Sabtu, 18 Mei 2024
30 C
Surabaya
More
    Renungan PagiJalani Hidup Apa Adanya

    Jalani Hidup Apa Adanya

    Oleh H.S. Makin Rahmat (Santri Pinggiran, Wartawan UKW Utama, Ketua SMSI Jatim)

    Alhamdulillah, Rabu (23/8/2023) menjadi hari cukup istimewa. Kudrotillah, Al Faqir mendapatkan mandat untuk mengisi pengajian interaktif di hadapan manajemen

    Hotel Bumi Surabaya dengan tema: “Mengisi kemerdekaan dan Meningkatkan Etos Kerja.”

    Ya seperti air mengalir saja, setelah mukadimah dengan menomorsatukan Allah SWT dan menyampaikan sholawat dan salam kepada manusia Agung Baginda Rasulullah SAW, mulai kami mengajak seluruh yang hadir dalam majelis menata niat, perkataan dan hati pada fitrah awal sebagai hamba yang diciptakan untuk beribadah kepada Sang Khalik.

    Konsep mendasar ini harus tertanam dalam jiwa dan sanubari kita. Sebagai seorang muslim tentu menjadi kewajiban menunaikan salat. Hakekat dari ibadah salat, bukan sekedar mampu menghindari perbuatan fasikh dan munkar tapi komitmen independen personal dan sosial kepada Allah yang kita sembah. Bacaan dalam salat berisi pujian, permohonan dan doa sebagai wujud interaksi seorang hamba dengan berbagai kelemahan. Ada nilai kebersamaan, taat imam, dan jiwa sosial berkesinambungan dalam pelaksanaan sehari-hari.

    Bagaimana saat kita bertakbirrotur ikhram disertai niat dengan membaca: Allahuakbar (Allah Maha Besar). Pernyataan sikap dan kepasrahan harus dimiliki bahwa hanya Allah yang Maha Besar, kita ini hambaNya kecil, bahkan sangat kecil sekali. Inilah bentuk pengakuan bahwa kita tidak bisa apa-apa.

    Begitu pula ketika ruku’ membaca: Subhaana rabbiyal adziimi wabihamdi (Maha Suci Allah Yang Maha Agung, serta memujilah aku kepadaNya). Maka yang berhak dipuji hanya Allah. Saat i’tidal (berdiri usai ruku’) membaca: sami’allahu liman hamidah (Allah mendengar orang yang memujiNya). Lantas sujud membaca: Suhnana rabbiyal a’laa wabihamdi (Maha Suci Allah di tempat paling tinggi serta memujilah aku kepadaNya)

    Baik ketika ruku’, i’tidal dan sujud mempunyai komitmen selaras bahwa kita ini tiada apa-apa dan siapa-siapa, manusia ini hinadina, kotor berlumur dosa hanya patut memuji kepada Dzat Yang Maha Suci dan Pengampun.

    Singkatnya, rangkaian ibadah salat sangat bersinggungan langsung dengan kehidupan kita sehari-hari. Termasuk dalam mengisi kemerdekaan. Selain perintah taat kepada Allah dan Rasulnya juga diminta patuh kepada pemimpin sesuai firman Allah SWT dalam QS An-Nisa ayat 59: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan ulil amri (pemegang kekuasaan) diantara kamu…”

    Persoalan muncul saat kita merasa didzalimi, diperlakukan tidak adil, sewenang-wenang. Coba sekarang kita muhasabah (instrospeksi diri) sudahkah kita seimbang dengan segala kenikmatan yang telah diberikan Sang Maha Rahman Rahiim? Berupa kesehatan, kesempatan bisa bekerja, dianugerahi fisik sempurna (fii ahsani takwim), pernahkah terpikir oleh kita untuk memberikan kompensasi. Saat menghirup oksigen tidak pernah ada retribusi, diberikan kemampuan melihat, mendengar dan kemampuan berpikir logis, siapa yang menggerakkan adakah tagihan yang harus dibayar? Tentulah Dzat Pengatur alam semesta yang memberikan kepada kita tanpa pandang bulu.

    Bila kita berpikir positif thinking, maka memunculkan aura yang menumbuhkan bilur biji keberkahan. Sebaliknya, bila hidup kita dipenuhi sifat menuntut, artinya meminta hak lupa kewajiban akan terjadi ketimpangan. Di sinilah muncul virus sifat iblis ingin dihormati, suka bergunjing, mengumbar ghibah dan fitnah. Maka, dalam posisi apapun tidak akan menemukan nilai syukur. Padahal, Allah SWT sudah berfirman: “Barang siapa bersyukur akan nikmatKu pasti akan Aku tambah kenikmatan, sebaliknya jika mengkufuri nikmat Allah, tunggu adzab yang pedih.”

    Bagaimana solusinya? Tentu Hadapi hidup ini dengan apa adanya, tidak muluk-muluk dan cemburu dengan keberhasilan orang lain. Karena urusan rejeki, jabatan dan kedudukan itu bagian dari hak prerogratif Allah. Buat apa rejeki berjibun kalau terus diuji sakit, anak tidak berbakti, apalagi sampai terlibat kenakalan remaja dan narkoba. Lantas pasangan hidup kita selingkuh dan beragam ujian serta adzab bisa menimpa kita. Nauzubillah.

    Kita harus ingat, mengisi kemerdekaan itu bagian dari tugas utama sebagai warga negara. Walau bukan hadits, fatwa Hadratus Syech KH Hasyim Asy’ari: “Hubbul Wathon Minal Iman (cinta tanah air sebagian dari iman) patut kita renungkan bersama.

    Sebab jauh-jauh hari sebelum masa hidupnya jargon ini sudah dikenal dan diakui kebenarannya di lingkungan ulama Islam. Imam as-Sakhawi menjelaskan:
    لَمْ أَقِفْ عَلَيْهِ وَمَعْنَاهُ صَحِيْحٌ فِي ثَالِثِ الْمُجَالَسَةِ لِلدَّيْنَوَرِيِّ مِنْ طَرِيْقِ الْأَصْمَعِيِّ سَمِعْتُ اَعْرَابِيًّا يَقُوْلُ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ الرَّجُلَ فَانْظُرْ كَيْفَ تَحَنُّنُهُ إِلَى أَوْطَانِهِ وَتَشَوُّقُهُ إِلَى إِخْوَانِهِ وَبُكَاؤُهُ عَلَى مَا مَضَى مِنْ زَمَانِهِ
    “Aku tidak menjumpai riwayat ‘hubbul wathan minal iman’ sebagai hadits, sama sekali sebagai hadits, tapi secara substansial maknanya benar. Dalam bagian ketiga dari Kitab al-Mujalasah wa Jawahirul ‘Ilmi karya Abu Bakar Muhammad bin Marwan ad-Dinawari (w 333 H), dari jalur al-Asma’i terdapat riwayat: ‘Aku mendengar seorang badui berkata: ‘Apabila kamu ingin mengenali seseorang, maka perhatikan bagaimana kerinduannya pada tanah airnya, kekangenannya kepada kawan-kawannya dan tangisannya atas apa yang telah berlalu dari zamannya.” (Abdurrahman as-Sakhawi, al-Maqasid al-Hasanah minal Ahadits al-Masyhurah ‘alal Alsinah, [Dar al-Kitab al-‘Arabi], halaman 297).

    Dari sinilah kita bisa instrospeksi diri, karena Allah pasti akan mencatat dan meminta pertanggungjawaban terhadap apa yang kita lakukan, sesuai dalam QS Al Isro ayat 14:
    اِقْرَأْ كِتَابَكَۗ كَفٰى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيْبًاۗ
    “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.”

    Semoga dengan sekelumit paparan ini menambah semangat hidup kita. Kita harus selalu optimis dan bisa menghadapi roda kehidupan dengan segala lika-likunya. Ingat pesan sang Proklamator: “Jangan engkau tanyakan apa yang bisa diberikan negara, tapi tanyakan pada diri kalian, apa yang bisa diberikan kepada negara.” Wallahu a’lam bish-showab. (*)

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2023 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan