Selasa, 30 November 2021
25.6 C
Surabaya
More
    Pojok TransparansiLiga 1 Digelar, Lampu Hijau Bergeraknya Sepak Bola Level Dasar

    Liga 1 Digelar, Lampu Hijau Bergeraknya Sepak Bola Level Dasar

    Oleh : Imam Syafii– Founder Indonesia Soccer Academy

    Turunnya ijin penyelenggaraan kompetisi Liga 1 dari Kepolisian Repbulik Indonesia, yang dimulai 27 Agutus 2021 bisa menjadi lampu hijau bergeraknya kembali aktivitas sepak bola di semua jenjang. Pihak kepolisian memberikan ijin dengan syarat dan ketentuan tertentu.
    Jika tiga pertandingan di pekan pertama ini tidak bermasalah, pertandingan selanjutnya dipastikan aman. Selain itu, pertandingan untuk sementara waktu belum bisa dihadiri penonton secara langsung di stadion, semua pihak yang terlibat harus mematuhi protokol kesehatan secara ketat dan mereka sudah melakukan vaksinasi.

    Tentu bukan hanya Liga 1, semua kompetisi yang berada di bawahnya diharapkan juga bisa digelar, termasuk yang berada di lingkup Askab/Askot dan Asprov. Pemain yang berada di fase pembinaan usia dini dan remaja juga sangat membutuhkan wadah kompetisi. Keberadaan wadah ini dimaksudkan untuk mengasah pengalaman bertanding mereka agar mencapai standar yang telah ditentukan. FIFA memberikan rekomendasi bahwa anak usia 10-12 tahun membutuhkan pengalaman bertanding sebanyak 20-25 kali per tahun, usia 14 tahun 25-30 kali per tahun dan usia 16 tahun 30 – 35 kali per tahun.

    Baca juga :  Catatan Gus Hans dari Makkah, “Jabal RAHMA dan Gersangnya KERAMAHAN” (1)

    Dengan vakumnya latihan dan pertandingan mereka selama pandemi Covid-19 dirasakan sangat mengganggu proses pembinaan mereka. Perbaikan kondisi lingkungan akibat pandemi ini sudah barang tentu menjadi harapan semua pihak, sehingga semua kegiatan persepkbolaan nasional bisa berlangsung kembali seperti semula.

    Terhentinya latihan anak-anak akibat pandemi memang menjadi pilihan sulit bagi orang tua dan pengelolah wadah pembinaan.

    Satu sisi anak-anak takut terpapar Covid-19, di sisi lain takut kehilangan masa berlatihnya. Latihan individual yang dilaksanakan di rumah meskipun dipandu oleh pelatihnya belum bisa menggantikan aktivitas yang dilakukan di lapangan. Hasilnya pasti sebatas menjaga kebugaran dan ball feelingnya anak-anak agar tidak menurun drastis.

    Sementara tuntutan untuk meningkatkan keterampilan anak baik secara individu maupun tim sangat sulit dicapai karena metode latihan dan intensitasnya sangat terbatas. Sepak bola adalah permainan tim yang membutuhkan latihan progresif beban dan faktor kesulitannya dalam rangka membangun keterampilan dan kolektivitas permainan tim.

    Baca juga :  Catatan Gus Hans dari Makkah, “Jabal RAHMA dan Gersangnya KERAMAHAN” (1)

    Turnamen dan kompetisi usia dini dan remaja praktis sangat berkurang selama pandemi. Keberadaannya bersifat kucing-kucingan dengan petugas Satgas Covid-19. Beberapa pagelaran turnamen banyak yang dibubarkan karena dipandang menimbulkan kerumunan massa yang berpotensi terjadinya penularan virus. Berkurangnya jam bermain pada pertandingan resmi dipastikan akan berdampak kurang baik terhadap perkembangan kemampuan anak. Ini yang harus dicarikan solusinya.

    Adanya ijin dari pihak kepolisian dan lembaga terkait lainnya, harus ditangkap sebagai peluang kembalinya aktivitas sepak bola oleh para pelaku dan stakeholder sepak bola di level dasar. Tentu dengan syarat dan ketentuan yang tidak jauh berbeda dengan yang diberlakukan untuk tim-tim Liga 1. Vaksinasi bagi coach teacher dan anak-anak menjadi prioritas utama, apalagi saat ini vaksin sudah bisa diberikan kepada anak usia 12 hingga 17 tahun. Bagaimana dengan anak usia 6 – 11 tahun? Kita tunggu vaksinya untuk mereka tetapi mereka tetap diperbolehkan latihan dengan cara dipisahkan dengan kelompok di atasnya.

    Baca juga :  Catatan Gus Hans dari Makkah, “Jabal RAHMA dan Gersangnya KERAMAHAN” (1)

    Pemerintah melalui Satgas Covid-19 seharusnya tidak perlu serta merta ketika melihat anak-anak di lapangan untuk berlatih sepak bola dianggap suatu kerumunan, lalu dibubarkan. Pengelola Sekolah Sepak bolapun juga perlu membuat protokol latihan yang mengatur proses latihan anak-anak, termasuk keterlibatan orang tua ketika mengantarkan dan mendapingi putranya di lapangan.

    Gerakan vaksinasi untuk peserta didik sepak bola perlu diupayakan melalui Askot/Askab dan Asprov PSSI dengan menjalin kerjasama dengan pihak yang berwenang dalam pendistribusian vaksin. Langkah ini dapat dijadikan sebagai upaya meringankan beban pemerintah dalam pelaksanaan vaksinasi sekaligus percepatan vaksinasi kepada pelaku sepak bola di level dasar. Dengan demikian, pelaksanaan proses pembinaan di usia dini dan remaja segera dapat dilakukan tanpa menimbulkan kekhawatiran terpaparnya Covid-19. Ini merupakan win-win solution yang dapat memberikan jalan keluar terhadap situasi pandemi yang masih sulit diprediksi kapan berakhirnya.(*)

    Reporter :
    Penulis : Imam Syafii
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan