Sabtu, 18 Mei 2024
30 C
Surabaya
More
    Renungan PagiBeruntunglah bagi Ahli Sodaqoh

    Beruntunglah bagi Ahli Sodaqoh

    Salam Takdim, Salam Seduluran Saklawase. Nomor WhatsApp messenger dan nomor japri Al Faqir belakangan ini super aktif. Menanyakan seputar orang ahli ibadah te inirutama rajin salat berjamaah lima waktu ternyata hidupnya kurang bersosialisasi dengan lingkungan. Ya, Terkesan eksklusif, tidak butuh orang lain, mungkin sudah merasa dekat dengan sang Khaliq (Pencipta).

    Tentu saja pertanyaan sederhana dan sering kita temui kondisi seperti itu di sekitar kita, namun kita sering abai. Mengganggap itu sebagai pilihan, kalau kita mengingatkan khawatir tersinggung dan seterusnya.

    Jujur pikiran Al faqir kembali menerawang jauh ke awang-awang. Bagaimana jika pertanyaan itu ditujukan kepada saya atau orang di sekitar saya. Kebetulan, posisi saya diamanahi sebagai Ketua Takmir di salah satu masjid di perumahan tengah kota, harus terus mencari terobosan dan inovasi supaya syiar rumah Allah (baitullah/ masjid) tetap menggaung, terutama untuk memakmurkan masjid.

    Sebetulnya sudah saya tanggapi di Group WA, kelihatannya si penanya bermaksud menyindir seseorang sehingga saya berusaha mencari titik temu, bahwa siapapun kalau didasari niat ikhlas, mencari Ridlo dan RahmatNya, maka sodaqoh adalah ladang amal yang sangat penting.

    Lantas saya menyampaikan kisah-kisah keberuntungan hamba Allah yang ahli sodaqoh dan seizin Sang Maha Pemberi rezeki dengan sifat Rahman Rahiim, diberikan Keberkahan, keberuntungan di dunia apalagi di akhirat kelak.

    Sebagaimana janji Allah SWT dalam firmanNya di QS Al Baqarah ayat 261, Allah menjanjikan balasan rezeki untuk orang yang sudah menginfakkan rezeki di jalan Allah SWT:
    مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَا لَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَا بِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَا للّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
    “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”

    Juga dalam hadis Baginda Rasulullah SAW: “Dan sedekah akan memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api” (HR. At-Tirmizi No. 613; HR. Ahmad , No. 15284).

    Hadis lain menyebut: “Sedekah itu dapat memadamkan kesalahan, sebagaimana sebongkah es yang meleleh di atas batu karang” (HR. Ibnu Hibban No. 5567. Hadis Sahih).

    Dalam hadis riwayat Imam Al-Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda:
    الصدقة تسُدُّ سبعين بابا من السوء
    “Sedekah menutup 70 pintu keburukan.” (HR Thabrani)

    Insya Allah, orang-orang yang gemar bersedekah maka ia akan jauh dari keburukan dan bencana seperti sabda Rasulullah tersebut.

    Subhanallah. Sebetulnya, kunci supaya kita ringan tangan untuk berbagi bahwa yang kita peroleh bukan milik kita. Coba kita perhatikan siklus kehidupan kita, saat kita lahir usai bergulat 9 bulan 10 hari dalam perut ibu yang mengandung, ternyata segala kebutuhan sudah dijamin oleh Allah SWT. Begitu pula saat proses kelahiran, kita tidak begitu saja keluar dari Gus Garba ibunda, tapi atas seizin Sang Maha Pencipta dengan bantuan dokter, paramedis atau dukun bayi dengan perjuangan dan pengorbanan hidup mati seorang perempuan yang rela sebagai Mujahidah.

    Artinya apa? Harta yang kita miliki pada hakekatnya milik Allah dan pasti akan dimintai tanggung jawab. Kisah Qorun yang menumpuk-numpuk harta hingga lalai dengan janji dan kehidupan akhirat akhirnya dikubur dengan harta yang dibangga-banggakan.

    Apalagi Sang Maha Mengetahui sudah menjamin bahwa hambaNya yang bersedia sodaqoh akan dilipatgandakan. Begitu pula manusia Agung dan terkasih yang kita nantikan syafaatnya telah menggaransi umatnya yang ahli sodaqoh akan terhindar dari balak dan bencana.

    Pertanyaan sederhana dan patut menjadi perenungan bersama, mengapa manusia condong bakhil, pelit dan enggan membelanjakan hartanya di jalan Allah? Jawaban Al faqir to the point, karena masih adanya rasa takut terhadap kematian dan terlalu cinta dunia. Hubbud dunya wa kharayatul maut.

    Sekali lagi bahwa ketika anak Adam mati, meninggalkan dunia fana ini, maka terputuslah segala amalnya, kecuali tiga hal yaitu sodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak Sholeh yang mendoakan kedua orangtuanya. Semoga ulasan ini membuka cakrawala kita untuk memberikan kemanfaatan bagi sesama. Aamiin ya rabbal ‘alamiin. (*)

    Penulis : H.S. Makin Rahmat, wartawan Utama, Ketua SMSI Jatim dan santri pinggiran.

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2023 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan