Sebaliknya, bila yang segelintir orang kaya tambah memperkaya diri lupa segala harta, kekayaan, kekuasaan dan jabatan akan dimintai pertanggung jawaban, maka persaingan kotor sulit terhindarkan.
Sesuai firman Allah SWT:
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ ٱلْخُلْدَ ۖ أَفَإِي۟ن مِّتَّ فَهُمُ ٱلْخَٰلِدُونَ
“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? (QS Al-Anbiya: 34).
Begitu pula kita sering mendengar ucapan bila mengetahui ada orang meninggal, selaras firman Allah:
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).
Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan,” (QS Al-Anbiya: 35).
Hal yang perlu diperhatikan adalah anak Adam yang meninggal, maka terputuslah seluruh amalnya, kecuali shodaqoh jariyah, ilmu bermanfaat dan anak saleh yang mendoakan kedua orangtuanya.
Semoga dari kajian dan perenungan bersama, para politisi menata niat untuk beribadah, bukan sekedar memenuhi hasrat menjadikan kekuasaan sebagai pamer kesombongan. Nauzubillah. (*)





