Rabu, 23 Juni 2021
27 C
Surabaya
More
    Renungan PagiHari Kemenangan Itu Adalah "Idul Fitri"

    Hari Kemenangan Itu Adalah “Idul Fitri”

    Kajian Ramadhan, Diasuh Univ. Darul Ulum Jombang (26)

    Oleh Dr. H. Adul Ruf, M.Ag

    Marhaban ya Ramadlan, Marhaban ya shahra shiyam…

    Marhaban ya Ramadlan, Marhaban ya shahra al-Qur’an

    Marhaban  ya Ramadlan, marhaban ya shahra fihi Laylatul Qadri,

    Selamat menikmati tadarus al-Qur’an, kajian-kajian keagama Islam di bulan Ramadlan 1442H

    Selamat menikmati hari- hari penghabisan di bulan Ramadlan 1442H, detik-detik menuju finish kegiatan terakhir di  bulan Ramadlan 1442H..

    Selamat menikmati perburuan malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan..

    Selamat  mengencangkan ikat pinggang, selamat mengajak saudara-saudara kita untuk menghidupkan malam-malam penutupan bulan Ramadlan 1442H
    Semoga apa yang sedang dan akan kita lakukan selalu mendapat bimbingan dari Allah swt dan penuh dengan keberkahan….Amin ya Rabbal’alamin

    Setiap  menjelang akhir bulan Ramadlan ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh orang yang sedang menjalankan puasa sebagai penyempurna dari kegiatan-kegiatan di bulan Ramadhan diantara adalah; 

    1. Zakat Fitrah

     Zakat adalah satu rukun Islam, yang merupakan ibadah kepada Allah swt dan sekaligus merupakan amal social kemasyarakatan dan kemanusiaan dalam wujud mengkhususkan sejumlah harta atau nilainya dari milik perseorangan atau badan hukum untuk diberikan kepada yang berhak dengan syarat-syarat tertentu, untuk mensucikan dan mempertumbuhkan harta serta jiwa pribadi para wajib zakat, mengurangi penderitaan masyarakat seta meningkatkan pembangunan (Sumber-sumber penggalian zakat, Syekhul Hadi, 1994, 34).

    Zakat juga berasal dari kata “Zaka” yang berarti suci, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang. Dinamakan zakat karena, karena didalamnya terkandung harapan untuk memperoleh keberkahan, pembersihkan jiwa, dan pemupukan dengan berbagai kebaikan (Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq:5).

    Dalam Istilah Syara’, tamliku malin makhshushin limustahiqqihi bi syara’itha  makhshushatin (memberikan hak milik harta tertentu kepada orang tertentu yang berhak, dengan syarat-syarat tertentu). Zakat dibagi menjadi dua,yaitu Zakat Harta dan Zakat fitrah,  bisa disebut dengan Shadaqah al-Fithri, zakat Ramadlan, zakat al-Shaum atau Zakat al-Badan

    Mengeluarkan zakat fitrah bagi setiap muslim wajib hukumnya, berdasarkan hadits Rasulullah saw : 

    Pertama ; Ibnu Umar radliyallah ‘anhuma, ia berkata, Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebesar satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas orang merdeka dan budak, laki-laki dan perempuan, besar maupun kecil dari kaum muslimin. Dan beliau memerintahkan agar dikeluarkan sebelum orang-orang keluar menunaikan shalat (‘Iedul Fitri).” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Kedua : Dari Ibn ‘Abbas ra. Berkata, bahwa Kanjeng Nabi Muhammad saw mewajibkan zakat fithri sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan  yang tidak ada manfaatnya dan perkataan koto, sebagai hidangan bagi orang yang miskin, Barang siapa yang mengeluarkan zakat tersebt sebelum Sholat Idhul Fithri makazakatnya dihukumi sebagai zakat yang diterima oleh Allah sebagai zakat fitrah, dan Siapa yang mengeluarkannya setelah sholat idhul fitri, maka zakat tersebut dihukumi sebagai shodaqah seperti bentuk shodaqah-shodaqah yang ada  (HR. Abu Dawud,Ibnu Majah dan dibenarkan oleh al-Ahakim) 

    Diantara tujuan zakat fitrah adalah untuk membersihkan diri orang yang sedang menjalankan puasa Ramadlan dari “perkataan-perkataan” yang tidak berguna, kata yang mengandung unsur menyakiti perasaan orang orang-orang yang menyimaknya. Perkataan itu bersumbar dari mulut orang yang sedang berpuasa atau yang keluar dari “jari jemarinya” yang dimanfaatkan untuk menulis dan berkomunikasi dengan media online bersama orang-orang yang sedang menjalankan puasa, karena bisa jadi, seseorang menjalankan  puasa Ramadlan dengan  ‘uzlah’, menyendiri, social distancing, menjaga jarak dan memakai masker  untuk mengurangi komunikasi langsung dengan orang lain secara verbal, dan menggunkan media androidnya. 

    Dengan Zakat Fitrah yang sesuai dengan tuntunan syari’ah,  kita berharap puasa selama bulan Ramadlan 1442H ini bisa sempurna dan lebih baik dari puasa dibulan Ramadlan sebelumnya.

    Satu Riwayat Hadits Rasulullah saw tentang pentingnya pasrah dan menyerahkanm shodaqah, infak dan  zakat kita kepada para pengelola(panitia) zakat harta benda atau zakat fitrah, yang merupakan ibadah kepada Allah dan ibadah social. Hadits tersebut adalah : al-shodaqatu taqa’u fi yadi al-Rahman qabla an taqa’a fi kaffi al-Faqir : Sedekah (zakat) itu jatuh ditangan Allah swt yang maha Pengasihsebelum jatuh ketangan orang fakir”.

    Ibarat seorang Muzakki sedang menyerahkan zakatnya ke Panitia (‘Amil Zakat), pahalanya sudah ditulis oleh Allah swt, walapun distribusi barangnya masih menunggu dan belum sampai kepada orang-orang yang berhak menerimanya. 

    1. ‘Idul Fitri 

    Idul Fitri berasal dara bahasa arab yaitu ; ‘id dan al-fithri. Kata ‘id terambil dari kata ‘aad-ya’idu, ‘aad-ya’udu yang berarti kembali, kembali ketempat atau keadaan semula.

    Iniberarti bahwa sesuatu itukembali pada mulanya berada pada suatu keadaan, tempat, kemudian meninggalkan tempat atau keadaan itu, lalu kembali dalam arti ke tempat dan keadaan semula. Kata al-Fithru dalam bahasa arab berarti asal kejadian, agama yang benar, kesucian.

    Dalam pandangan al-Qur’an, asal kejadian manusia adalah bebas dari dosa dan suci, dan dalam salah satu sabda Kanjeng Nabi Muhammad Saw, : Tidak ada kelahiran bayi kecuali lahir dalam keadaan fitrah (muslim). Lalu kedua orang tuanya yang akan menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi. (HR. Muslim). 

    Makna al-fitrah juga merujuk pada keadaan manusia saat baru diciptakan (khilqah). Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an Surat al-Rum  ayat 30  Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah SWT ; (tetaplah atas) fitrah Allah SWT yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.”

    ‘Idul Fithri antara lain bermakna kembalinya manusia kepada keadaan sucinya,  atau keterbebasannya dari segala dosa dan noda sehingga dengan demikian ia dalam kesucian. Dosa-dosa manusia, kesalahan memang bisa mengakibatkan manusia bergeser untuk menjauh dari keadaan semula. Baik kedekatannya dengan al-Khaliq atau dengan al-makhluq

    Allah berfirman dalam surah al-Baqarah 02;185 ; “ dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah swt atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur

    Ungkapan rasa syukur setelah menyelesaikan ibadah Puasa Ramadlan dan melaksanakan zakat fitrah adalah melantukan kalimat takbir dan tahmid dalam rangka mengagungkan nama Allah yang telah memberikan anugerah bulan Ramadlan kepada orang-orang yang beriman dan melaksanakan dengan selalu mengharapkan pahala dari Allah swt semata. 

    Sholat ‘Idul Fitri pada tanggal 01 Syawwal merupakan bentuk ungkapan rasa syukur orang-orang yang beriman yang telah telah menjalankan puasa Ramadlan selama satu bulan, dengan berbagai rintangan dan godaan, dengan selalu melantunkan kalimat Takbir dan Tahmid mulai terbenamnya matahari di akhir bulan Ramadlan. 

    Sayyidah ‘Aisyah ra berkata, bahwa Kanjeng Nabi Muhammad saw bersabda: ‘idul fithri adalah waktunya orang-orang berbuka puasa, dan idhul adha adalah waktunya orang-orang berkorban (HR al-Tirmidzi).

    1. Kosong-kosong

    Ungkapan kosong-kosong seringkali diungkapkan oleh seseorang yang ingin mengungkapkan pemberian ma’afnya kepada orang lain sebelum ia memohon ma’af atas dosa yang pernah ia lakukan, sebab Allah berfirman dalam Q.S al-Taghabun 64;14) : “Apabila kamu mema’afkan dan melapangkan dada serta melindungi, sesunggahnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang “ 

    Makna melapangkan dada (al-Shafh) yang sering diartikan dengan saling berjabatan tangan (al-Mushafahah), bisa jadi pada saat pandemic Covid -19 ini , kita mencoba untuk mengembalikan ke makna saling melapangkan dan meluaskan dada (legowo-jw) untuk saling mema’afkan kesalahan walaupun tidak selalu dengan berjabatan tangan. 

    Minal ‘Aidin wal Faizin, mohon ma’af lahir dan bathin

    Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya Karim, fii kulli ‘amin wa antum bikhairin ..

    Semoga kita dimasukkan oleh Allah swt golongan orang-orang yang selalu istiqamah dalam beribadah, orang-orang yang kembali fitrah dan orang-orang yang beruntung (Ashabul jannati hum al-FaizunPenghuni Surga adalah orang-orang yang beruntung) Q.S.03;185. Amin ya rabbal’Alamin…(Penulis adalah Dosen Pasca Sarjanan Magister Agama Islam Universitas Darul Ulum Jombang//email : [email protected]

    Reporter :
    Penulis : Dr. Abdul Rouf, M.Ag
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan

    Untukmu Para Istri…

    Wahai Para Istri…

    Rahasia Kebahagiaan

    Amanah