, Ali Mufthi juga membawa kebahagiaan lain. Ia menyerahkan santunan kepada puluhan anak yatim piatu di sekitar pondok. Momen tersebut membuat suasana semakin hangat dan haru.
Mengingat Masa Lalu di Pesantren
Di hadapan para santri, Ali Mufthi tidak sekadar menyampaikan sambutan formal. Ia justru membuka kisah perjalanan hidupnya sendiri—kisah yang membuat banyak santri terdiam mendengarkan.
Ia mengaku bahwa perjalanan hidupnya tidak selalu mulus. Bahkan ia pernah menyebut dirinya dahulu sebagai “orang bambung”, istilah dalam bahasa Jawa yang menggambarkan seseorang yang hidupnya tidak jelas arah.
“Kalau ditanya kunci sukses saya sampai bisa seperti sekarang, ya dari pesantren,” ujarnya dengan nada santai.
Menurutnya, nilai terbesar yang ia peroleh selama mondok bukan hanya ilmu agama, tetapi juga sikap hidup: taat kepada guru dan menghormati kiai.
“Dulu saya itu pokoke manut. Apa kata dawuh kiai, saya ikuti saja,” katanya, yang langsung disambut tepuk tangan para hadirin.
Ia juga berpesan kepada para santri agar tetap menjaga tradisi pesantren seperti ketawadhu’an dan ketekunan belajar, meskipun hidup di era modern.
Program Sanitasi yang Punya Misi Ekonomi
Program pembangunan sarana sanitasi di pesantren ini merupakan bagian dari aspirasi Ali Mufthi sebagai anggota DPR RI.
Program tersebut merupakan hasil sinergi antara Direktorat Pesantren Kementerian Agama dan Direktorat Prasarana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum.
Namun ada satu hal yang menjadi perhatian khusus Ali Mufthi: proyek pembangunan ini tidak boleh hanya dikerjakan oleh kontraktor besar.
Menurutnya, pembangunan justru harus melibatkan masyarakat sekitar.
“Jangan sampai pekerjaan ini diborongkan ke orang luar. Yang kerja harus warga sekitar supaya mereka juga dapat penghasilan,” tegasnya.
Bagi Ali Mufthi, pembangunan pesantren bukan hanya soal menghadirkan fasilitas, tetapi juga tentang menggerakkan ekonomi masyarakat desa.
Pesantren Tak Hanya Soal Ilmu Agama
Ali Mufthi berharap fasilitas sanitasi ini dapat menjadi bagian dari upaya membangun generasi santri yang lebih mandiri.
Menurutnya, santri tidak hanya perlu kuat secara spiritual, tetapi juga memiliki keterampilan praktis agar mampu bertahan setelah lulus dari pesantren.
“Santri harus punya skill juga. Jadi setelah keluar dari pondok, mereka bisa mandiri secara ekonomi,” katanya.
Rasa Syukur dari Pihak Pondok
Pengasuh Pondok Pesantren Darur Rohmah, Gus Ulil Albab, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas perhatian yang diberikan kepada pesantren.
Ia mengatakan pembangunan fasilitas sanitasi ini memang menjadi kebutuhan mendesak bagi lingkungan pesantren.
“Kami mewakili keluarga besar pondok dan para santri mengucapkan ribuan terima kasih kepada Bapak H. Ali Mufthi. Ini anugerah luar biasa bagi kami,” ujarnya.
Bagi pesantren Darur Rohmah, bantuan tersebut bukan hanya sekadar pembangunan fisik, tetapi juga harapan baru agar lingkungan belajar santri menjadi lebih sehat dan layak.
“Semoga apa yang diupayakan beliau membawa keberkahan dan menjadi amal jariyah bagi beliau dan keluarganya,” pungkas Gus Ulil.
Di halaman pesantren yang sederhana itu, kisah tentang sanitasi, pesantren, dan perjalanan hidup seorang santri yang kini duduk di Senayan seolah bertemu dalam satu cerita: bahwa dari pesantren kecil di desa, jalan menuju masa depan bisa dimulai. (*)





