Senin, 21 Juni 2021
27 C
Surabaya
More
    TajukTragedi 1/3 Manusia Mati karena Panas Keghaiban Allah SWT

    Tragedi 1/3 Manusia Mati karena Panas Keghaiban Allah SWT

    Oleh : Djoko Tetuko, Pemimpin Redaksi WartaTransparansi

    Peristiwa kelahiran dan kematian mutlak hanya Hak Allah SWT semata. Jika ada diantara hambaNya diberi kelebihan mengetahui, itupun dalam keterbatasan dengan berbagai ikhtiar lahir maupun batin.

    Tetapi bahwa sesungguhnya peristiwa apapun di dunia ini, maka wajib bagi umat manusia menetapkan serta memantapkan keimanan bahwa semua itu atas kehendak Allah semata, atas keghaiban Allah semata, atas ketentuan dari Allah semata.

    Mengingat semua sudah tertulis dalam ketentuan, dan manusia hanya terbatas dan sedikit yang mampu memohon perubahan. Karena keinginan mengubah ketentuan menjadi lebih baik membutuhkan persyaratan tidak mudah.

    Kekuasaan Allah SWT dengan berbagai bentuk ujian sudah dijelaskan pada surat Al-Baqarah (ayat 284-286),
    sebagaimana Tafsir Al-Wajiz dilansir dari
    tafsirweb.com,

    Milik Allah itu segala sesuatu di langit dan bumi baik berupa kerajaan, makhluk dan juga aturannya. Jika kalian menampakkan atau menyembunyikan kejahatan atau keburukan kepada manusia, maka Allah akan menghisab dan membalas kalian atas hal tersebut.

    Dia (Allah) memberikan ampunan dan siksaan kepada hamba-hambaNya yang dikehendaki. Dan Allah itu Maha kuasa atas segala sesuatu. Hisab itu tidak hanya dilakukan karena suatu niat, dan niat itu tidak berhubungan dengan anggapan, perkataan atau tindakan, melainkan berhubungan dengan beberapa perkara yang tempatnya mutlak berada dalam hati seperti meragukan Allah atau agama, munafik, berdusta, riya’, atau menyembunyikan kesaksian. Inilah hal-hal yang akan dihisab dari manusia (tafsir ayat 284)

    Nabi SAW beriman kepada ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya, begitu juga orang-orang mukmin. Masing-masing mereka beriman hanya kepada Allah, malaikat, kitab-kitab yang telah diturunkan, dan para rasul yang menyampaikan risalah yang diturunkan kepada mereka.

    Mereka berkata: “Kami orang-orang mukmin tidak membedakan-bedakan para rasul antara satu dengan yang lainnya, namun kami mengimani mereka semua”

    Nabi dan orang-orang mukmin berkata: “Kami memperhatikan dan menaati perintah, maka ampunilah kami wahai Tuhan, Hanya kepadamulah tempat kembali dan berlindung ketika hari kebangkitan” Ayat ini turun setelah ayat {Lillahi maa fissamawati wa ma fil ardhi …} ketika para sahabat beranggapan bahwa mereka akan disalahkan hanya karena niat.

    Lalu rasulullah SAW bersabda kepada mereka: “Apakah kalian akan mengucapkan perkataan sebagaimana ahli kitab “Kami mendengar dan kami mengingkarinya”? (Jangan!) Tapi katakanlah “Sami’naa wa Atha’na …”” (tafsir ayat 285)

    Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya. Baginya itu pahala atas perbuatan baik yang dia usahakan, baginya pula dosa atas perbuatan buruk yang dia usahakan.

    Orang-orang mukmin berkata: “Wahai Tuhan, janganlah engkau menghukum Kami atas kelupaan yang kami lakukan bukan karena kehendak kami, dan juga kesalahan dalam tindakan yang tidak sesuai dengan niatan kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak mampu kami pikul, yang di dalamnya mengandung penderitaan berlebih tidak seperti biasanya.

    Rahasiakanlah dosa-dosa dan kesalahan kami, berilah kami rahmat yang luas dengan keutamaan dan kamuliaanMu. Engkaulah wali (Dzat yang diserahi segala urusan kami) dan penolong kami, jadi selamatkanlah kami atas kaum yang mengingkari nikmatMu, yang menyembah selainMu.”

    Dalam hadits shahih dijelaskan dari Nabi SAW bahwa setelah masing-masing doa ini diucapkan Allah SWT berfirman “Sungguh Aku telah mengabulkannya”. Dan Jibril berkata kepada Nabi SAW: “Bergembiralah dengan dua cahaya yang telah diberikan kepadamu yang tidak diberikan kepada seorang nabi pun sebelum dirimu, yaitu surah Al-Fatihah, dan ayat-ayat terakhir surah Al-Baqarah. Kamu tidak akan pernah bisa membaca satu huruf pun dari ayat-ayat itu kecuali kamu diberinya” (tafsir ayat 286)

    Jurnal Nature Climate Change, Senin (31/5/2021) edisi sebuah studi
    bahwa lebih dari sepertiga kematian akibat panas dunia setiap tahun disebabkan langsung oleh pemanasan global,

    Mengutip Medical Xpress, Kamis (3/5/2021), jumlah
    itu setara sekitar 9.700 orang per tahunnya hanya dari kota-kota itu, tetapi jauh lebih banyak angka dari seluruh dunia. Menurut studi terbaru yang menghitung biaya manusia akibat perubahan iklim.

    Tetapi para ilmuwan mengatakan itu baru sebagian kecil dari korban iklim secara keseluruhan—bahkan lebih banyak orang yang meninggal akibat cuaca ekstrem lainnya. Hal ini diperkuat pemanasan global seperti badai, banjir, dan kekeringan—dan jumlah kematian akibat panas akan tumbuh secara eksponensial dengan meningkatnya suhu.

    Puluhan peneliti yang mengamati kematian akibat panas di 732 kota di seluruh dunia dari 1991 hingga 2018 menghitung bahwa 37% kematian disebabkan oleh tingginya suhu yang disebabkan manusia.

    “Ini adalah meninggal terkait panas yang sebenarnya dapat dicegah. Ini adalah sesuatu yang kita sebabkan secara langsung,” kata Ana Vicedo-Cabrera, ahli epidemiologi di Institute of Social and Preventative Medicine di University of Bern di Swiss.

    Persentase kematian akibat panas tertinggi yang disebabkan oleh perubahan iklim terjadi di kota-kota di Amerika Selatan. Vicedo-Cabrera menunjuk ke Eropa selatan dan Asia selatan sebagai titik panas lainnya untuk kematian akibat panas terkait perubahan iklim.

    Para peneliti menemukan bahwa Sao Paulo, Brasil, memiliki kematian akibat panas terkait iklim paling banyak, rata-rata 239 per tahun.

    Dimana sekitar 35% kematian akibat panas di Amerika Serikat dapat menuding pada perubahan iklim, menurut temuan studi tersebut. Itu artinya lebih dari 1.100 kematian per tahun di sekitar 200 kota di AS, di atas 141 di New York. Honolulu memiliki porsi kematian akibat panas tertinggi yang disebabkan oleh perubahan iklim, 82%.

    Para ilmuwan menggunakan data kematian selama beberapa dekade di 732 kota untuk memplot kurva yang merinci bagaimana tingkat kematian setiap kota berubah dengan suhu dan bagaimana kurva panas-kematian bervariasi dari kota ke kota.

    Beberapa kota beradaptasi dengan panas lebih baik daripada yang lain karena AC, faktor kultural dan kondisi lingkungan, menuru Vicedo-Cabrera.
    Kemudian peneliti mengambil suhu yang diamati dan membandingkannya dengan 10 model komputer yang mensimulasikan dunia tanpa perubahan iklim.

    Perbedaannya adalah pemanasannya disebabkan oleh manusia. Dengan menerapkan teknik yang diterima secara ilmiah pada kurva kematian panas individual untuk 732 kota, para ilmuwan menghitung kematian akibat panas ekstra dari perubahan iklim.
    “Orang-orang terus meminta bukti bahwa perubahan iklim telah memengaruhi kesehatan kita. Studi atribusi ini secara langsung menjawab pertanyaan itu menggunakan metode epidemiologi mutakhir, dan jumlah data yang telah dikumpulkan penulis untuk analisis sangat mengesankan,” kata Dr Jonathan Patz, direktur Institut Kesehatan Global di University of Wisconsin.

    Patz, yang bukan bagian dari penelitian, mengatakan bahwa ini adalah salah satu yang pertama merinci kematian akibat panas terkait perubahan iklim sekarang, bukan di masa depan.

    Dari tafsir surat Al-Baqarah memberikan sebuah pelajaran berharga bahwa kekuasaan Allah di langit dan di bumi, sudah mutlak jangan direkayasa. Sebab akibat rekayasa manusia, alam berubah menjadi panas. Dan dunia menjadi tidak seimbang.

    Sebagaimana terjemahan dari surat Al-Baqarah (ayat 284), “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

    Tetapi dalam berbagai bentuk ujian karena sudah ketentuan atau karena ulah tangan manusia merusak di lautan dan daratan, Allah tetap mengukur sesuai dengan kemampuan manusia.

    Sebagaimana terjemahan dari surat Al-Baqarah (ayat 284), “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

    Sebagai sebuah pengalaman dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat secara global, maka meyakini sebagai keghaiban Allah SWT mutlak adanya, sebagai surat Al-Baqarah (ayat 3), “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka”.

    Kandungan dari ayat 3 di atas ialah “Al ghaib merupakan sesuatu yang tersembunyi atau tidak nampak. Allah, para malaikat, dan hari kiamat, semuanya termasuk al-ghaib”.

    Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang memiliki iman dan yakin dengan hal ghaib, membenarkan perkara yang tidak dapat ditangkap panca indera dengan cara membuktikannya dengan ibadah dan melaksanakan perintah shalat sebagai bentuk pengabdian pada Allah. (*)

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber :

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan