Rabu, 30 November 2022
24 C
Surabaya
More
    OpiniPuan Lawan Ganjar: Senjakala PDIP

    Puan Lawan Ganjar: Senjakala PDIP

    Edi Sudarjat  – Analis Politik & Media)

    Mencermati dinamika politik internal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) belakangan ini, sulit dihindari akan hadir kesimpulan, _partai ini bak matahari yang sedang tergelincir menuju senja_.

    Bukannya bersatu padu menghadapi Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg) yang tinggal 17 bulan lagi, elite PDIP justru bersilang sengketa: ada “Dewan Kolonel” yang memperjuangkan Puan Maharani, dan “Dewan Kopral” yang memperjuangkan Ganjar Pranowo.

    Silang sengketa di kalangan elite ini tentu berpengaruh pada kekompakan kader, pendukung, dan simpatisan PDIP di akar rumput. “Dewan Kolonel” akan mencari dukungan dari akar rumput; begitu pula “Dewan Kopral”. Akibatnya massa PDIP bakal terbelah dua.

    Padahal, menghadapi Pileg yang sudah dekat, semestinya elite dan massa PDIP bersatu-padu. Tanpa persatuan, sulit rasanya bagi partai “banteng moncong putih” ini mencetak “hatrick” alias tiga kali berturut memenangi Pileg.

    Baca juga :  PR dari Sendang Biru

    Sebagaimana diketahui PDIP sudah dua kali berturut-turut memenangi Pileg: 2014 (18,9 persen suara = 109 kursi DPR RI) dan 2019 (19,3 persen suara =128 kursi DPR RI); pernah pula “juara” pada 1999 (33,7 persen suara = 153 kursi DPR RI).

    Di kalangan internal PDIP, sesungguhnya ada kelompok yang mengupayakan Puan dan Ganjar bersatu, yakni _Laskar Ganjar-Puan_ (LGP), yang diketuai Ketua Bapilu PDIP Jawa Barat Mochtar Mohamad.

    Namun kerja-kerja yang dilakukan LGP rupanya belum menampakkan hasil, justru tergusur ambisi Puan dan Ganjar (serta para pendukungnya) menjadi Presiden/Wakil Presiden. Ambisi kedua tokoh ini niscaya mengorbankan kinerja dan prestasi PDIP itu sendiri: dari “juara pertama” dua kali berturut-turut, (besar kemungkinan) akan terpeleset ke posisi kedua atau bahkan ketiga.

    Baca juga :  Mengonrtruksi Profil Guru Menuju Pendidikan Indonesia yang Maju, Berkualitas dan Memerdekakan

    Jika Ganjar Pranowo diusung koalisi partai lain di luar PDIP sebagai calon presiden, (suatu hal yang sering dilontarkan para elite politik), maka keterbelahan PDIP akan makin dalam. Pendukung Ganjar di tubuh PDIP yang kecewa karena gubernur Jawa Tengah ini tidak didukung di “rumahnya sendiri”, kemungkinan besar akan mengalihkan suaranya ke partai lain yang mencalonkan Ganjar sebagai presiden.

    Suara yang beralih itu akan signifikan, mengingat tingkat keterpilihan (elektabilitas) Ganjar sebagai calon presiden paling tinggi dalam sejumlah survei opini publik. Elektabilitas Ganjar dalam survei terbaru Lembaga Survei Indonesia pada akhir Agustus 2002 adalah 24,5 persen; jauh di atas Puan yang 1,3 persen.
    Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Agustus 2022 menyimpulkan PDIP kemungkinan besar akan memenangi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, kalau mencalonkan Ganjar sebagai presiden.

    Baca juga :  PR dari Sendang Biru

    Kesimpulan itu dapat diartikan, kalau PDIP mencalonkan Puan, tidak akan menang dalam Pilpres; konsekuensinya kemungkinan besar juga tidak akan menang dalam Pileg. _Senjakala PDIP pun tiba_.

    Memang masih terbuka kemungkinan bagi Puan dan Ganjar membuka dialog untuk mencari jalan keluar terbaik demi kepentingan partai. Jika PDIP akhirnya bersedia mencalon Ganjar, maka PDIP akan menorehkan prestasi sebagai partai yang memenangi Pileg tiga kali berturut-turut.

    Jika tidak, konflik internal akan meningkat; kader, pendukung, dan simpatisan PDIP akan terbelah; si “banteng moncong putih” akan menjadi “banteng matador” yang tubuhnya lemah lunglai berdarah-darah ditusuki tombak dan panah. (*)

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan