Rabu, 28 September 2022
29 C
Surabaya
More
    Jawa TimurSidoarjoEyang Wisnu Potret Sejahtera dan Adil, Eyang Semar Berjalan dengan Budi Pekerti

    Eyang Wisnu Potret Sejahtera dan Adil, Eyang Semar Berjalan dengan Budi Pekerti

    SIDOARJO  (WartaTransparansi.com) – Lakon “Babat Tanah Jawa” dengan mengambil kisah turunnya Wahyu di tanah Jawa di Gunung Tidar, Magelang, Jawa Tengah, menjadi bagian dari cerita Ki Dalang H Sugilar yang disaksikan ratusan warga dari berbagai daerah di Desa Pang Kemiri, Tulangan Sidoarjo, Sabtu (6/8/2022) malam

    Eyang Wisnu dan Eyang Ismoyo atau sebutan lain Semar serta disebut-sebut mewarnai dalam lelaku Syech Subakir, menjadi babakan cerita dalam pergelaran dan pertunjukkan wayang di rumah Haji Buadji dan Hajjah Sri Mulia Ningsi.

    Diketahui, Batara Wisnu adalah salah satu dewa tersakti dalam cerita pewayangan. Selain bisa berubah wujud, tokoh ini punya beberapa kesaktian sangat mengagumkan.

    Tokoh Pandawa dan Punakawan sudah populer. Selain tokoh-tokoh tersebut, ada tokoh lain yang nggak kalah hebat dari mereka yaitu Batara Wisnu.

    Batara Wisnu adalah anak dari Sang Hyang Manikmaya dan Dewi Umayi. Sebagai anak raja Tribuana, Batara Wisnu bukanlah putra mahkota satu-satunya.

    Saudara Eyang Wisnu ialah Batara Sambo, Batara Brahma, Batara Indra, Batara Bayu, dan Batara Kala. Fisiknya yang hitam menjadi simbol keabadian. Dalam mitologi Jawa, Batara Wisnu juga menjadi Dewa Keadilan dan Kesejahteraan.

    Sebagai dewa, Batara Wisnu beberapa kali memerangi musuhnya dengan menjelma sebagai sosok lain. Ketika berhadapan dengan raksasa Hargragiwa yang mencuri kitab Weda, dia menjelma sebagai Matswa (ikan). Ketika berhadapan dengan Prabu Hiranyakasipu, dia menjadi Narasingha (manusia berkepala harimau).

    Batara Wisnu juga bisa menghidupkan orang mati. Riwayat Batara Wisnu dengan pasangannya terdiri atas beberapa versi. Ada versi yang menyebutkan dirinya menikah dengan Dewi Setyabama. ada pula yang menyebutkan dia memiliki tiga istri, yakni Dewi Sri Widowati, Dewi Pratiwi, dan Dewi Siti Sundari. Dari ketiga permaisurinya, Batara Wisnu memiliki 18 anak.

    Bahkan, Batara Wisnu ternyata juga tidak kalah sakti dengan Dewa Thor dalam mitologi Yunani.

    Baca juga :  Pemerintah Harus Dengarkan Aspirasi Sarbumusi

    Moral Baik yang Tinggi

    Sedangkan, hampir semua orang-orang yang sudah dari suku Jawa mengenal sosok Eyang Semar.

    Eyang Semar merupakan tokoh Punakawan dalam pewayangan. Ada pula yang mengenalnya melalui dunia mistis dan juga kebatinan. namun generasi sekarang banyak yang tidak tahu mengenai Semar yang dikatakan sebagai pamomong (penjaga) tanah Jawa itu.

    Dalam cerita wayang Eyang Semar dikatakan sebagai tokoh asli Indonesia, karena tidak ditemukan dalam cerita Mahabarata ataupun Ramayana dari India.

    Eyang Semar dan Eyang Ismoyo juga dimakamkan ada di Gunung Tidar.

    Dilansir Portal Sulut, pada 14 Desember 2021 melalui kanal akun Youtube @Pegawai Jalanan yang berjudul

    Menurut sejarawan Profesor Doktor Slamet Mulyono, tokoh Semar pertama kali ditemukan dalam karya sastra zaman kerajaan Majapahit. Diperkirakan asal usul Semar juga memiliki beberapa versi. Namun semua percaya Semar sebagai Dewa turun dari langit dan menyatu dengan kehidupan manusia.

    Semar memiliki tugas membimbing untuk memiliki budi pekerti dan menjunjung tinggi kebenaran. Karena tugasnya, Semar juga disebut sebagai dewa bagong eng satrio sinamar mardadi kawulo atau dewa pengasuh kesatria yang menyamar sebagai hamba, seperti dikisahkan dalam kitab-kitab manikmaya anda dan paramayoga. Semar berasal dari alam kedewataan atau jagat para dewa.

    Dalam naskah purwacarita dikisahkan Putra Sanghyang wenang yang bernama Sanghyang tunggal menikah dengan Dewi rekatawati, sepasang suami-istri tersebut melahirkan Putra berupa sebuah telur ajaib yang melesat ke hadapan kakeknya yaitu Sanghyang wenang.

    Oleh sang kakek, telur ajaib tersebut disabda cipta menjadi tiga zat hidup yang bersifat dewa, bagian kulit dari telur yang keras menjadi sang Gaja Mantri atau Antaga, bagian putih telur menjadi sang Ismaya, dan bagian kuning telurnya menjadi sang Sane Maya.

    Baca juga :  Pemerintah Harus Dengarkan Aspirasi Sarbumusi

    Dalam sebuah sayembara, memakan gunung sang Gaja Mantri dan sang Ismaya kalah melawan sang Manikmaya, sehingga mereka berdua harus turun ke arcapada untuk menjadi pengasuh manusia-manusia keturunan sang manikmaya.

    Di Arca pada, sang Gaja Mantri atau antaga beralih rupa dan nama menjadi togog yang mengasuh manusia-manusia yang bersifat serakah, sedangkan sang Ismaya beralih rupa dan nama menjadi Semar, yang menjadi pamong ksatria-ksatria berdarah biru yang bergelimang dengan wahyu.

    Togog dikisahkan selalu gagal membujuk majikan untuk bersikap dan berbuat baik dan benar. Semar berhasil membimbing asuhannya ke arah perbuatan benar bijaksana dan luhur. Dalam pandangan aliran kepercayaan di Jawa, ada yang mengklibatkan ajaran-ajarannya kepada ketokohan Semar. dalam pengembaraan spiritual mencari tempat Sangkan Paraning Dumadi, sebagai orang Jawa secara spritual sempat bertemu dengan tokoh Semar.

    Hal ini karena pengaruh mitologi dunia pewayangan yang cukup berpengaruh dalam menciptakan kerangka pemikiran mistis orang Jawa. Sisa-sisa faham animisme dan dinamisme juga sangat berpengaruh terhadap keyakinan ini sehingga muncul pemahaman Semar adalah nenek moyang orang Jawa purba, yang rohnya telah menjadi danyang yang mengawal kawasan pulau Jawa, dan seluruh nusantara berikut penghuninya sampai akhir zaman nanti.

    Di daerah Magelang sejarah awal masuknya Agama Islam ke tanah Jawa juga tidak terlepas dari kisah legenda yang ada di tengah masyarakat daerah ini, yaitu peran ulama Syech Subakir, Syech Jumadil Kubro, Syech Maulana Maghribi dan kerabatnya yang bertemu dengan Ki Semar atau eyang Semar di puncak sebuah gunung.

    Menurut riwayatnya, sebelum pusaka Kalima syadahadat ditanam di puncak Gunung Bala, Syech Subakir bermusyawarah dengan Kiai Semar di sebuah gunung, di puncak gunung inilah peti tempat menyimpan dan membawa pusaka Kalimat syahadat itu dibuka yang dalam bahasa Jawa berbunyi seperti ini: Peti ini di udar.

    Baca juga :  Pemerintah Harus Dengarkan Aspirasi Sarbumusi

    Tempat membuka peti itu kemudian dinamakan Gunung Tidar dari puncak Gunung Tidar inilah kemudian pusaka Kalimasada dibawa ke arah timur sejauh 17 kilo meter, yang ini tempat ini bernama Pakis dan diusung ke Puncak sebuah gunung untuk ditanam sebagai tumbal kanggo bangsa ala-ala atau tumbal untuk orang banyak.

    Itulah sebabnya, tempat menanam tumbal ini sampai kini disebut Gunung Bala, penanaman pusaka kalimat syahadat di puncak gunung bala oleh Syekh Subakir dan kawan-kawannya bermakna sebagai penancapan kalimat syahadat di jantung tanah Jawa, sebagai tanda masuknya ajaran agama Islam bagi penghuni di tanah Jawa.

    Makam petilasan Eyang Ismoyo jati di puncak Gunung Tidar berupa sebuah pusara yang di tengahnya berdiri tegak sebuah wujud keris setinggi 9, kira-kira dua meter, bilah keris pusaka ini dari bahan tembaga berwarna kuning emas yang dihiasi 9 buah bintang.

    Nama-nama yang ada di puncak Gunung Tidar ini mempunyai makna yang tersamar, sebutan Eyang maknanya eling pondo sembahyang artinya ingat untuk melakukan shalat. Ismoyo maknanya ojo podo semoyo atau jangan menunda.

    Sedangkan kata Jati artinya kabe ono jati dirimu, yang artinya semua ada pada jati dirimu. Sedangkan kata Semar maknanya adalah siro eling marang Allah dan Rasul artinya kamu Ingat kepada Allah dan Rasul.

    Dipucuk Tugu Paser tanah Jawa yang berada di tengah lapangan di puncak Gunung Tidar, ada tulisan aksara Jawa tiga buah yaitu Sa atau So, ini maknanya sopo salah seleh, artinya barang siapa yang bersalah akhirnya akan ketahuan.

    Juga bermakna sopo salat selamet, artinya siapa yang menegakkan sholat akan selamat. Selain versi tersebut. Begitu banyak versi-versi yang menyebutkan tentang sosok Eyang Semar. Dan Syaech Subakir dalam sejarah “Babat Tanah Jawa” masuknya ajaran agama Islam. Menanamkan ajaran akhlaq mulia atau moral yang baik dan tinggi. (Bbs/JT)

    Reporter : Djoko Tetuko

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan