Jumat, 24 Mei 2024
31 C
Surabaya
More
    Politik PemerintahanBacaleg PAN Syafrudin Budiman: Politik Uang Merusak Mental Bangsa

    Bacaleg PAN Syafrudin Budiman: Politik Uang Merusak Mental Bangsa

    JAKARTA (Wartatransparansi.com) –Politisi Muda PAN Syafrudin Budiman SIP ikut merespon ucapan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar yang menyinggung soal politik uang dalam pemilu. Cak Imin sapaan akrabnya mengatakan suvenir harian dari caleg agar dipilih warga, ada yang seharga kulkas atau kalau diakumulasi mencapai 40 Milyar.

    Bagi Syafrudin Budiman SIP yang maju sebagai Bakal Calon Anggota Legeslatif (Bacaleg) Partai Amanat Nasional (PAN) DPR RI Dapil DKI Jakarta I terlalu berlebihan. Katanya, walaupun mau menunjukkan fakta realitas yang ada, tetapi politik berbasis uang harus dilawan secara moral.

    “Yang membuat negara ini rusak karena demokrasi banyak melahirkan koruptor yang disebabkan pemilu yang buruk. Jadi Cak Imin kita ajak bersama-sama melawan politik uang (money politik), mari kita bersama lakukan pendidikan politik,” ucap Gus Din sapaan akrab Syafrudin Budiman SIP kepada media, Minggu (13/8/2023) di Jakarta.

    Sebagai Caleg Muda PAN DPR RI Dapil DKI Jakarta I Jakarta Timur Gus Din lebih fokus kepada pemilih rasional dan berpendidikan. Terutama kata dia, pemilih Rasionalis, Ideologis dan Sosiologis yang memang menjadi target garapannya.

    Baca juga :  Realisasi Pendapatan Daerah Prov Jatim Lampui Target, Dewan Silahkan Dicermati

    “Sebagai aktivis dan relawan politik saya sudah bekerja lima tahun untuk pendampingan, advokasi, pemberdayaan kepada masyarakat secara umum. Sudah banyak jaringan yang telah digarap secara politik dan kegiatan politik khususnya di kalangan UMKM, Milenial dan Relawan Politik,” terang Gus Din.

    Menurutnya politik uang merusak mental Bangsa, karena itu dirinya akan terus melakukan komitmen dan kontrak politik rasional dengan berbagai komunitas. Hal ini kata Syafrudin Budiman untuk menghindari praktek money politik yang sangat riskan terjadi.

    “Demokrasi prosedural hanya melahirkan pemimpin-pemimpin yang menjadi calon koruptor. Berbeda dengan Demokrasi subtansial yang mengedepankan hard moral politik (politik yang kuat). Insya Allah dengan saya menyasar pemilih rasional dan berpendidikan akan mempermudah target dan perolehan suara pemilih,” tutup Gus Din Mantan Aktivis 98 Surabaya ini.

    Baca juga :  Pj. Gubernur Adhy Karyono Hadiri KTT Forum Air Sedunia di Bali

    Harga 1 Kursi DPR RI Mencapai 40 Milyar

    Sebelumnya, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menyinggung soal politik uang dalam pemilu. Cak Imin menyebut bahwa suvenir harian dari caleg kepada warga agar dirinya dipilih ada yang memberikan kulkas.

    Cak Imin awalnya menanggapi pidato eks Ketum PBNU Said Aqil Siroj terkait bahaya politik uang di acara pidato kebudayaan di Gedung Joang, Jakarta Pusat. Said Aqil sendiri memberikan pidato sebelum Cak Imin.

    “Apa yang disampaikan oleh Kiai Said dengan politik uang, yang kaya yang berkuasa, yang menang yang punya duit itu terbukti di lapangan dengan baik. Hari ini yang saya lihat wajah-wajah caleg-caleg yang kelihatannya miskin pasti masa depannya agak suram,” kata Cak Imin dalam tayangan YouTube NU Channel, Jumat (11/8/2023).

    Baca juga :  Adi Wibowo Bangga Kader SOKSI Jatim Berkontribusi untuk Golkar Di Parlemen 

    Cak Imin menginginkan agar para aktivis lolos ke Senayan. Akan tetapi dihadapkan dengan ongkos politik.

    “Saya sendiri sebagai salah satu yang menginginkan bahwa banyak aktivis yang harus duduk di legislatif, banyak yang latar belakang ideologisnya jelas, itu sampai hari ini agak prihatin, apalagi kalau di Jakarta,” kata dia.

    Dia kemudian mengaku prihatin dengan calon DPR RI yang maju dari daerah pemilihan Jakarta yang membutuhkan biaya politik yang mahal. Biaya politik menurutnya mencapai Rp 40 miliar pada pemilu.

    “Di Jakarta ini teman-teman yang jadi tiga-empat kali itu, itu kira-kira buat orang NU akan sangat tidak mungkin jadi DPR dari DKI Jakarta. Cost-nya sekitar 40 miliar, ada yang 20 miliar nggak jadi, ada yang 25 miliar nggak jadi, yang selalu jadi itu yang sekitar 40 miliranya,” tutur dia.

    “Suvenir harian itu kira-kira rata-rata RT-RT, di rumah-rumah rata-rata suvenirnya kulkas, kalau Bu Anggi sovenirnya baju kaos, kerudung, kerudung 10 ribuan,” katanya. (*)

    Reporter : Teguh Safrianto

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2023 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan