Menempelkan Kedigyaan Amerika
Kendati ini film drama biopik Oppenheimer, namun tanpa disadari banyak penonton, pada film ini tetap menempelkan kedigyaan Amerika. Dengan sangat halus, mereka memframing betapa Amerikalah yang berjasa untuk perdamian dunia.
Ada beberapa adegan yang menunjukkan itu. Pertama, setelah percobaan bom sukses. Diperlihatkan para peneliti yang sedang euforia, dan di belakang gambar diselipkan gambar bendera Amerika yang tak terlalu Amerika sudah terpanteng di lokasi pemantauan percobaan.
Adegan ini secara harus ingin memgingatkan, bangsa Amerikalah penemu berbagai kemajuan ilmu pengetahuan, termasuk teori-teori tentang nuklir, yang dapat dipakai untuk berbagai kepentingan, termasuk untuk bom atom.
Kedua, sesaat setelah bom dijatuhkan dan Amerika meraih kemenangan, juga ada ada dengan yang memperkihatkan bendera Amerika. Sekali lagi, tanpa sadar kita digiring untuk mengakui Amerika sebagai bangsa besar.
Adegan lain lagi, baik ketika Oppenheimer menyadari Ilmuwan cuma menciptakan saja, sedangkan pemanfaatan ada di tangan politikus.
Hal yang sama terjadi dalam dialog antara Oppenheimer dengan presiden Amerika. Dari adegan-adegan ini, film kembali menempelkan pesan, bangsa Amerikalah yang menentukan sejarah dunia. Keputusan membom Horisoma dan Nagasaki merupakan keputusan bangsa Amerika yang tepat. Lewat Keputusan ini Amerika berhasil mengubah tatanan dunia internasional. Dan Amerika pun ditempatkan sebagai adikuasa. Maka janganlah coba-coba melawan Amerika.
Bukan Hanya Rambo
Biasanya film Amerika yang dijadikan contoh mengubah kelemahan Amerika menjadi kekuasaan, nasionalisme Amerika, melalui film Rambo. Padahal sangat banyak film sepeti itu. Kita sebut saja The Last Samurai, Karete Kid dan lainnya, termasuk film “Oppenheimer.”
Perlu diperhatikan cara mereka memasukan unsur nasionalisme begitu halus dan menyatu dengan film. Dengan begitu , penonton dalam negeri mereka seperti mendapat pembenaran ikhwal kehebatan Amerika. Sedangkan bagi penoton luar Amerika, tanpa sadar disosialisasikan sampai internelezed kejayaan Amerika. Tanpa sadar di benak kita sudah terbentuk pemahaman bangsa Amerika memang luar biasa hebat.
Tentu ini bukan tanpa kesengajaan. Itulah “strategi kebudayaan” mereka. Film menjadi sarana yang ampuh untuk menghantarkan persepsi dan citra keunggulan Amerika. Semua aspek kehebatan tentang Amerika dapat tersalurlan dengan efektif melalui film.
Adegan presiden yang berdebat dengan Oppenheimer, bagi penonton mungkin cuma menangkap kesan bagaimana ilmuwan dapat berlainan dengan para politikus. Sebenarnya, adegan itu ingin menekankan betapa demokrasinya negara Amerika. Dikesankan, meski begitu banyak perbedaan, pada akhirnya di Amerika demokrasilah yang menang. Demokrasilah yang menentukan.
Semua kehebatan Amerika di film tidak diungkap dengan vulgar. Tak ada satu kalimat pun yang berbunyi, ”Kamu harus mencintai bangsamu! ” Atau “Bangsa Amerika adalah bangsa yang besar!.”
Sebaliknya penyampaiannya disesuaikan dengan kaedah-kaedah film.
Mengoptimalkan Peran Film
Bagaimana di Indonesia? Dalam konteks ini kita harus akui, Indonesia patut belajar dari Amerika. Film adalah sarana yang efektif untuk menyampaikan unsur kebangsaan, sehingga kita harus mengoptimalkan film sebagai sarana komunikasi dan edukasi soal kebangsaan.
Kini kita sudah memiliki UU Pemajuan Kebudayaan. UU ini dapat kita jadikan acuan buat lebih memperbesar peran film dalam mengantarna keunggulan Indonesia, tanpa harus menglupan unsur estetis filmny.
Ke depan film harus lebih diamanatkan sebagai sarana mencapaikan keunggulan-keunggulan bangsa Idnonesia. (*)





