Kediri  

Faisol: “Saya Dipaksa Mengaku Terpeleset,” Berujung Operasi di RS Daha Husada Kediri

Faisol: “Saya Dipaksa Mengaku Terpeleset,” Berujung Operasi di RS Daha Husada Kediri
Eka Faisol Umami menunjukkan foto kondisi dirinya usai operasi kaki saat berada di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Jawa Timur, Selasa (10/3/2026). Mantan warga binaan Lapas Kelas IIA Kediri itu melaporkan dugaan pengeroyokan yang ia klaim terjadi saat berada di ruang Kamtib lapas.(Foto: Moch Abi Madyan).

Sebuah metode pengobatan tradisional yang mungkin efektif untuk keseleo ringan, tetapi terasa janggal ketika diterapkan pada kasus yang ternyata lebih serius.

Menurut Faisol, Catur segera menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

“Dipijat urat-uratnya itu tidak apa-apa, cuma waktu dipijat itu ada terasa ada suara gletek-gletek (bagian tulang.red) dan itu (Catur.red) sadar kalau patah tulang,” kenang Faisol.

Menyadari risiko yang mungkin timbul, sang tukang pijat memilih berhenti. Ia tampaknya disinyalir paham bahwa memperbaiki tulang patah bukan bagian dari paket layanan pijat refleksi.

Beberapa jam kemudian, Faisol akhirnya dibawa ke RS Daha Husada Kediri. Di sana ia menjalani operasi pada kaki kirinya. Ironisnya, menurut Faisol, proses medis itu berlangsung tanpa kehadiran keluarganya.

Ia mengatakan tidak ada istri atau keluarga yang mendampinginya saat operasi berlangsung. Persetujuan tindakan medis tetap berjalan, seolah tubuhnya adalah perkara yang harus segera dibereskan tanpa perlu menunggu kehadiran orang terdekat.

Setelah bebas dari masa pidana, Faisol memilih membawa perkara itu ke jalur hukum. Ia melaporkan dugaan pengeroyokan dalam hotel prodeo yang menurutnya melibatkan lima oknum petugas lapas berinisial W, R, D, F, dan A dihadapan penyidik Polda Jatim.

Proses pelaporan itu juga membawanya menjalani pemeriksaan medis lanjutan di RS Bhayangkara Surabaya, termasuk visum dan rontgen.

Hasilnya, kata Faisol, tulang di kakinya belum sepenuhnya pulih. Pada layar rontgen, kenyataan tampak lebih terang daripada cerita terpeleset yang dulu diminta darinya.

“Pihak Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya memberikan saran medis agar saya tidak mengangkat beban berat dan menjaga nutrisi untuk mempercepat pemulihan,” tutupnya.

Namun bagi Faisol, beban yang ia pikul hari ini bukan sekadar tulang yang belum menyatu. Beban itu adalah ingatan tentang sebuah tempat yang seharusnya menjadi ruang pembinaan, tetapi dalam ceritanya justru terasa seperti panggung kecil tempat logika diminta mundur, dan kebenaran diminta terpeleset.(*)

Penulis: Moch Abi Madyan