Oleh Djoko Tetuko
Sungguh mulia umat Islam sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW. Betapa tidak, Rasulullah SAW telah menjalani sebuah perjalanan agung dalam peristiwa Isra Mikraj—dengan kehendak Allah SWT—hingga menembus Sidratul Muntaha dan berjumpa langsung dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam perjumpaan yang mahaagung itu, Rasulullah SAW dengan penuh takzim mengucapkan salam kehormatan:
At-tahiyyatul mubārakātush shalawātuth thayyibātu lillāh
Segala penghormatan, keberkahan, shalawat, dan kebaikan hanyalah milik Allah.
Allah SWT pun menjawab:
Assalāmu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh
Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan Allah tercurah kepadamu, wahai Nabi.
Namun, keindahan akhlak Rasulullah SAW tampak jelas ketika beliau tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Dengan penuh cinta kepada umatnya, beliau menjawab:
Assalāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhish shāliḥīn
Semoga keselamatan tercurah kepada kami dan seluruh hamba Allah yang saleh.
Mendengar dialog agung tersebut, seluruh penghuni langit dan bumi bersaksi:
Asyhadu an lā ilāha illallāh wa asyhadu anna Muḥammadar rasūlullāh
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
Imam al-‘Izz bin Abd as-Salam—sebagaimana dikutip NU Online dalam Maqāṣid al-‘Ibādāt—menjelaskan secara spiritual bahwa:
- Kalimat at-tahiyyāt… dan asyhadu an lā ilāha illallāh berhubungan langsung dengan Allah SWT.
- Kalimat assalāmu ‘alaika ayyuhan nabiyyu… dan asyhadu anna Muḥammadar rasūlullāh berhubungan dengan Rasulullah SAW
Kalimat assalāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhish shāliḥīn berhubungan dengan seluruh hamba Allah yang saleh, baik penduduk bumi maupun langit.
Hal ini menunjukkan bahwa shalat adalah koneksi spiritual universal: menghubungkan hamba dengan Allah, Rasulullah, diri sendiri, dan seluruh orang beriman.
Karena itulah Rasulullah SAW bersabda bahwa shalat adalah “Mi‘rajul Mukminin”—mikrajnya orang-orang beriman. Shalat menjadi perjalanan spiritual yang terus-menerus, sarana taqarrub (mendekatkan diri), munajat, dan penguatan hubungan dengan Allah SWT melalui kekhusyukan dan kesadaran penuh, yang kemudian berdampak pada akhlak dan kehidupan sosial.
Isra Mikraj sendiri merupakan peristiwa monumental dalam sejarah Islam:
- Isra adalah perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.
- Mikraj adalah perjalanan dari Masjidil Aqsa menuju langit hingga menghadap Allah SWT.
Peristiwa ini sekaligus menjadi momentum ditetapkannya kewajiban shalat lima waktu, satu-satunya ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT tanpa perantara.
Baik shalat wajib maupun sunnah adalah ibadah paling istimewa, karena di dalamnya terdapat dzikir, penghambaan, dan kesempatan mikraj di setiap waktu.
Dengan peluang mikraj yang terus terbuka melalui shalat, Allah SWT menjamin ketenangan batin hamba-Nya: hati yang merasa cukup, kaya, dan terlindungi dari kemiskinan jiwa. Inilah ciri umat yang paripurna.
Seorang mukmin akan menjalani dan menikmati kehidupan dengan ibadah, sementara Allah SWT mencukupi kebutuhannya. (*)





