Selain itu, sektor pariwisata religi dan budaya juga mulai bergeliat. Akses udara yang semakin mudah membuka peluang kunjungan wisatawan ke destinasi seperti Makam para auliya, Gunung Klotok, dan kawasan wisata di sekitar Sungai Brantas.
Namun, Imam juga mengingatkan agar manfaat ekonomi bandara tidak hanya dirasakan investor besar.
“Pertanyaannya, apakah masyarakat lokal ikut menikmati manfaatnya? Jangan sampai mereka hanya jadi penonton,” tegasnya.
Ia mendorong pemerintah daerah memperkuat kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan wirausaha, pendidikan vokasi, serta kemitraan UMKM dengan investor besar.
Menurutnya, dengan strategi tersebut, ekonomi rakyat bisa tumbuh seiring investasi besar yang masuk. Imam juga melihat peluang Kediri bertransformasi menjadi kota logistik modern, apalagi jika Bandara Dhoho terintegrasi dengan jalur arteri selatan dan jaringan kereta api.
“Efisiensi distribusi barang akan meningkat, dan potensi ekspor produk unggulan seperti kopi, gula, serta hasil pertanian makin besar,” ujar pria yang bergelut sebagai pengusaha daur ulang limbah sampah di Kota Kediri.
Bagi Imam, Bandara Dhoho bukan sekadar infrastruktur transportasi, tetapi simbol perubahan arah pembangunan daerah.
“Bandara Kediri adalah energi baru bagi transformasi ekonomi berbasis konektivitas dan kolaborasi. Energi ini harus mengalir merata hingga ke kampung-kampung, pasar rakyat, dan pelaku UMKM,” pungkasnya.(*)





