Selasa, 22 Juni 2021
31 C
Surabaya
More
    Renungan PagiRamadan, Investasi Menggiurkan Yang Sering Terabaikan

    Ramadan, Investasi Menggiurkan Yang Sering Terabaikan

    Oleh : H.S. Makin Rahmat

    SEIRING gema suara takbir: Allahu-Akbar, Allahu-Akbar, Allahu-Akbar walillahilhamdu, bulan suci Ramadan 1442 yang penuh rahmat, ampunan dan kemuliaan telah meninggalkan kita.

    Pada kesempatan ini, seiring dengan izin dan Ridlo Allah SWT serta shalawat, salam dan wasilah tertuju kepada manusia agung baginda Rasulullah SAW, mampu menjadikan Ramadan sebagai madrasah (sekolah) bagi hambaNya yang beriman sebagai investasi untuk merengkuh kebahagian dunia-akhirat meraih keberuntungan, hambaNya yang bertakwa.

    Mengapa euforia Ramadan didalamnya mengandung garansi turunnya malam yang lebih mulia dari seribu bulan (Lailatul Qadar) sebatas formalitas dan budaya bukan menjadi investasi atau bisnis menguntungkan dalam meraih kebahagian yang hakiki.

    Masih kita temui, sebagian besar masyarakat ber-KTP Islam menjalankan puasa di bulan Ramadan sekedar menggugurkan kewajiban. Tidak memperhatikan protokol panggilan Allah SWT dalam menjalankan puasa, taraweh dan ibadah lain karena iman dan ikhlas mendapatkan garansi dihapus segala dosa-dosanya yang telah lalu, bahkan diumpamakan sebagai seorang bayi yang baru dilahirkan dari rahim si-ibu.

    Mari kita renungkan bersama sabda dari Nabi Muhammad SAW, “Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, yaitu kebahagian ketika berbuka dan kebahagiaan saat bertemu Allah.”

    Konteks dua kebahagian ini tentulah bukan semata milik pribadi, tapi bagian dari kolektif sebagai hamba Allah beriman yang punya tugas mulia untuk berbagi kebahagian dengan saudara-saudaranya. Bila, kita bisa menikmati makan saat berbuka (ifthor), apakah kita peka bahwa masih ada hamba Allah ikut berpuasa dalam kondisi sangat terbatas.

    Jangan untuk makan besok, hari ini yang untuk disantap belum terpikirkan. Jadi, makna mendalam yang seharusnya diwujudkan yaitu berbagi kenikmatan (makanan) dengan saudara yang butuh berbuka.

    Pesta rohani di bulan suci Ramadan menjadi pengantar kita untuk selalu bertemu dengan Allah melalui hambaNya yang memang butuh uluran tangan dari kita. Kalau, kita memperhatikan tentu Allah akan lebih memperhatikan segala kebutuhkan kita. Masya-Allah.
    Bila kita pahami dengan hadits qudsi, yaitu firman Allah SWT berbunyi: “Setiap amal manusia kembali padanya, kecuali puasa. Maka sesungguhnya puasa itu untukKu dan Aku (Allah) sendiri yg membalasnya.”

    Tentu, inventasi menguntungkan ini, sering terabaikan oleh kita. Kesan yang muncul semangat di awal Ramadan sangat mengebu-ngebu. Namun, dipenghujung Ramadan kita lebih terfokus pada kepentingan kita sendiri, termasuk mengejar Lailatul Qadar dan kebutuhan menjelang hari Raya Idul Fitri.

    Sedang di pelosok bumi, ada saudara kita yang tiap malam mengetuk pintu langit tidak hanya di bulan Ramadan untuk memburu rahmat dan kasih sayangNya. Mereka butuh uluran tangan kita, termasuk kondisi porak-porandi di bumi Palestina akibat agresi Israil.

    Mari kita renungkan, firman Allah dalam hadits qudsi: “Apabila mereka berpuasa di bulan Ramadan kemudian keluar untuk merayakan hari raya, maka Allah pun berkata: ‘Wahai malaikatku, setiap yang mengerjakan amal kebajikan dan meminta balasannya sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka.’

    Seseorang kemudian berseru: ‘Wahai umat Muhammad, pulanglah ke tempat tinggal kalian. Seluruh keburukan kalian diganti dg kebaikan’. Kemudian Allah pun berfirman: ‘Wahai hamba-Ku, kalian puasa untuk-Ku dan berbuka untuk-Ku. Maka bangunlah sebagai orang yang telah mendapat ampunan.”

    Keistimewaan Ramadan juga terangkum dalam Firman Allah SWT dalam QS Ad-Dzuhan 3-4: “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. Dan sesungguhnya Kami-lah yg memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”.

    Tentunya, ladang subur yang bertabur emas dan berlian ini tak patut dibiarkan kering kerontang dan menjadi gersang.

    Sepatutnya, ibadah puasa menjadi bagian tidak terpisahkan berupaya meneladani (menyuburkan) sifat Allah sesuai kemampuan kita sebagai manusia.

    Allah tidak makan, minum, dan juga tidak memiliki pasangan. Maka di siang hari sebagai bukti kepatuhan dan ketaatan kita, berusaha dengan sekuat tenaga tidak makan dan minum walaupun kita mempunyai hak, termasuk kepada istri kita.
    Singkatnya, sebagai seorang muslim dalam menjalankan puasanya harus totalitas (sesuai dengan kemampuannya). Contoh sederhana, Allah mempunya sifat Pengasih (Kasih), maka menjadi tuntunan kita untuk menaburkan kasih kepada sesama makhluk Allah. Allah juga memiliki sifat, Maha Pengampun dan Pemaaf, maka sesuatu yang dahsyat bila kita juga memberikan pengampunan dan pemaafan kepada siapa yg bersalah.

    Mari kita memahami secara utuh dari kekuasaan Allah, baik dalam wujud ayat-ayat qauliyah (wahyu dan firman) maupun ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda alam dan sekitar kita) untuk menjadi wasilah (penghubung) bagi manusia merenungi sekaligus memanivestasikan sifat-sifat Allah dalam prilaku keseharian.

    Takaran apa yang bisa dijadikan pedoman, pasca Ramadan agar diri dan jiwa kita tetap dalam radar Allah SWT? Kompetensi guna mengukur kadar dari perjalanan ruhani Ramadan, setidaknya terungkap dalam firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 132-134.

    Intinya, keteguhan untuk selalu taat kepada Allah dan Rasulnya menjadi pintu pembuka keberutunngan. Menjadi orang bejo. Langkah berikutnya, membuka cakrawala hati kita untuk segera merapat ke sinyal ampunan kepada Dzat Pengampun yang telah memberikan karunia pencipataan bumi-langit dan seisinya untuk hambaNya yang bertakwa.

    Siapa hamba Allah yang masuk kategori bertakwa? Yaitu yang memiliki jiwa derma (loman) dalam keadaan lapang maupun sempit. Kemudian, memiliki kemampuan mengendalikan diri dan tidak terlarut dalam hawa nafsu dan kecerobohan. Kunci penutup, membuka pintu maaf bagi manusia (hablun minannas).

    Kalau rentetan hidup kita telah menginventasikan harta benda, jiwa dan prilaku dalam totalitas maka tanpa susah payah, kita mampu mendepositokan kehidupan yang sangat menguntungkan di dunia dan diakhirat.

    Sebagaimana doa baginda Rasulullah, di akhir bulan Ramadan: “Yaa Allah! Janganlah Engkau jadikan puasa ini sebagai puasa yang terakhir dalam hidupku. Seandainya Engkau menetapkan sebaliknya, maka jadikanlah puasaku ini sebagai puasa yang dirahmati, bukan puasa yang sia-sia.”

    “Seandainya masih ada padaku dosa yang belum Engkau ampuni atau dosa yang menyebabkan aku disiksa karenanya, sehingga terbitnya fajar malam ini atau sehingga berlalunya bulan ini, maka ampunilah semuanya wahai Dzat Yang Paling Pengasih dari semua yang mengasihi.”

    “Yaa Allah! Terimalah puasaku dengan se-baik² penerimaan, perkenan, kemaafan, kemurahan, pengampunan dan keridhoan-Mu. Sehingga Engkau memenangkan aku dengan segala kebaikan, segala anugerah yang Engkau curahkan di bulan ini.”

    “Selamatkanlah aku dari bencana yang mengancam atau dosa yang berterusan. Demikian juga, dengan rahmat-Mu masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan (keutamaan) di Lailatul-Qadar. Malam yang telah Engkau tetapkan lebih baik dari seribu bulan.”

    “Semoga perpisahanku dengan bulan Ramadan ini bukanlah perpisahan untuk selamanya dan bukan juga pertemuan terakhirku. Semoga aku dapat kembali bertemu dgn Ramadan mendatang dalam keadaan penuh harapan dan kesejahteraan.” Aamiin ya rabbal ‘alamiin. (*)

    *) Penulis asalah Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jawa Timur

    Reporter :
    Penulis : H.S. Makin Rahmat
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan

    Untukmu Para Istri…

    Wahai Para Istri…

    Rahasia Kebahagiaan

    Amanah