Minggu, 21 Juli 2024
24 C
Surabaya
More
    SultengTradisi Turun Temurun Memasuki Bulan Ramadhan Bagaimana Islam Memandangnya

    Tradisi Turun Temurun Memasuki Bulan Ramadhan Bagaimana Islam Memandangnya

    Selain itu, di Sulawesi ada ritual baca doa dan ziarah kubur menjelang bulan Ramadhan, di suku Bugis-Makassar ada ritual ‘Suru Maca’ tradisi ini dilaksanakan sebelum memasuki bulan puasa. Suru Maca yang berarti membaca doa secara bersama untuk dikirimkan kepada leluhur yang telah lebih awal menghadap Ilahi Rabbi. Ini merupakan ritual turun temurun.

    Di Kota Palu, Sulawesi Tengah, ada ritual yang namanya ‘Molabe.’ Molabe adalah bentuk pemanjatan doa keselamatan dan syukuran oleh warga Kaili. Ini biasa dilakukan memasuki bulan Ramadhan dan saat hari raya Idul Fitri. Molabe dilakukan di setiap rumah warga muslim, dan juga dilakukan secara berjamaah di masjid. Dalam proses pelaksanaannya, terdapat talang besar berisikan makanan yang oleh Suku Kaili disebut bakii.

    Baca juga :  Warning Kapolresta Palu, “Jangan Ada Aktivitas Perjudian di Wilayah Hukum Kami”

    Lain hal di Provinsi Sulawesi Utara, di Bolmong atau Bolaang Mongondow, tradisi menyambut Bulan Ramadhan, dengan mengadakan Doa Mintahang-Harua. Tradisi baca doa ini dilaksanakan pada hari Jumat pagi hari hingga selepas Dzuhur, Ashar atau Isya.

    Di Gorontalo, ada yang namanya Doa Aruwa, dalam bahasa Gorontalo Aruwa, artinya Arwah atau doa arwah. Tradisi ini memang sudah lama dilakukan saat menyambut bulan Ramadan, uniknya tradisi ini dipercaya membawa keberkahan dan ketenangan kepada arwah,dan bagi anggota keluarga.

    Di Sulawesi Tenggara pada masyarakat Tolaki, setiap menjelang bulan puasa menggelar tradisi mobasa-basa, yakni, tradisi membaca doa untuk menyambut ramadhan.Tadisi ini biasa dilaksanakan menjelang H1 Ramadhan. Tradisi mobasa-basa ini merupakan bentuk rasa ucapan syukur kepada Allah SWT karena sudah dipertemukan lagi dengan bulan ramadhan.

    Baca juga :  Polda Sulteng Amankan Sabu 1 Kg di Salah Satu Perusahaan Ekspedisi

    Dari berbagai tradisi dan adat budaya menyambut bulan Ramadhan di nusantara ini, Bagaimana Islam memandang hal seperti ini?

    Riwayat Imam Ahmad dan An-Nasa’i mengabarkan kepada kita bahwa Rasulullah SAW juga mengekspresikan kegembiraannya kepada para sahabat perihal kedatangan bulan suci Ramadhan sebagaimana dikutip berikut ini:

    Artinya, “Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepada para sahabat atas kedatangan bulan Ramadhan sebagaimana riwayat Imam Ahmad dan An-Nasai dari Abu Hurairah RA. Ia menceritakan bahwa Rasulullah memberikan kabar gembira atas kedatangan bulan Ramadhan dengan sabdanya, ‘Bulan Ramadhan telah mendatangi kalian, sebuah bulan penuh berkah di mana kalian diwajibkan berpuasa di dalamnya, sebuah bulan di mana pintu langit dibuka, pintu neraka Jahim ditutup, setan-setan diikat, dan sebuah bulan di mana di dalamnya terdapat malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang luput dari kebaikannya, maka ia telah luput dari kebaikan yang banyak,’” (Lihat Az-Zarqani, Syarah Az-Zarqani alal Mawahibil Ladunniyah bil Minahil Muhammadiyyah, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], juz XI, halaman 222).

    Baca juga :  Polisi Tangkap Pelaku Pencabulan di Tojo Una Una

    Bagi sebagian ulama, hadits ini menjadi dasar hukum bagi masyarakat yang mengekspresikan kegembiraan perihal kedatangan bulan suci Ramadhan. Hadits ini membuktikan bahwa satu sama lain boleh bergembira atas kedatangan bulan Ramadhan dan mereka dapat memberikan kabar gembira kepada yang lain. (Rahmat Nur)

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2023 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan