Jumat, 21 Juni 2024
27 C
Surabaya
More
    OpiniPojok Transparansi"Zikir Jelang Sholat Subuh" Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (6)

    “Zikir Jelang Sholat Subuh” Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (6)

    Oleh : Wina Armada Sukardi 

    SHOLAT subuh di mesjid banyak menghasilkan pengalaman “spritulitas”. Pengalaman yang memperkuat batin. Pengalaman yang membuat kita berupaya menjadi hamba yang lebih baik lagi. Tapi juga pengalaman yang sering menunjukkan jalan terjal menggapai kebaikan. Pengalaman yang sering membaurkan antara realitas dan fantansi.

    Itu terjadi baik sebelum sholat, saat sholat maupun setelah sholat. Salat satu pengalaman tersebut hamba “abadikan” dalam sebuah karya puisi hamba berjudul “Zikir” tahun 2019. Langsung saja hamba yang kutip utuh puisi tersebut tanpa perlu hamba ibuhkan apapun lagi.

    Zikir
    ​​Aku duduk memegang tasbih
    ​​berzikir
    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah
    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah
    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah.
    ​​
    Tidak! Mataku tidak tertutup.
    ​​Tidak! Kesadaranku tidak hilang .​​Tapi dimanakah aku?
    ​​Tubuhku begitu ringan, bahkan seakan tak ada
    ​​Aku serasa menembus tujuh langit ​​melewati bulan, melewati matahari.

    Baca juga :  Kurban, Pembersihan, dan Kebersamaan

    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah
    ​​Aku melihat dua mahluk memandang tajam ke arahku
    ​​mereka menunjuk-nunjukku
    ​​boleh jadi berdikusi tentang aku. Satu menunjuk-nunjuk ke arah depan satu lagi sebaliknya menunjuk-nunjuk ke balakang lantas mereka menghilang begitu saja
    membiarkan aku kembali sendirian.

    Di depan aku melihat pemandangan lapang tak berbatas orang-orang berwajah murung dengan derita lalu lalang.

    Preeaaattt!!!
    Tiba-tiba petir menyambar seluruh manusia disana
    tak ada tubuh yang tidak hangus mereka mengerang, merintih dan menjerit tapi mereka masih tetap hidup
    tubuh penuh luka dan nanah.
    Nyeri

    Bau.

    Lalu : buuaaarrr!
    Manakala tubuh masih sedemikian sakit bukan alang kepalang
    munculah tsunami mengulung semuanya
    padahal gelombangnya yang datang lahar tak terperkiraan panasnya sebagian terpental-petnal
    sebagian tergulung ombak lahar.
    Tentu, tentu, orang-orang itu berteriak kekesakitan Ngeri luar biasa.
    ​​Lebih ngeri lagi mereka semua masih hidup.
    ​​Itulah orang-orng yang penuh derita ​​tiada akhir ​​mereka menunggu masuk kawah derita abadi.

    Baca juga :  Kurban, Pembersihan, dan Kebersamaan

    ​​Sementara aneka ragam mahluk seram dan sadis
    bentuknya tak beraturan
    bergentayangan ​​ada yang kepalanya bertanduk tunggal dengan taring tajam ​​menembus bibirnya sendiri
    ​​matanya satu di dahi satu di dagu ​​ada pula yang lidahnya menjulur menyemburkan cairan beracun.

    ​​Dan: Bum!!
    ​​Tiba-tiba-tiba beberapa dari mereka telah berada ​​di belakangku ​​dekat sekali.
    ​​Rupanya mereka mengancam diriku.

    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah
    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah
    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah
    Mahluk-mahluk itu berhenti sejenak.

    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah
    ​​Perlahan para mahluk kejam itu meninggalkanku.

    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah

    ​​Aku berbalik kembali memandang ke depan
    ​​Segalanya kini telah berubah
    ​​hamparan pemandangan yang serba indah.
    ​​Serasi.
    ​​Pohon buah-buahan segar ada dimana-mana
    ​​ Semua tersedia
    Para mahluk berinteraksi dengan kebahagiaan.

    Baca juga :  Kurban, Pembersihan, dan Kebersamaan

    ​​Aku menatap lebih jauh lagi
    ​​Belum sempat aku bertanya-tanya
    ​​Apakah ini potongan surga
    ​​Sebuah karpet panjang terpentang di hadapanku.

    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah

    ​​Perilaku zikir yang telah mendarah daging pada diriku
    ​​Kukira telah membuka jalan petunjuk ke arah surga
    ​​Aku seperti meloncat ke atas karpet itu
    ​​Ada perasaan tentram meliputi diriku
    ​​Damai.
    ​​Bahagia.

    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah.
    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah.
    ​​
    Tidak! Mataku tidak tertutup
    ​​Aku masih berzikir
    ​​suara azan jelas kudengar di bumi nyata tempat aku bersila
    Aku bangkit memenuhi panggilan Sang Maha Kuasa
    Sholat berjemaah di mesjid.

    ​​​​_Jalan Mawar, Bintaro,
    Subuh di Ulang tahun hari perkawinan, 25 April 2019._
    (Dikutip dari Kumpulan Puisi Religi “Mata Burung Gagak Gitaris Rock,” karya Wina Armada Sukardi, 2022).

    Apakah itu fakta? Kenyataan? Ataukah cuma ilusi dan halusinasi? Hamba serahkan semua jawabanya kepada sidang pembaca yang budiman.
    T a b i k. (*)

    WINA ARMADA SUKRDI, wartawan dan advokat senior, serta Dewan Pakar Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi dan tidak mewakili organisasi.

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2023 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan