Sabtu, 24 Februari 2024
28 C
Surabaya
More
    Jawa TimurBanyuwangiMiris, Dunia Pendidikan Kabupaten Banyuwangi Belum Aman Dari Kekerasan Antar Pelajar

    Miris, Dunia Pendidikan Kabupaten Banyuwangi Belum Aman Dari Kekerasan Antar Pelajar

    BANYUWANGI (Wartatransparansi.com) – Miris, Dunia pendidikan di Kabupaten Banyuwangi masih belum meredakan kasus kekerasan anak di lingkungan sekolah. Pasalnya, kejadian miris kembali terjadi pada hari Sabtu, 7 Oktober 2023 lalu, bullying kekerasan terhadap pelajar kelas 7 di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Glagah, Banyuwangi.

    Pelajar SMPN 2 Glagah tersebut berinsial RS yang diduga menjadi korban bullying kekerasan (pengeroyokan) yang dilakukan oleh kakak kelasnya. Sehingga menjadikan orang tua geram dan harus melaporkan ke pihak berwajib.

    Saat ditemui wartatransparansi.com RS mengaku dirinya tidak tahu penyebabnya, awalnya peristiwa terjadi saat dia melaksanakan tugas bersih-bersih/piket kelas tiba tiba di hampiri pelajar lainnya sebut saja DM yang mengatakan RS yang menantangnya.

    “Sekitar jam 07.00 saat saya menyapu di kelas tiba tiba dia (DM) mendatangi saya dengan mengatakan ‘katanya kamu menantang saya’ dan ia pun hanya diam saja tidak menghiraukan, lalu DM keluar dan kembali bersama beberapa pelajar kakak kelasnya dan saya di tarik keluar ke arah belakang kelas kemudian terjadi pengeroyokan kepada saya,” ungkap RS, Rabu (18/10/2023).

    Baca juga :  Rotasi Jabatan Dalam Memaksimalkan Kinerja, Bupati Banyuwangi Lantik 51 Pejabat

    “Karena dikeroyok saya akhirnya melarikan diri ke ruang guru dengan mengadukan kepada wali kelasnya, kemudian semua yang melakukan pemukulan terhadap saya di panggil namun saya tidak tahu apa yang disampaikan, dihukum atau tidak,” imbuhnya.

    Disisi lain, Silvi selaku orang tua ibu kandung RS menguatkan apa yang diceritakan anaknya itu, ia mulanya tidak mengetahui yang terjadi pada anaknya tersebut dikarenakan waktu itu RS hanya minta libur sekolah karena sakit yang dianggapnya kecapekan, ibunya itupun tidak menaruh curiga apa yang sebenarnya terjadi.

    “Awalnya saya tidak curiga anaknya mengeluh sakit hingga minta ijin tidak masuk sekolah, saya mengiyakan selama dua hari namun selanjutnya ketika anaknya di suruh sekolah menjawab berulang dengan nada memelas ‘sekolah ya ma’ dengan tidak kompromi saya marah dan memaksa untuk pergi ke sekolah, akhirnya saya antar untuk masuk,” ujarnya.

    Baca juga :  Digelar Tiga Hari, Festival Pecinan Banyuwangi Angkat Kuliner dan Kesenian Khas Tionghoa

    Kebetulan juga kata Silvi ingin menghadap guru karena ada yang ingin di sampaikan soal kekurangan pembayaran. Gurunya mengatakan kalau RS habis berantem dan cerita itu ia pikir hanya berantem biasa karena kenakalan anak.

    “Saya pun diam tidak memanjangkan ceritanya tersebut, menurut saya karena hanya menganggap kenakalan pada anak, lalu waktu jemput pulang sekolah saya bertemu teman satu kelasnya dan saya menanyakan anak saya, si anak ini mengatakan kepada saya bahwa RS kemarin habis berantem dan dia di keroyok oleh 6 anak, saya pun kaget dan geram setelah tahu hal itu,” ucapnya.

    Silvi menambahkan setelah itu dirinya memusyawarahkan dengan suami, dan dia menyarankan agar saya melaporkan saja ke Polisi.

    Baca juga :  Perolehan Hasil Suaranya Hilang, Caleg PAN Banyuwangi Menduga Ada Kecurangan

    “Akhirnya, saya melapor ke Polsek setempat dan di terima. Kemudian saya di suruh memeriksakan anak saya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blambangan untuk visum. Ini sudah selesai di periksa, dan informasi dari pihak rumah sakit, nanti hasil pemeriksaan langsung di kirim ke pihak Polsek,” pungkasnya. (*)

    Reporter : Nur Muzayyin

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan