Tenang di Sisi-Nya

Ramadhan hari ke 6

Tenang di Sisi-Nya

Ramadhan selalu datang membawa janji ketenangan. Namun, tidak setiap hati otomatis menjadi teduh hanya karena kalender berganti ke bulan suci. Ibadah meningkat, dzikir diperbanyak, doa dipanjatkan lebih khusyuk dari biasanya, tetapi kegelisahan kadang masih menyelinap. Kita masih terusik oleh penilaian orang lain, masih membandingkan diri, masih berharap diakui, dan kecewa ketika pengakuan itu tak kunjung datang.

Lalu, di manakah sebenarnya ketenangan itu berada?

Sering kali kita mencarinya di luar diri. Kita berharap suasana yang hening akan mendamaikan hati. Kita berharap keberhasilan menghadirkan rasa cukup. Kita berharap pujian menenangkan jiwa. Padahal ketenangan di sisi-Nya bukanlah hasil dari situasi yang sempurna, melainkan dari hati yang menempatkan diri secara benar: sebagai hamba.

Sebagai hamba, penulis pernah mendapat nasihat dari guru tarekat, Gus Mudjib Musta’in. Beliau mengingatkan agar seorang hamba lebih memperbanyak dzikir daripada sekadar memperbanyak doa.

Nasihat ini bukan untuk meremehkan doa, melainkan untuk menguatkan fondasi kesadaran. Doa sering kali berisi permintaan, sedangkan dzikir adalah pengingat. Dalam dzikir, kita kembali pada kesadaran paling mendasar—bahwa kita bukan pusat dari segala sesuatu. Kita hanyalah hamba yang berjalan, kadang tersandung, kadang lelah, namun selalu dipanggil untuk kembali.

Dzikir bukan sekadar rangkaian lafaz yang diulang. Ia adalah latihan meredam ego, latihan mengubur rasa “aku” yang ingin meninggi. Proses ini tidak mudah. Yang paling berat bukanlah memperbanyak jumlah dzikir, melainkan menjaga kualitasnya. Sebab keinginan untuk merasa lebih baik dari orang lain begitu halus. Ia bahkan bisa muncul di tengah ibadah. Kita merasa lebih rajin, lebih paham, lebih dekat. Tanpa disadari, dzikir yang seharusnya meruntuhkan ego justru menjadi ruang baginya untuk tumbuh diam-diam.

Penulis juga pernah mendengar nasihat lain dari guru yang sama. Beliau mengutip kalimat dalam Al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari: “Kuburlah wujudmu di dalam bumi kerendahan; karena sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam dengan baik tidak akan sempurna buahnya.” Kalimat ini bukan ajakan untuk meniadakan diri sebagai manusia, melainkan ajakan memendam eksistensi yang bersumber dari ego. Mengubur rasa ingin berada di atas, agar yang tumbuh adalah ketulusan.

Kesombongan tidak pernah melahirkan ketenangan. Ia mungkin memberi ilusi keunggulan, tetapi sekaligus menutup pintu penerimaan. Ketika merasa lebih baik, kita berhenti mendengar. Kita sulit menerima nasihat dan cenderung menganggap pendapat sendiri paling benar. Hati yang enggan menerima adalah hati yang sempit. Ia sibuk membandingkan, mengukur, dan ingin berada di atas. Padahal ketenangan lahir dari kelapangan, dan kelapangan hanya tumbuh di tanah kerendahan.

Rendah hati membuat kita mudah menerima nasihat. Ia menolong kita melihat bahwa orang lain pun memiliki kelebihan yang tak kita miliki. Dengan rendah hati, kita berhenti sibuk membandingkan diri. Di situlah hati mulai lapang.

Ketika hati lapang, menerima takdir menjadi lebih ringan. Hidup tidak lagi harus selalu sesuai dengan keinginan pribadi. Kita tidak gelisah ketika orang lain tampak lebih berhasil, dan tidak kecewa berlebihan saat tak diakui. Kita memahami bahwa kelebihan dan kekurangan berjalan beriringan. Apa yang tidak kita miliki mungkin ada pada orang lain, dan apa yang kita miliki hanyalah titipan, bukan keunggulan mutlak.

Sering kali kegelisahan bermula dari keinginan sederhana: ingin diakui. Ego ingin dihargai, dipuji, dan dilihat. Ketika pengakuan itu tidak datang, hati merasa kecewa. Dari kecewa lahir kegelisahan, dan ketenangan pun menjauh. Jika nilai diri digantungkan pada penilaian manusia, maka ia akan selalu rapuh. Hari ini dipuji, esok bisa dilupakan. Hari ini dihargai, esok mungkin diremehkan.

Sebaliknya, hati yang bersandar kepada Allah tidak mudah goyah. Ia tidak sibuk membuktikan diri. Ia tidak gelisah karena tidak disebut-sebut. Ia tidak kecewa berlebihan ketika tak terlihat. Ia sadar bahwa yang terpenting bukan siapa yang mengakui, tetapi siapa yang mengetahui. Dan Allah Maha Mengetahui.

Di bulan Ramadhan ini, ketenangan di sisi-Nya bukan berarti bebas dari masalah, bukan pula semua harapan terkabul sesuai keinginan. Ketenangan adalah kelapangan menerima apa pun yang datang. Ia lahir ketika kita berani memendam ego, tidak merasa lebih baik dari siapa pun, dan tidak lagi haus pengakuan.

Ketenangan di sisi-Nya tumbuh saat kita rela mengecil agar Allah membesarkan jiwa dengan keikhlasan. Ketika berhenti meninggi, kita ditinggikan dalam makna. Ketika berhenti membandingkan, kita mulai menikmati perjalanan. Ketika berhenti menuntut pengakuan, kita merasakan cukup.

Barangkali di sanalah rahasia itu berada:

Tenang bukan karena dunia memuji.

Tenang bukan karena merasa paling suci.

Tetapi tenang karena tahu diri—sebagai hamba yang belajar rendah hati di sisi-Nya. (*)