Senin, 8 Agustus 2022
30 C
Surabaya
More
    Jawa TimurSidoarjoK.H. Mohammad Naser, dibalik Sukses Santri Capai Profesor
    Madrasatul Alsun Hanya Pondasi dan Satu Batu Merah

    K.H. Mohammad Naser, dibalik Sukses Santri Capai Profesor

    SIDOARJO (Wartatransparansi.com) – Sebuah tempat belajar pengajar bahasa Arab sangat sederhana di kawasan pusat kota Sidoarjo, di jalan Mayjen Sungkono atau lebih populer disebut Pucang. Dulu KH Abdurrahman mengajar di Musholah kemudian KH Mohammad Naser membuat kelas-kelas sederhana.

    Proses belajar mengajar bahasa Arab dengan tidak meninggalkan metode tradisional, tetapi membekali keilmuan santri dengan dasar yang kuat dan terus didorong belajar lebih kuat dengan mandiri, alhamdulilah melahirkan santri bergelar profesor dan menjadi direktur lembaga bahasa di sejumlah perguruan tinggi Univeristas Islam Negeri. Di balik sukses santri mencapai gelar profesor dan menebar bahasa Arab se antero nusantara, berikut wawancara wartawati Koran Transparansi Nuriya Maslahah dengan KH Mohammad Naser atau biasa dipanggil Ustad Naser.

    WT : Ustad kunci sukses para santri mencapai guru besar dan direktur di berbagai perguruan tinggi negeri?

    Naser : Alhamdulillah, kita semua patut bersyukur bahwa bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran dan diajarkan di Madrasatul Alsun dengan memberikan bekal kepada santri begitu sungguh-sungguh, walaupun ibarat dinding hanya membangun sekedar pondasi dan satu batu merah, dan terus mendorong mereka para santri terus giat belajar dan belajar.

    Baca juga :  Eyang Wisnu Potret Sejahtera dan Adil, Eyang Semar Berjalan dengan Budi Pekerti

    WT : Selain Profesor Akh Muzakki dan Profesor Muhammad Thohir katanya ada dua santri dipercaya direktur lembaga bahasa di Univeristas Islam Negeri (UIN)?

    Naser : Alhamdulillah santri lulusan Alsun memang mendapat kepercayaan mengembangkan dan mempopulerkan bahasa Arab di beberapa tempat. Juga dipercaya menjadi direktur dan wakil direktur lembaga bahasa.

    WT : Dimana Ustad?

    Naser : Dr. Bambang Budi alumni Alsun tahun 94-an, alhamdulillah menjadi Direktur Lembaga Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Semoga mampu menjalankan amanat dengan baik dan pengembangan bahasa Arab di sana semakin maju dan terus meningkat, menebarkan keilmuan, sehingga semakin banyak yang mampu dan ahli berbahasa Arab secara keilmuan dan pengembangnya.

    WT : Selain itu?

    Naser : Alhamdulillah ada juga Dr Nur Qomari, Alumni Alsun tahun 2000-an dipercaya menjadi Direktur Lembaga Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Tentu juga berharap dengan bersyukur dan memanjatkan doa supaya mereka lebih maju, lebih hebat dan lebih bermartabat selama mengembangkan bahasa Arab di mana saja.

    Baca juga :  Menghormati Leluhur Gelar Wayang Setiap Suro

    WT : Kalau di UINSA?

    Naser : Dua profesor yang memang minat belajar dan ketekunan selama menjadi santri di Alsun luar biasa semangat dan tirakatnya, sudah tidak bisa diceritakan lagi. Pokok Muzakki dan Thohir itu sungguh-sungguh. Bahkan sampai sekarang masih sering masih sering komunikasi dan konsultasi. Walaupun keilmuan dan pengetahuannya sudah maju dan berkembang luar biasa.

    WT : Di Lembaga Bahasa Arab UINSA?

    Naser : Di Univeristas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ada Dr Budiono sekarang menjadi Wakil Direktur Lembaga Bahasa Arab, semoga ke depan mendapat kepercayaan lebih baik lagi.

    WT : Kunci atau kiat melahirkan santri militan dan hebat apa Ustad?

    Naser : Yang pasti kita tidak pernah mengajarkan santri merasa pandai dan sombong, juga memberikan ilmu yang macam-macam. Ibarat dinding hanya sekedar memberikan pondasi dan satu batu merah, selanjutnya menjadi dinding hebat memberikan santri untuk terus membangun.

    Baca juga :  Bangkitkan Ekonomi dan Kegiatan Sosial Gelar Wayang

    Selanjutnya, biarlah para santri membangun dinding itu juga mewarnai dengan lebih kuat dan lebih bermartabat.

    WT : Kiat dalam pembelajaran?

    Naser : Alhamdulillah, kiat dalam pembelajaran bahasa Arab di Alsun langsung praktis di kelas dan ditunjang pembelajaran teoritis hanya sebesar 15%. Selanjutnya,
    untuk mencapai hal itu guru tidak boleh banyak berperan, tetapi hanya sebagai fasilitator saja. Semuanya dilakukan di kelas dan tuntas di kelas.

    WT : Selanjutnya untuk lebih mendalami?

    Naser : Sebagian besar yang sekarang melanjutkan profesi sebagai guru atau pengajar bahkan dosen ialah mereka yang punya minat besar.

    Dan bagi yang punya minat besar dapat mengikuti pelajaran tambahan Halaqah yang diadakan pada setiap hari Sabtu dan Minggu di Musholla Alsun jam 06.00 – 08.00 WIB.

    WK.H. Mohammad Naser, dibalik Sukses Santri Capai ProfesorT : Kalau Halaqah fokus apa Ustad?

    Naser : Di Halaqah ini pelajaran atau proses belajar mengajar yang diberikan bersifat keilmuan. Adapun yang reguler kursus bersifat keterampilan dan praktis tidak teoristis. (Ris)

    Reporter : Nuriyah Maslahah

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan