Menurut Mia, tujuan utama pasar murah adalah memberikan rasa aman kepada masyarakat terkait ketersediaan bahan pokok. Selain memastikan stok tetap tersedia, kegiatan ini juga menjadi salah satu langkah menjaga stabilitas harga dan mengendalikan potensi inflasi.
“Kita ingin masyarakat tidak khawatir soal ketersediaan barang. Dengan adanya pasar murah, komoditas yang berpotensi memicu kenaikan harga tetap tersedia dan bisa diakses dengan mudah,” tuturnya.
Ia menjelaskan, kenaikan harga pada beberapa komoditas, seperti cabai, sering kali dipengaruhi faktor eksternal, misalnya gangguan produksi di daerah penghasil akibat cuaca atau curah hujan tinggi. Namun berdasarkan data yang dikoordinasikan bersama Badan Pusat Statistik (BPS), harga kebutuhan pokok di Surabaya selama Januari hingga Februari masih relatif stabil.
Untuk menjaga kondisi tersebut selama Ramadan, Dinkopumdag melakukan pemantauan harian di pasar-pasar pantauan. Jika ditemukan kenaikan signifikan, pihaknya langsung berkoordinasi dengan dinas terkait, termasuk Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), guna menelusuri penyebab dan mencari solusi cepat.
Selain itu, Pemkot Surabaya juga menjalin kerja sama langsung dengan sejumlah daerah penghasil bahan pangan. Komoditas dari daerah yang telah menandatangani nota kesepahaman dengan Pemkot kemudian didistribusikan ke Surabaya, khususnya untuk produk pertanian seperti sayur, buah, dan beras, guna menjaga ketersediaan dan stabilitas pasokan di dalam kota.
Dia menyebutkan, pasar murah ini bukan hanya soal harga lebih terjangkau, tapi juga upaya menjaga keseimbangan pasar. Harapannya, harga tetap stabil dan masyarakat bisa berbelanja dengan tenang selama Ramadan. (*)





