“UB salah satu penyumbang riset dan inovasi yang aplikatif terbesar di Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Alhamdulillah, iklim akademik di sini sangat kuat dan ini tentu modal besar kita untuk mendorong pembangunan yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Dengan kemitraan dan sinergitas besar antara pemerintah dan perguruan tinggi seperti Universitas Brawijaya, dirinya yakin Jawa Timur dapat menjawab berbagai tantangan global seperti ketidakpastian ekonomi, perubahan iklim, serta dinamika geopolitik.
Sementara itu, dalam kesempatan ini Menteri Ketenagakerjaan RI Yassierli turut memaparkan orasi ilmiah bertemakan “Transformasi Pasar Kerja Indonesia: Peran Perguruan Tinggi dalam Optimalisasi Penyerapan Tenaga Kerja Profesional”.
Di hadapan seluruh yang hadir, Menteri Yassierli menjabarkan tantangan yang saat ini dihadapi di dunia kerja. Tak hanya itu, ia juga mengungkapkan pergeseran-pergeseran landscape ketenagakerjaan Indonesia dan global di tengah gempuran IT dan AI.
“Tentu ini berdampak kepada apa yang harus disiapkan oleh perturuan tinggi. Saya sampaikan untuk perguruan tinggi agar memperkuat dan harus terus berbenah. Bagaimana menghasilkan lulusan yang siap untuk bekerja di industri untuk mengatasi apa yang kita sebut dengan mismatch antara skill yang dimiliki oleh lulusan dengan kebutuhan yang ada di industri,” ujarnya.
Meski begitu, Menteri Yassierli optimis Universitas Brawijaya dapat memenuhi kebutuhan zaman. Pemerintah pusat sendiri, melalui Kementerian Ketenagakerjaan RI, telah menyiapkan berbagai program yang dapat mendukung keberseiringan skill lulusan dan kebutuhan industri.
“Kita punya program magang lulusan perguruan tinggi untuk 100 ribu orang. Dan ini adalah sebuah inisiatif dari Pak Presiden langsung. Ini salah satu upaya kita menyiapkan tenaga kerja untuk menjadi lebih baik selama 6 bulan. Sehingga mereka mendapatkan exposure terkait dengan dunia kerja seperti apa. Dan antusiasmenya luar biasa,” pungkasnya. (*)





