Kamis, 22 Februari 2024
26 C
Surabaya
More
    OpiniDebat Capres dan Cawapres Seri lll “Perang Kesabaran”

    Debat Capres dan Cawapres Seri lll “Perang Kesabaran”

    Oleh Djoko Tetuko

    Tiga hari lagi debat calon presiden dengan didampingi wakil presiden sesuai jadwal akan digelar Komisi Pemilihan Umum, 7 Januari 2024, atau debat capres dan cawapres ketiga. Rekam jejak perkembangan debat sudah ditafsirkan para pengamat dan masing-masing juru bicara. Juga plus minus dari materi dan substansi debat itu sendiri, terus menggelinding.

    Penilaian publik terhadap debat antar cawapres salah satunya terekam dalam hasil jajak pendapat Litbang Kompas yang dilakukan sepanjang debat cawapres berlangsung pada Jumat (22/12/2023) malam. Responden umumnya menilai baik performa para kandidat sepanjang debat selama enam segmen.

    Dari skala penilaian 1-10, baik cawapres nomor urut 1 Muhaimin Iskandar, nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka, maupun nomor urut 3 Mahfud MD mendapatkan skor rata-rata di atas tujuh.

    Penilaian responden itu setidaknya terbagi dalam tiga aspek, yakni kelancaran dan kejelasan menjawab pertanyaan, penguasaan masalah yang didiskusikan, serta penampilan. Muhaimin pada tiga aspek tersebut berturut-turut mendapatkan poin 7,0, 7,1, dan 7,8. Perolehan poin Gibran adalah 7,1, 7,1, dan 7,3. Adapun Mahfud meraih poin 7,5, 7,6, dan 7,5.

    Suara mengambang atas debat capres dan cawapres, kelihatan sengaja “diambangkan”, karena muncul ketidakpercayaan atas hasil survei dengan hasil dianggap kurang mewakili seluruh pemilih. Bahkan memotret dari sudut itu itu saja. Sehingga tidaklah berlebihan menyebut debat capres dan cawapres adalah “perang kesabaran”, mengingat semua pihak saling mengintip dan saling melempar isu “memanaskan” dan “mendinginkan” dengan maksud serta tujuan, sama-sama menghancurkan lawan, dan memindahkan dukungan suara sebanyak-banyaknya.

    Meminjam Hukum Fiqih Nahdlatul Ulama, populer disebut Ijma dan qiyas. Maka tahun politik dengan hasil akhir memilih presiden dan wakil presiden, wakil rakyat di DPD RI, DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota, maka “perang kesabaran” semua pihak wajib dikedepankan. Tanpa meragukan bahwa semua peristiwa ini terjadi semata mata digerakkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka khusus tahun politik 2024, membutuhkan kesabaran ekstra.

    Baca juga :  Mari Kita Sambut Kemenangan Prabowo-Gibran

    Seperti diketahui dari nu.online, bahwa Ijma berarti ‘kesepakatan’ atau konsensus dan ketetapan hati untuk melakukan sesuatu. Mayoritas ulama mendefinisikan ijma sebagai kesepakatan seluruh mujtahid pada suatu masa terhadap suatu hukum syara’ setelah wafatnya Rasulullah. Fungsi ijmak antara lain:

    (1). Mengeliminir kesalahan-kesalahan dalam berijtihad, yang mungkin saja terjadi jika ijtihad dilakukan secara individual saja.

    (2). Menyatukan pendapat-pendapat yang berbeda melalui kesepakatan yang dicapai, dan

    (3). Menjamin penafsiran yang tepat atas Al-Qur’an dan keotentikan hadis.

    Sedangkan Qiyas adalah menganalogikan suatu masalah yang belum ada ketetapan hukumnya (nash/dalil) dengan masalah yang sudah ada ketetapan hukumnya karena adanya persamaan ‘illat. Menganalogikan diartikan sebagai mempersamakan dua persoalan hukum sekaligus status hukum di antara keduanya. Dalam pelaksanaanya, qiyas harus memenuhi rukun-rukun sebagai berikut:

    (1).  Ashl (Maqis alaih): yaitu masalah yang sudah ada ketetapan hukumnya atau sudah ada nashnya, baik dari Al-Qur’an maupun hadits.

    (2). Furu’ (Maqis): yaitu masalah yang sedang dicari ketetapan hukumnya.

    (3). Hukum Ashl: yaitu hukum masalah yang sudah ditetapkan oleh nash.

    (4). Illat: yaitu sifat yang terdapat dalam ashl, dengan syarat: sifatnya nyata dan dapat dicapai dengan indera, konkrit tidak berubah, dan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

    Baca juga :  Mari Kita Sambut Kemenangan Prabowo-Gibran

    Dalam mengambil setiap hukum pastilah ada rujukan atau tempat diambilnya suatu keputusan, yaitu sumber hukum Islam yang tentunya sumber yang pokok dan utama adalah Al-Qur’an dan diperjelas oleh hadits.

    Di samping itu ada pula bermacam macam metode yang merupakan produk dari penemuan para ulama yang selanjutnya terus mengalami perkembangan dengan pesat berdasarkan permasalahan yang semakin kompleks.

    Politik Sabar dan Damai

    Tahun politik dengan peperangan digital begitu dahsyat. Juga percepatan komunikasi digital dalam sekejab mengubah “keimanan politik”, supaya perubahan atau keinginan mengubah atau diubah oleh keinginan luhur, maka sekali lagi membutuhkan kesabaran ekstra. Sehingga memang harus berpolitik dengan sabar dan damai.

    Sekedar memberikan gambaran ketika wahyu memindahkan kiblat dari Masjidil Aqso ke Masjidil Haram, menimbulkan gesekan para ahli kitab. Maka Allah Subahanahu wa Ta’ala mengingatkan untuk kembali ke jalan paling hakiki, sebagimana surat Al-Baqarah, ayat 177 memberikan petunjuk sederhana, dalam melakukan kontemplasi sekaligus bercermin diri atas kebijakan dalam menenun kebajikan.

    “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Al Baqarah, ayat 177).

    Apa korelasinya dengan tahun politik dan pilihan politik? Memilih pemimpin atau memilih petugas partai atau para calon pemimpin pilihan partai, di eksekutif dan legislatif. Bukan sekedar timur dan barat, hitam dan putih. Tetapi merekam hakiki kehidupannya dalam  berbangsa, bernegara, dan beragama.

    Baca juga :  Mari Kita Sambut Kemenangan Prabowo-Gibran

    Tentu saja dengan kesabaran tertinggi, yaitu, “… sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan.” Jika hari ini hingga hari pencoblosan adalah peperangan menentukan nasib negara dan bangsa Indonesia ke depan sesuai harapan, untuk mewujudkan, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, maka itulah pilihan paling tepat. Bukan sekadar ikut ikutan. Apalagi memilih dengan pilihan buta. Inilah hakiki kesabaran dalam “perang kesabaran”. Mengoreksi kembali rekam jejak kebenaran dan kejujuran.

    Debat capres dan cawapres serta kampanye para calon legislatif adalah perwujudan demokrasi. Guna mewujudkan pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak yang sama untuk pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka.

    Demokrasi juga mengizinkan warga negara ikut serta—baik secara langsung atau melalui perwakilan—dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum.

    Demokrasi juga mencakup kondisi sosial, ekonomi, adat dan budaya yang memungkinkan adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara.Demokrasi juga merupakan seperangkat gagasan dan prinsip tentang kebebasan beserta praktik dan prosedurnya.

    Demokrasi mengandung makna penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia.

    Oleh karena itu asas, demokrasi mencakup kebebasan berkumpul, kebebasan berserikat dan kebebasan berbicara, inklusivitas dan kebebasan politik, kewarganegaraan, persetujuan dari yang terperintah, hak suara, kebebasan dari perampasan pemerintah yang tidak beralasan atas hak untuk hidup, kebebasan, dan kaum minoritas.

    Rasulullah memberikan garis garis besar dengan menyatakan, “bahwa perbedaan antar-umat adalah rahmat”. Jika perbedaan itu semata mata menuju satu tujuan sebagai kebajikan para pemimpin yang sungguh-sungguh. (*)

    Penulis : Djoko Tetuko

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan