Surabaya Deflasi -0,16 Persen di Januari 2026, Pemkot Siapkan Strategi Tekan Inflasi

Surabaya Deflasi -0,16 Persen di Januari 2026, Pemkot Siapkan Strategi Tekan Inflasi
Kota Surabaya mengalami deflasi sebesar -0,16 persen secara Month to Month (m-to-m) dan Year to Date (y-to-d) pada Januari 2026.

Selain menggelar Pasar Murah dan GPM, pemkot juga melakukan inspeksi mendadak (sidak) harga dan ketersediaan bahan pokok di pasar tradisional, toko swalayan dan gudang atau distributor. Rencananya, sidak tersebut akan dilakukan mulai 11 Februari dan 12 Maret 2026.

Agar inflasi dapat terus ditekan, pemkot melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) juga menggerakkan Kios TPID yang ada di berbagai lokasi, diantaranya Pasar Genteng Baru, Pasar Tambahrejo, Pasar Karah, Pasar Gubeng Masjid dan Pasar Balongsari. Adapun komoditas yang dijual di Kios TPID antara lain ada beras, gula, dan minyak.

“Kami juga akan terus melakukan moralsuation kepada masyarakat bahwa ketersediaan bahan pokok di Kota Surabaya masih sangat mencukupi,” ujarnya.

Dalam hal ini, Vykka mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga stabilitas harga dan menekan laju inflasi daerah. Menurutnya, partisipasi warga sangat penting dalam menekan laju inflasi di Kota Surabaya.

“Jadi bisa dimulai dari berbelanja bahan pokok secara bijak sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian bahan pokok secara berlebihan atau panic buying,” imbaunya.

Selain itu, ia berharap, masyarakat dapat memanfaatkan program-program pengendalian inflasi yang telah disediakan oleh Pemkot Surabaya ke depannya. Seperti pasar murah, GPM, dan juga pemanfaatan urban farming atau pertanian perkotaan. Warga juga bisa memanfaatkan urban farming untuk komoditas cabai, tomat, dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga. (*)

Editor: Wetly