Oleh.: Dr. Moch. Mubarok Muharam (Mantan Ketum PMII Surabaya)
Pelaksanaan Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) mencapai puncaknya, dengan terpilihnya Kiai Miftachul Akhyar dan Kiai Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menjadi Rais Aam dan Ketua Tanfidziyah PBNU Masa Khidmat 2021-2026.
Keterpilihan kedua tokoh tersebut diterima secara penuh oleh semua pihak dengan tanpa penolakkan, memupus kekuatiran bahwa Hasil Muktamar NU tersebut akan menimbulkan kekecewaan yang berkepanjangan dari sebagian pihak.
Pelaksanaan Muktamar ke-34 organisasi yang didirikan oleh Hadratus Syaikh, K.H. Hasyim As’ari tersebut, dibayangi kekuatiran terjadinya deadlock.
Kekuatiran tersebut menjadi wajar, karena sebelumnya perbedaan tajam tentang jadwal pelaksanaan kegiatan di internal NU dan menjadi perhatikan khalayak luas.
Perbedaan tentang jadwal pelaksanaan kegiatan dapat diselesaikan secara baik, dengan ditetapkannya pelaksanaan muktamar pada 23-24 Desember 2021.
Selain itu, perbedaan tentang keabsahan 39 Cabang yang dianggap bermasalah, untuk mendapakan hak suara, menjadi perdebatan yang “panas” semenjak hari pertama pelaksanaan muktamar.
Perbedaan yang keras dan memanas, akhirnya dapat diselesaikan melalui kearifan dari kyai dan tokoh-tokoh penting dilingkaran NU.
Dalam tradisi NU, para kyai mempunyai metode tertentu untuk menyelesaikan perbedaan dengan cara yang santun dan terhormat, dan hal tersebut belum tentu terjadi di organisasi lainnya.
Kesejukan yang terjadi pada muktamar, khususnya setelah penghitungan suara pemiliham calon ketua umum (tanfidziyah), dapat terjadi karena kebesaran hati dari 2 tokoh penting , Kiai Said Aqil Siradj (SAS) dan Gus Yahya.
Pernyataan mantan jubir Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bahwa Kiai SAS sebagai guru yang membimbing dan melapangkan dirinya menjadi tokoh penting bagi warga Nadliyyyin serta penghormatan Kyai SAS terhadap Gus Yahya, sebagai cicit dari guru ayandanya, disamping menciptakan kesejukan juga menunjukan sikap tawadlu’ dan rendah hati dari kedua tokoh panutan tersebut.
Pasca Muktamar
Kesejukan dan kebesaran hati yang ditunjukkan oleh Kiai SAS dan penerusnya tersebut menjadi penanda bahwa PBNU dibawah kepemimpinan Kiai Miftachul Akhyar dan Gus Yahya akan didukung oleh semua pihak. Karena dukungan yang meluas di internal dan eksternal, memudahkan bagi PBNU untuk mengambil dan menjalankan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan organisasi, umat dan bangsa-negara.





