SURABAYA, WartaTransparansi.com – Guyonan politik Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, yang mengajak Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bergabung ke Partai Golkar, sukses memancing perhatian publik. Candaan yang dilontarkan di hadapan ribuan pengurus DPD kabupaten/kota itu langsung ramai dibicarakan, terutama di media sosial.
Menanggapi hal tersebut, pengamat sosial sekaligus Dekan FISIP Universitas Trunojoyo Madura, Surokim Abdussalam, menilai dinamika politik memang wajar terjadi. Dalam politik, kata dia, perpindahan partai bukan hal baru. Namun begitu, bukan berarti bisa dilakukan tanpa pertimbangan matang.
“Politik itu dinamis, tapi tetap harus selektif dan cermat. Netizen sekarang sensitif, publik juga makin kritis,” ujar Surokim kepada WartaTransparansi.com, Rabu (18/2/2026).
Menurutnya, selama tidak ada kondisi force majeure atau alasan prinsipil yang sangat kuat, sebaiknya perpindahan partai dihindari. Sebab, publik akan niteni atau mencermati dengan serius setiap langkah politik seorang figur. Apalagi Emil Dardak selama ini dikenal sebagai politisi muda yang punya rekam jejak dan basis pendukung yang jelas.
Surokim menambahkan, di tengah situasi politik yang cair, sosok pejabat publik yang teguh dan konsisten justru semakin langka. Karena itu, tawaran politik—meskipun terlihat menggiurkan—perlu dipertimbangkan dengan kepala dingin. “Jangan mudah goyah iman politiknya. Hitung betul dampak persepsinya di mata publik,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat kini tidak hanya melihat posisi, tetapi juga loyalitas dan daya juang seorang politisi terhadap partainya. Rekam jejak menjadi salah satu tolok ukur penting sebelum publik memberikan dukungan.
Meski begitu, Surokim menilai guyonan tersebut sebaiknya disikapi santai saja. Mengingat momentum Pilkada masih cukup jauh, tak perlu ada reaksi berlebihan. “Anggap saja pasemon politik. Tanggapi ringan, jangan dibawa terlalu serius,” pungkasnya. (amin istighfarin)





